kumparan
16 Sep 2019 18:28 WIB

Bulog: Impor Daging Sapi dari Brasil Tak Mungkin Terealisasi Tahun Ini

Jangan mencairkan daging sapi dengan air Foto: Pixabay
Pemerintah dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) pada Agustus 2019 memutuskan akan mengimpor sebanyak 50 ribu ton daging sapi Brasil. Dengan rincian, Perum Bulog ditugaskan mengimpor sebanyak 30 ribu ton daging sapi, PT Berdikari (Persero) sebanyak 10 ribu ton, dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia atau PPI (Persero) sebanyak 10 ribu ton.
ADVERTISEMENT
Direktur Pengadaan Perum Bulog, Bachtiar, menyebut impor ini tak bisa dilakukan hingga akhir tahun. Pasalnya, hingga saat ini pihaknya masih menunggu rekomendasi teknis dari Kementerian Pertanian (Kementan).
“Kalau rekomtek sudah keluar baru saya tindak lanjut untuk ajukan impor ke Kemendag. Kemudian isi sistem, lalu baru Persetujuan Impor (PI) keluar. Setelah PI keluar, kita masih harus adakan tender lagi untuk menentukan perusahaan-perusahaan mana yang bisa ekspor daging ke Indonesia,” katanya saat dihubungi, Senin (16/9).
Setelah itu, harus dilakukan proses bidding dan negosiasi harga dengan pemasok daging sapi dari Brasil. Jika harga sesuai, maka pihaknya akan menandatangani perjanjian jual beli.
Di sisi lain, proses pengiriman daging sapi asal Brasil memakan waktu hingga 45 hari perjalanan. “Ini masih baru di jalan saja ya butuh waktu 45 hari. Takutnya ini (impor) terjadi lintas tahun (hingga tahun depan),” tambahnya.
ADVERTISEMENT
Selain itu, lanjutnya, proses pengiriman daging tidak bisa lebih dari 30 ribu. Sebab, cold storage atau gudang penyimpanan daging di dalam negeri diketahui masih kurang.
Bachtiar mengatakan, untuk menampung sekitar 50 ribu ton daging sapi butuh sekitar minimal 50 unit cold storage.
“Kalau 50 unit cold storage itu, per unit nya mampu menampung hingga 1.000 ton daging. Paling enggak butuh 30 unit lah, makanya kalau datang sekaligus semua dagingnya enggak mungkin. Mau disimpan di mana? Kalau rekomendasinya bisa sekaligus, tapi datang barangnya bertahap,” tutupnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan