kumparan
24 Jun 2019 17:02 WIB

Benarkah Bisnis Ritel Mulai Lesu? Yuk Intip Kinerja Keuangannya

Suasana pengunjung berbelanja di Supermarket Giant Ekspres Mampang Prapatan, Jakarta, Minggu (23/6). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Kabar tak sedap kembali muncul dari sektor ritel. Tutupnya enam gerai ritel modern, Giant, memunculkan pertanyaan besar tentang nasib bisnis ritel ke depan. Sebab dalam dua tahun terakhir, bisnis ritel mulai berguguran.
ADVERTISEMENT
Beberapa ritel yang lebih dulu gugur adalah 7 Eleven, Matahari, GAP, Lotus, Debenhams, Clarks, Dorothy Perkins, New Look, Central Departemen hingga Ramayana. Sebelumnya Giant juga telah menutup 26 gerai pada awal 2019.
Lantas bagaimana sesungguhnya kinerja perusahaan ritel saat ini?
Giant adalah bagian dari PT Hero Supermarket Tbk (HERO). Kinerja keuangan HERO memang tercatat tengah lesu.
Mengutip laporan keuangan kuartal I 2019, HERO mencatatkan pendapatan bersih Rp 3,06 triliun. Angka ini naik tipis 0,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun secara keseluruhan, perseroan masih menderita rugi bersih sebesar Rp 3,52 miliar. Meski demikian, jumlah ini membaik dibandingkan kuartal I 2018. Kala itu, perseroan menderita rugi sebesar Rp 4,13 miliar.
Sejumlah pengunjung berbelanja di Supermarket Giant Ekspres Mampang Prapatan, Jakarta, Minggu (23/6). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Penjualan HERO justru disokong dari segmen non-makanan yang naik 21 persen menjadi sebesar Rp 715 miliar. Di segmen ini, HERO mengandalkan Guardian dan IKEA. Laba usaha untuk segmen tersebut adalah sebesar Rp 79 miliar.
ADVERTISEMENT
Meski demikian, kenaikan penjualan di segmen non-makanan tidak sebanding dengan nilai penurunan di segmen makanan. Untuk segmen makanan, penjualan HERO turun 5 persen dengan nilai mencapai Rp 2,345 triliun.
Dalam keterbukaan informasi perseroan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Presiden Direktur HERO Patrik Lindvall mengatakan, penjualan makanan yang turun 5 persen tersebut dipengaruhi oleh peluncuran rencana konsolidasi toko yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas dan profitabilitas.
“Bisnis makanan mencatat kerugian operasi sebesar Rp 64 miliar di luar biaya-biaya Perseroan yang tidak dialokasikan, dibandingkan dengan Rp 87 miliar pada periode yang sama tahun lalu," tulis Patrik dalam Keterbukaan Informasi BEI, Senin (24/6).
Jika dilihat dari performanya, bisnis HERO sepertinya akan beralih ke segmen non-makanan. Sebab, di tengah tutupnya beberapa gerai Giant, HERO tetap berekspansi untuk membangun gerai baru IKEA di Jakarta Garden City.
GAP di Grand Indonesia (Ritel yang akan tutup). Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan
Selain HERO, emiten ritel lainnya PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) juga mencatat penurunan penjualan di kuartal I 2019.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan laporan keuangan MAPI di kuartal I 2019, pendapatan bersih naik 8,4 persen year on year (yoy) menjadi Rp 4,7 triliun. Namun laba bersih justru turun sebesar 52 persen dari Rp 351 miliar di kuartal I 2018 menjadi Rp 167 miliar di kuartal I 2019.
Kinerja MAPI sejauh ini masih ditopang oleh speciality store yang berkontribusi ke pendapatan kuartal I 2019 sebanyak Rp 3,3 miliar. Meski laba bersih mengalami penurunan, namun MAPI masih tampak confidence dengan bisnis ritel. Buktinya per Maret 2019, MAPI telah menambah 67 gerai baru.
Anak usaha MAPI di bidang makanan minuman, PT MAP Boga Adiperkasa Tbk (MAPB) juga mencatatkan kinerja yang kurang menggembirakan pada kuartal I 2019. Tekanan kurs membuat laba bersih perusahaan terkoreksi sebesar 22,9 persen menjadi Rp 24,89 miliar dari periode sebelumnya Rp 32,30 miliar.
ADVERTISEMENT
Perseroan membukukan penjualan sebesar Rp 699,16 miliar pada kuartal I 2019. Angka tersebut naik 17 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 597,38 miliar. Laba kotor tercatat naik 14,1 persen menjadi Rp 493,05 miliar dari tahun sebelumnya Rp 432,07 miliar. Sedangkan laba usaha terkoreksi sebesar 24,3 persen menjadi Rp 34,40 miliar, dari tahun sebelumnya Rp 45,47 miliar. 
Sejauh ini, Starbucks masih memberikan kontribusi paling besar terhadap pendapatan perseroan, yakni sebesar 65 persen. Selebihnya dikontribusikan oleh makanan di bawah grup MAPB sebesar 28 persen. Sedangkan sebesar 7 persen lainnya disumbang dari merek dagang seperti Pizza Marzano, Krispy Kreme, Paul, Genki Sushi, Godiva dan Coldstone.  MAPB tahun ini mengalokasikan belanja modal hingga Rp 300 milliar untuk membangun 60 gerai Starbucks baru dan 10 unit gerai bisnis yang terafiliasi dengan MAPB.
Ilustrasi memilih sepatu Asics. Foto: Dewi Rachmat Kusuma/kumparan
Sedangkan untuk anak usaha MAPI, PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) justru mencatatkan pertumbuhan yang positif sepanjang kuartal I 2019. Pendapatan bersih pemasok kebutuhan olahraga tersebut naik 14,68 persen menjadi sebesar Rp 1,51 triliun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1,32 triliun.
ADVERTISEMENT
Laba usaha juga meningkat 23,3 persen menjadi Rp 197 miliar. Sedangkan laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 46,19 persen menjadi Rp 141,22 miliar. Same store sales growth (SSSG) di kuartal I 2019 meningkat 8 persen didorong oleh pertumbuhan di segmen sports dan kids.
Matahari Store di Pasaraya Blok M Foto: Ainul Qalbi/kumparan
Emiten ritel lainnya, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) mencatatkan kinerja yang kurang baik sepanjang kuartal I 2019. LPPF membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 1,93 triliun sepanjang kuartal I 2019. Angka tersebut turun 1,74 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,96 triliun. Laba bersih perseroan juga anjlok 42,24 persen menjadi Rp 142,51 miliar dibanding kuartal I 2018 sebesar Rp 246,74 miliar.
ADVERTISEMENT
Sedangkan dari sisi penjualan, perseroan mencatatkan penjualan kotor sebesar Rp 3,32 triliun. Angka ini juga turun 1,5 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 3,37 triliun. Selain itu, Same store sales growth (SSSG) juga turun 1,7 persen secara year on year.
Matahari saat ini mengoperasikan 161 gerai di 75 kota di seluruh Indonesia, setelah membuka 1 gerai format besar baru di Bandung, Jawa Barat dan 1 specialty store di Surabaya, Jawa Timur pada April 2019.
Kasir Alfamart Foto: Aprilandika Pratama/kumparan
Di sisi lain, emiten ritel PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) juga mencatatkan kinerja positif pada kuartal I 2019. Laba bersih AMRT mencapai Rp 202 miliar, naik 67 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 121 miliar.
ADVERTISEMENT
Pendapatan pengelola toko ritel Alfamart ini tercatat sebesar Rp 16,72 triliun, naik 14 persen dibanding kuartal I 2018 sebesar Rp 14,68 triliun. Pendapatan terbesar diperoleh dari penjualan produk makanan sebesar Rp 12,35 triliun. Sedangkan penjualan produk non-makanan turun tipis menjadi Rp 4,36 triliun dari sebelumnya Rp 4,98 triliun.
Hingga kini total gerai perseroan dan entitas anak adalah sebanyak 15.294 gerai, terdiri dari 13.679 gerai perseroan dan 1.615 gerai entitas anak. Sebanyak 33 persen gerai tersebar di Jabodetabek, 37,6 persen berada di wilayah Jawa non-Jabodetabek, dan 29,4 persen lainnya berada di luar Pulau Jawa.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·