BI Sudah Kucurkan Rp 15 Triliun untuk Stabilkan Rupiah

Bank Indonesia (BI) telah mengucurkan Rp 15 triliun untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sejak awal tahun ini. Hal ini dilakukan dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah.
“Sudah Rp 15 triliun year to date (ytd). Kemarin saja, BI sudah membeli Rp 1,25 triliun di pasar sekunder,” kata Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI, Nanang Hendarsah, di Gedung B BI, Jakarta, Jumat (22/6).
Nanang mengatakan, bank sentral melakukan intervensi di pasar sekunder hanya pada waktu tertentu, yakni hanya saat kondisi rupiah tertekan.
“Kalau pasarnya sedang tertekan, terjadi outflow, baru kami masuk. Tidak bisa masuk begitu saja di sekunder,” jelasnya.
Nanang mengatakan BI akan tetap melanjutkan lelang foreign exchange (fx) swap sebanyak tiga kali seminggu untuk memastikan kebutuhan likuiditas valuta asing (valas), khususnya dolar AS tercukupi. Dengan likuiditas valas yang tercukupi, hal ini bisa meminimalisir permintaan dolar AS, sehingga rupiah bisa lebih stabil.
"Kan untuk pemenuhan likuiditas rupiah perbankan bisa melalui repo, bisa melaui interbank PUAB (pasar uang antarbank), bisa melaui fx swap, fx swap itu terutama bank-bank asing. Jadi lebih kepada untuk liquidity management," jelasnya.
Sebelum cuti bersama Lebaran, kurs rupiah tercatat sebesar Rp 13.902/USD pada Jumat (8/6). Namun dua pekan kemudian, rupiah sudah mencapai Rp 14.090/USD. Pada Kamis (21/6) dan hari ini mencapai Rp 14.102/USD.
Adapun selama awal tahun hingga saat ini, rupiah melemah 2,3% terhadap dolar AS. Meskipun demikian, kondisi tersebut masih dinilai lebih baik dibandingkan dengan negara peers lainnya, seperti rupee India yang melemah 6,7% (ytd), real Brasil melemah 12,8% (ytd), dan lira Turki melemah 20% (ytd).
