Pencarian populer

3 Reaksi Jokowi Tegur Bos PLN soal Listrik Mati

Suasana saat Jokowi melakukan kunjungan ke Kantor Pusat PLN untuk meminta penjelasan soal mati listrik massal. Foto: Dok. Biro Pers Setpres
Presiden Joko Widodo menyambangi kantor pusat PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN pada Senin (5/8). Kedatangannya untuk mengkonfirmasi mati listrik massal di Jabodetabek, Banten, serta sebagian Jawa Tengah dan Jawa Barat.
ADVERTISEMENT
Akibat pemadaman listrik sejak Minggu (4/8) itu, traffic light di jalan raya tak berfungsi, jaringan sejumlah provider telekomunikasi tumbang, hingga transportasi massal seperti MRT, KRL Jabodetabek, KA Bandara, dan LRT Jakarta terganggu.
Berikut 3 reaksi Jokowi saat mengunjungi kantor pusat PLN yang dirangkum kumparan:
Tak Ada Senyum
Hadir di kantor pusat PLN pada pukul 08.50 WIB, tak ada senyum yang terlihat di wajah Jokowi. Kondisi ini tidak biasa karena Jokowi dalam setiap kunjungannya kerap menebar senyum.
Begitupun saat menyampaikan pernyataan maupun pertanyaan kepada manajemen PLN, Jokowi cenderung lebih banyak mengernyitkan dahi.
"Pagi hari ini saya datang ke PLN. Pertama saya ingin mendengar langsung peristiwa pemadaman total minggu kemarin. Dan dalam sebuah manajemen besar seperti PLN mestinya, menurut saya, ada tata kelola risiko yang dihadapi, tentu saja ada contigency plan, ada back up plan," kata Jokowi.
ADVERTISEMENT
Dia meminta jajaran direksi PLN agar menjelaskan secara sederhana namun bisa membuat semua pihak mengerti, soal penyebab mati listrik massal.
"Saya ingin mendengar langsung, tolong disampaikan yang simpel-simpel saja. Kemudian kalau ada hal yang kurang ya blak-blakan saja. Sehingga bisa diselesaikan dan tidak terjadi lagi untuk masa masa yang akan datang," jelasnya.
Mendengar pernyataan Jokowi tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Dirut PLN, Sripeni Inten Cahyani, segera menjelaskan panjang lebar masalah yang sempat membuat ibu kota lumpuh tersebut.
Namun, jawaban Sripeni tak membuat Jokowi berpuas diri begitu saja. Dia terlihat menahan emosi sembari menilai, penjelasan tersebut cukup panjang namun tak cukup jelas memberi jawaban.
Tak berapa lama dari acara diskusi tersebut berlangsung, Jokowi bersama rombongan lantas bergegas pergi. Dengan wajah datar dan dahi yang berkerut, dia menolak untuk memberikan keterangan pers terkait kunjungan ke PLN.
ADVERTISEMENT
Penanganan PLN Dinilai Lambat
Pada pertemuan dengan direksi PLN, Jokowi menilai penanganan padamnya listrik di sejumlah wilayah tergolong lambat. Sebab lebih dari 24 jam, persoalan itu tak kunjung tuntas. Jokowi pun menyayangkan.
"Pertanyaan saya, kenapa itu tidak bekerja dengan cepat dan dengan baik?" tegas Jokowi.
Menanggapi hal itu, Pelaksana Tugas Direktur Utama PLN, Sripeni Inten Cahyani, mengaku penanganan insiden pemadaman listrik ini memang lambat. Saat ini, menurut dia, proses normalisasi pasokan masih terus berjalan.
"Memang kami mohon maaf prosesnya lambat, kami akui. Kemudian upaya yang dilakukan PLN adalah memaksimalkan bagaimana perbaikan atau proses transfer dari timur ke barat tetap berjalan," katanya.
Suasana saat Jokowi melakukan kunjungan ke Kantor Pusat PLN untuk meminta penjelasan soal mati listrik massal. Foto: Dok. Biro Pers Setpres
Jokowi Sayangkan Kejadian 17 Tahun Lalu Berulang
Jokowi menyayangkan kejadian tahun 2002, yang juga terjadi mati listrik massal, kembali terulang di tahun 2019. Adapun pada tahun 2002, listrik padam terjadi selama 2 hari di beberapa daerah di Jawa-Bali.
ADVERTISEMENT
"Saya tahu peristiwa seperti ini pernah kejadian di tahun 2002, (itu) 17 tahun lalu untuk Jawa dan Bali. Mestinya itu bisa dipakai sebuah pelajaran kita bersama jangan sampai kejadian yang sudah pernah terjadi, kembali terjadi," kata Jokowi.
Baginya, apa yang sudah terjadi tak hanya memberi dampak buruk bagi PLN semata, tapi banyak pihak lain ikut dirugikan. Jokowi menyebut kerugian yang dialami MRT saat insiden mati lampu.
"Saya tahu ini tidak hanya bisa merusak reputasi PLN, namun banyak hal di luar PLN terutama konsumen sangat dirugikan. Pelayanan transportasi umum sangat berbahaya sekali, MRT misalnya," jelasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.86