Dolar AS Kembali Mendekati Rp 15.000

Dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penguatan terhadap rupiah. Mata uang Paman Sam tersebut dibuka di level Rp 14.905.
Mengutip data perdagangan Reuters, Selasa (2/10), di pasar valuta asing, dolar AS kemudian melesat ke Rp 14.940. Posisi dolar AS kemudian naik tajam ke Rp 14.985.
Secara year to date (ytd), nilai dolar AS masih menguat terhadap rupiah sebesar 9,8 persen.
Analis Binaartha Sekuritas M Nafan Aji Gusta Utama mengatakan pergerakan rupiah mampu berbalik menguat setelah sempat mengalami pelemahan. Adapun rupiah sempat melemah terimbas pelemahan sejumlah mata uang di Asia seiring dirilisnya data aktivitas ekonomi China yang cenderung melambat bulan lalu sehingga meningkatkan kekhawatiran investor akan dampak dari perang dagang antara China dengan AS.

Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) selama September 2018 mengalami deflasi sebesar 0,18 persen. Adapun inflasi tahunan dan tahun kalendernya masing-masing mencapai 2,13 persen dan 3,2 persen. Kepala BPS menyampaikan deflasi disebabkan pada dua kelompok pengeluaran yaitu bahan makanan serta transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Dengan tercatatnya deflasi dapat dianggap Pemerintah berhasil mengendalikan inflasi agar tetap stabil. Tidak hanya itu, adanya pemberitaan kemudahan akses KUR bagi masyarakat turut membantu penguatan Rupiah.
Prediksi: Diperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 14.912-Rp 14.892. Tidak seperti IHSG yang belum merespon adanya sejumlah sentimen positif dari dalam negeri, pada rupiah mampu menyerap sejumlah sentimen positif dari dalam negeri.
Diharapkan pergerakan positif ini dapat kembali berlanjut. Pergerakan Rupiah pun diharapkan juga dapat memanfaatkan penguatan mata uang CAD terhadap dolar AS setelah terjadinya kesepakatan antara Kanada dan AS sehingga kesepakatan NAFTA pun dapat terjaga. Tetap mencermati dan mewaspadai berbagai sentimen yang dapat membuat rupiah kembali melemah.
