kumparan
26 Agu 2019 17:56 WIB

Cerita Mahasiswa RI Ubah Limbah Tekstil Soreang di SCG ASEAN Camp

Mahasiswa Indonesia dan mahasiwa dari 6 negara lainnya mengumandangkan “Save Our World” dalam SCG SD Symposium 2019 di Bangkok, Thailand. Foto: Ema Fitriyani/kumparan
Sebanyak sepuluh orang mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia mengikuti Siam Cement Group (SCG) ASEAN Camp 2019 di Bangkok, Thailand. Mereka merupakan peserta terpilih yang berhasil mengikuti program beasiswa Sharing the Dream yang mengedepankan pemanfaatan limbah jadi ekonomi atau circular economy.
ADVERTISEMENT
Kesepuluh mahasiswa ditantang untuk mengubah sampah menjadi sesuatu yang berharga, bisa diolah bahkan menjadi nilai ekonomi. Mereka tergabung dalam MIRACLE dengan nama proyeknya Retote Project dengan bimbingan dari PT SCG Indonesia.
Okta Widiawanti, salah satu perwakilan MIRACLE mengatakan mereka memutuskan untuk mengolah limbah tekstil yang ada di Kampung Padasuka, Soreang, Bandung, Jawa Barat. Dipilihanya limbah-limbah tersebut karena selama ini dibakar begitu saja.
Masalahnya, limbah yang dibakar terbilang banyak, mencapai 22 ton per hari. Padahal, kata mahasiswi asal UIN Bandung ini, limbah-limbah tekstil tersebut bisa diolah lagi menjadi barang berguna, salah satunya menjadi tas daur ulang yang trendy seperti totebag.
"Ini jadi keresahan ke kami karena sampah ini belum terpikirkan. Kita ingin jadi lebih berguna lagi," kata dia saat ditemui diajang SCG Suistainable Development Symposium 2019 di Central World, Bangkok, Thailand, Senin (26/8).
Mahasiswa Indonesia dan mahasiwa dari 6 negara lainnya mengumandangkan “Save Our World” dalam SCG SD Symposium 2019 di Bangkok, Thailand. Foto: Ema Fitriyani/kumparan
Okta yang akrab dipanggil Atha mengutarakan, kelompok mereka memulai proyek ini sejak 20 Mei 2019 dengan survei lokasi terlebih dahulu. Lokasi yang dipilih pernah menjadi tempat Kuliah Kerja Nyata (KKN) Atha selama sebulan.
ADVERTISEMENT
Dia menceritakan, untuk mendekati warga di sana agar limbah tekstil tidak begitu sulit. Sebab, pada dasarnya mereka juga ingin sampah-sampah dari potongan pakaian ini bisa dimanfaatkan lagi tapi tidak tahu caranya.
Kata Atha, hampir semua rumah di Padasuka, Soreang memiliki mesin jahit. Jadi, memang limbah tektstil rumah yang dihasilkan setiap hari sangat banyak. Umumnya konveksi mereka adalah baju-baju gamis.
"Tadinya (limbah) dibakar tiap subuh-subuh. Mereka ada patungan tiap minggu untuk bayar mobil angkut lalu ada wilayahnya buat bakar. Itu jadi keresahan kami juga sih, kita pikir itu bisa bahaya karena tiap hari dibakar. Mereka bilang 'kita cuma tahu sampah itu dibakar aja'. Mereka ingin memberdayakan sampah tapi enggak tahu caranya," lanjut dia.
Mahasiswa dari Indonesia mengikuti SCG SD Symposium 2019 di Bangkok, Thailand. Foto: Ema Fitriyani/kumparan
Secara teknis, totebag ini diproduksi dengan memilah limbah yang ada. Kata Setiawan Novaldi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), pemisahan limbah tekstil didasarkan pada bahan dan ukurannya.
ADVERTISEMENT
Untuk potongan yang agak besar dan masih layak, bisa digunakan jadi bahan totebag. Tapi, jika ada limbah baju yang kurang layak bisa dicacah lebih kecil lalu disolidkan menjadi lebih kecil lagi untuk jadi isian bantal dan sofa.
"Kalau yang masih layak, kita kerja dengan sadari sedari dan kerja sama dengan artis juga," ucapnya.
Setiawan menjelaskan, proyek pengolahan limbah tekstil ini memang belum diproduksi massal. Tapi kelompok mereka punya mimpi bahwa proyek ini bisa terus jalan, tidak hanya karena difasilitasi oleh beasiswa dari SCG.
Karena itu, kata dia, mereka pun tengah membuat kajian agar totebag dan produk olahan limbah lainnya bisa dibikin lebih menarik sehingga punya nilai jual tinggi.
Mahasiswa dari Indonesia mengikuti SCG SD Symposium 2019 di Bangkok, Thailand. Foto: Ema Fitriyani/kumparan
Dalam proyek ini, MIRACLE punya seorang program manager bernama Afyan Cholil Asy'ri dari ITB. Dengan latar belakang bisnis management di kampus, Afyan mengaku tentang memikirkan keberlansungan proyek mereka, termasuk menjual totebag ini.
ADVERTISEMENT
"Saat ini masih kajian (harganya dijual di Indonesia). Di Thailand sudah ada nih sekitar Rp 50.000 ke Rp 100.000. Karena itu kita harus lebih detail lagi nih, butuh berapa lama buat itu, bahannya apa saja, itu masih kajian lagi," kata dia.
Dia bilang, jika proyek ini bisa dikomersilkan, bisa membantu perekonomian di Soreang. Jadi para karang taruna di sana bisa menjualnya sendiri. Untuk jangka panjang, mereka berharap bisa kembali mengolah limbah di kota lainnya jadi sesuatu yang berharga.
Selain Indonesia, SCG ASEAN Camp ini diikuti oleh negara lainnya di Asia Tenggara, seperti Vietnam, Myanmar, Kamboja, Filipina, Laos, dan Thailand. Mereka masing-masing membuat proyek untuk perubahan di negaranya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan