kumparan
22 Mar 2019 6:32 WIB

Banjir dan Kekeringan, RI Salah Satu Negara Paling Berisiko dengan Air

Warga mengambil air dari dasar sungai Cipamingkis yang kering di Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (2/8). Foto: ANTARA FOTO/Arif Firmansyah
Laporan yang disusun Economist Intelligence Unit atau EUI mengungkapkan, Indonesia sebagai salah satu negara yang paling berisiko mengalami krisis air. Laporan tersebut disusun EUI, bersamaan dengan peringatan Hari Air Sedunia, yang jatuh pada 22 Maret 2019 hari ini.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan laporan itu, Indonesia ada di urutan keempat dari sepuluh negara teratas untuk populasi yang berisiko terhadap kerawanan air. Kesimpulan ini ditarik berdasarkan indeks air dan sanitasi, yakni total populasi yang belum memiliki sanitasi.
Selain itu, Indonesia juga berada di peringkat enam dalam indeks banjir, yakni potensi populasi terkena banjir.
Penelitian dan survei yang disponsori oleh industri pangan global berbasis di Amerika Serikat, Cargill, juga menyebut Indonesia sebagai salah satu negara yang relatif kaya air, namun kini menghadapi krisis air karena manajemen pengelolaan yang kurang baik.
“Kelangkaan air menjadi tantangan besar di Indonesia. Seperti negara lain di Asia, tantangannya adalah mengikuti permintaan akan pasokan air seiring dengan pertumbuhan populasi dan gaya hidup dalam perubahan pola makan,” kata Direktur Corporate Affairs Cargill Indonesia, Arief Susanto, melalui pernyataan tertulis yang diterima kumparan, Kamis (21/3) malam.
Suasana banjir yang melanda sejumlah daerah di Jawa Timur. Foto: Dok. Kapusdatin BNPB Sutopo Purwo Nugroho
“Belum lagi bencana terkait air yang terjadi di Indonesia. Oleh karena itu dibutuhkan partisipasi penuh dari semua pihak, mulai dari pemerintah, perusahaan, dan masyarakat dalam mengatasi hal ini,” imbuhnya.
ADVERTISEMENT
Kesimpulan umum dari laporan ini, juga mengungkapkan, kelangkaan air dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi Asia. Sebanyak 90 persen responden dari industri pangan dan pertanian di Asia setuju dengan pandangan ini.
Kekhawatiran tentang kelangkaan air paling akut, terjadi di Indonesia dan Filipina. Sebanyak 67 persen responden di kedua negara tersebut, sangat setuju bahwa kelangkaan air dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.
Angka itu jauh lebih tinggi, dibandingkan dengan 43 persen di Singapura, 44 persen di Thailand, dan 60 persen di India.
Warga melintasi jalan lama penghubung Kecamatan Eromoko dengan Baturetno di area Waduk Gajah Mungkur yang mengalami penyusutan debit air akibat kemarau di Wonogiri, Jawa Tengah, Selasa (4/9). Foto: ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha
Proyeksi menunjukkan bahwa 40 persen negara-negara berkembang di Asia akan menghadapi masalah krisis air yang kritis pada tahun 2030. Keadaannya mengarah pada kesenjangan yang menganga antara pasokan dan kebutuhan air.
Laporan berjudul Liquidity Premium adalah bagian kedua dari penelitian Fixing Asia’s Food Systems. Penelitian ini pertama kali dirilis pada September 2018 dan meneliti berbagai isu seputar sistem pangan di Asia.
ADVERTISEMENT
Program penelitian yang terdiri dari lima bagian ini dibuat berdasarkan survei terhadap 820 pemimpin industri di wilayah Asia, termasuk desk research dan wawancara dengan berbagai pakar.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan