Curhatan Anak SMP ke Sri Mulyani, Takut Dosa Masuk Gereja

Kementerian Keuangan mengadakan program "Seminggu Bersama Keluarga Kemenkeu" atau SBKK untuk para siswa dan siswi SMP. Para pelajar yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia tersebut diseleksi untuk tinggal bersama pejabat eselon I dan II Kemenkeu yang berbeda kepercayaan.
Pada Jumat kemarin, Sri Mulyani dan jajaran Kementerian Keuangan bertemu dengan para siswa yang ikut dalam program SBKK dan SabangMerauke, yang melakukan program toleransi kepada para siswa. Sri Mulyani kemudian meminta peserta menceritakan pengalamannya.
Salah seorang siswi asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, Iliyatul, menceritakan pengalamannya kepada Sri Mulyani selama mengikuti program tersebut. Pelajar kelas IX SMP yang beragama Islam itu menceritakan sebelum mengikuti program SabangMerauke, dia percaya bahwa mendatangi gereja sama saja seperti dipaksa keluar agama Islam.
"Itu dulu saya diberitahu, kalau datang ke gereja itu sama saja keluar Agama Islam," kata Iliyatul di Gedung BPPK, Kemenkeu, Jakarta, Jumat (13/7).
(Ralat: Mengutip penjelasan Kemenkeu, Iliyatul merupakan peserta dari program Seminggu Bersama Keluarga Kemenkeu (SBBK) dan berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Setelah ditelusuri, Iliyatul ternyata merupakan peserta dari program SabangMerauke dan berasal dari Bulukumba. Kami memohon maaf atas ketidakcermatan.)
Namun selama mengikuti program tersebut, Iliya tinggal bersama pejabat Kemenkeu yang bernama Yustinus, seorang yang beragama Katolik. Dia mengaku sempat ragu untuk tinggal bersama keluarga yang bukan muslim.
"Saya waktu itu diajak ke gereja untuk melihat bagaimana mereka menjalankan ibadahnya. Tapi setelah saya lihat sendiri, tidak seperti itu. Mereka menjalankan ibadahnya seperti biasa," jelasnya.
"Pak Yustinus dan keluarga juga baik sama saya selama tinggal di rumah dia. Jadi ketakutan saya dulu tidak benar. Saya jadi tahu sekarang, tidak benar kalau ke gereja itu dipaksa keluar dari Islam," tambahnya.
Sri Mulyani pun menanggapi hal tersebut dengan senyuman dan bertanya kepada Iliyatul. "Terus yang bikin kamu kok kayaknya gampang banget, kayak naruh botol minum, apa yang bikin kamu enggak takut lagi kalau ke gereja sama kayak dipaksa keluar dari Islam?" tanya Sri Mulyani.
Iliyatul menjawab "Karena saya cinta Tanah Air. Kita semua harus bersatu," tambahnya.
Dalam program ini, para siswa dan siswi tinggal di rumah pejabat eselon I atau II Kemenkeu selama seminggu yang berbeda kepercayaan dengan mereka. Tujuannya untuk saling menghargai dan mencintai perbedaan.
