kumparan
30 Agu 2019 17:17 WIB

Didesain Tahan Gempa 9 SR, MRT juga Dijanjikan Bebas Mati Listrik

Pintu depan MRT yang dibuka untuk mengevakuasi penumpang yang terjebak di track saat mati listrik terjadi. Foto: Dok. MRT
Layanan transportasi massal di ibu kota, yakni MRT Jakarta, sempat terganggu pada awal Agustus 2019. Dua peristiwa besar itu adalah gempa bumi bermagnitudo 6,9 Skala Richter (SR) pada 2 Agustus pukul 19.05 WIB dan mati listrik massal tanggal 4 Agustus yang terjadi mulai pukul 11.48 WIB.
ADVERTISEMENT
Perjalanan MRT terhenti 5 menit pada saat gempa, sementara layanan kereta berhenti selama 8 jam saat mati listrik massal. Menjawab 2 peristiwa besar itu, Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar menjelaskan, soal isu ketahanan konstruksi menghadapi gempa dan pencegahan mati listrik massal.
Pertama, William menyebut prasarana dan sarana MRT Jakarta dirancang untuk menghadapi gempa berkekuatan maksimal 9 SR. Desain itu merujuk pada catatan gempa selama 1.000 tahun yang pernah terjadi di Jakarta dan sekitarnya.
"Kita dengan siklus kegempaan 1.000 tahun. Kita desain (untuk hadapi gempa) 9 SR," kata William kepada kumparan dalam program The CEO kumparan di Kantor Pusat MRT Jakarta, Wisma Nusantara, Jakarta Pusat, Rabu (7/8).
William menambahkan, infrastruktur MRT seperti jalur bawah tanah dan layang juga diperkuat selama pembangunan. Penguatan dilakukan mengikuti standar kegempaan terbaru setelah peristiwa gempa dan tsunami dahsyat di Aceh pada tahun 2004.
ADVERTISEMENT
"Jadi dimensi-dimensi konstruksi kita tingkatkan. Kemarin setelah gempa kita cek aman," tambahnya.
Peristiwa kedua adalah dampak blackout yang menimpa Jakarta dan kota-kota lain di sekitarnya. Sebagai pelanggan premium, MRT sudah dijanjikan PT PLN (Persero) untuk mendapat pasokan listrik baru agar peristiwa 4 Agustus kemarin tak terulang.
Dirut MRT Jakarta, William Sabandar. Foto: Helmi Afandi/kumparan
Selama ini, operasional MRT Jakarta dipasok oleh 2 jaringan listrik PLN. Ketika satu jaringan terganggu, jaringan satunya memberikan backup. Namun kedua jaringan tidak dapat mengaliri listrik pada tanggal 4 Agustus sehingga perjalanan kereta MRT Jakarta harus berhenti.
William menyebut PLN sudah bertemu pihaknya. PLN akan memberikan backup pasokan listrik ketiga, yakni dari jaringan PLTD Senayan yang sedang dibangun. PLTD berkapasitas 150 MW akan mulai menjadi backup pasokan listrik MRT pada September 2019.
ADVERTISEMENT
"September katanya jadi dia bilang (PLTD Senayan 150 MW beroperasi). September ya jadi September, mudah-mudahan antara Agustus sampai September enggak ada mati lagi," tuturnya William.
Saat peristiwa blackout 4 Agustus, fasilitas genset milik MRT Jakarta hanya berfungsi mendukung proses evakuasi. Layanan listrik mengalir sepanjang jalur evakuasi. Sebaliknya, genset tidak dirancang untuk menjalankan kereta secara normal bila pasokan listrik PLN terhenti.
William menyebut membangun fasilitas genset untuk menggerakkan kereta dan fasilitas MRT lainnya sangat mahal.
Evakuasi penumpang MRT yang mogok akibat mati listrik. Foto: Dok. MRT
"Kita bikin genset sendiri 65 MW enggak mungkin. Ini kan perusahaan yang mahal sekali kalau memang harus membuat pembangkit listrik khusus," sebutnya.
Akibat mati listrik sekitar 8 jam, MRT Jakarta mengalami kerugian Rp 507 juta karena kehilangan potensi pendapatan atau setara 52.898 orang pada hari tersebut. MRT Jakarta harus menanggung kerugian non-material berupa turunnya angka ketapan waktu (On Time Performance/OTP). Sebelum kejadian mati lampu massal, OTP MRT Jakarta mencapai 100 persen. William mengaku pihaknya mengajukan kompensasi ke PLN atas kerugian kemarin.
ADVERTISEMENT
"Surat kami ke PLN selain menyesalkan, kami juga meminta tanggung jawab," sebutnya.
Dari 2 peristiwa besar yang memicu gangguan layanan, William menilai tak ada kepanikan penumpang. Awak kereta mampu menjalankan prosedur pengumuman dan proses evakuasi dengan baik. Pada saat mati listrik massal tanggal 4 Agustus, terdapat 4 rangkaian kereta berhenti di jalur, yakni 2 di rel layang dan 2 di rel bawah tanah. Sebanyak 3.410 penumpang berhasil dievakuasi.
"Masinis bisa menenangkan orang, petugas stasiun bisa tenang. Bahkan ada yang orang tua ada yang difabel harus dievakuasi dan alhamdulillah (bisa berjalan) mulus proses evakuasinya," terangnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan