Kumparan Logo

Dunia Menuju “Profesi” Idaman: Leyeh-leyeh tapi Digaji

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
9
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Santai di pantai. (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Santai di pantai. (Foto: Thinkstock)

Pernahkah anda membayangkan hidup seperti ini: tidak perlu bekerja, tapi tetap menerima gaji sehingga sedikit-banyak bisa menjalani hidup semau-mau, sesuka hati. Ah, indahnya. Seperti mimpi yang terlampau gurih untuk sebuah realitas.

Tapi, bukan berarti itu tak bisa diwujudkan. Nyatanya, warga Eropa sedang ramai membicarakan model hidup seperti itu--tak perlu bekerja, tetap punya penghasilan, dan paling penting: bisa bersenang-senang.

Kok bisa? Kondisi apa sesungguhnya yang memungkinkan manusia bisa mewujudkan hal utopis tersebut?

Jawabannya: transformasi sistem produksi ekonomi ke arah otomatisasi.

Era Otomatisasi

Robot pelayan. (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Robot pelayan. (Foto: Pixabay)

Suka-tidak suka, kita sedang menyongsong Revolusi Industri 4.0, ketika tenaga dan pikiran manusia diprediksi akan digantikan oleh robot dan kecerdasan buatan (AI)

Laporan New York Times, The Future of Not Working, menyebut kita berada di ambang Revolusi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence Revolution) yang dapat membawa umat manusia ke era pascakerja (postwork future).

Transformasi menuju arah itu telah ditunjukkan sejak beberapa tahun terakhir ketika kecerdasan-kecerdasan buatan mampu menjalankan berbagai peran yang sebelumnya hanya bisa dilakukan manusia.

Misalnya, teknologi kecerdasan buatan bisa membaca hasil pemindaian kanker, menggerakkan mobil, sampai menganalisis pertandingan olahraga dalam bentuk prosa.

Dalam waktu tak lama lagi, menurut The Future of Not Working, pekerjaan bersifat repetitif seperti analisis finansial, pemasaran, dan pekerjaan di bidang hukum, akan segera dapat digantikan oleh kecerdasan buatan. Hebat, bukan?

Firma konsultansi McKinsey pada November 2017 merilis laporan berjudul What the future of work will mean for jobs, skills, and wages tentang masa depan dunia kerja di era otomatisasi. Menurut laporan itu, tahun 2030--dalam skenario terburuk--akan ada 800 juta pekerjaan di seluruh dunia yang digantikan oleh teknologi robotik dan kecerdasan buatan.

Meski demikian, masih berdasarkan laporan yang sama, teknologi tak melulu bersifat destruktif. Disebutkan pekerjaan-pekerjaan baru akan tercipta, peran di berbagai bidang pekerjaan akan teredefinisi, dan pekerja akan mendapat kesempatan untuk berganti karier.

Namun tetap saja, perubahan yang terbilang radikal itu akan menyisakan berbagai persoalan seperti kesenjangan pendapatan yang kian melebar, instabilitas politik akibat pengangguran, dan durasi waktu yang dibutuhkan pekerja profesional paruh baya untuk berlatih melek teknologi.

Dengan proyeksi ekonomi seperti itu, jurnalis New York Post Anne Lawrey memperingatkan, transformasi cara berproduksi tersebut akan menempatkan manusia di ambang krisis yang ditandai dengan munculnya berbagai masalah, misalnya peningkatan kesenjangan kekayaan dan pendapatan, kemiskinan, pengangguran, serta penyusutan usia angkatan kerja produktif.

Persoalannya, jika apa yang dikhawatirkan itu benar-benar terwujud, yaitu ketika pekerja digantikan oleh robot dan teknologi kecerdasan buatan, lantas bagaimana dengan nasib manusia? Dari mana manusia memperoleh penghasilan jika tidak dari pekerjaan?

Nah, salah satu opsi yang dipertimbangkan untuk mengantisipasi persoalan tersebut adalah dengan kebijakan Basic Income.

Bullshit Jobs

Stres bekerja. (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Stres bekerja. (Foto: Pixabay)

Narasi tentang ancaman robot atau mesin yang akan menggantikan pekerjaan manusia bukanlah cerita baru. Antropolog London School of Economic and Political Science, David Graeber, dalam tulisannya On the Phenomenon of Bullshit Jobs: A Work Rant mengatakan, sejak 1930 ekonom John Maynard Keynes telah memprediksi bahwa pada akhir abad ke-20, ketika teknologi di negara-negara seperti Inggris atau Amerika Serikat telah begitu maju, para pekerja di negara-negara tersebut hanya akan bekerja 15 jam per minggu.

Tapi seperti peribahasa jauh panggang daripada api, prediksi Keynes ternyata keliru. Di era teknologi serba canggih ini, alih-alih bekerja 15 jam per minggu, banyak bidang pekerjaan yang sengaja diciptakan untuk--meminjam istilah Graeber--just for the sake of keeping us all working. Dengan kata lain, banyak manusia dengan pekerjaan di tangan mereka yang sebetulnya tidak bermakna apa-apa.

Di Inggris, orang-orang yang merasa punya pekerjaan sia-sia--atau dalam istilah yang diperkenalkan David Graeber sebagai bullshit jobs--sedang gencar-gencarnya mengampanyekan isu Basic Income. Bagi mereka, daripada punya pekerjaan yang tak bermakna, lebih baik dibayar untuk leyeh-leyeh saja di rumah, sambil berupaya menyumbang sesuatu yang bermakna bagi masyarakat.

Mereka mulai mengampanyekan kesadaran kelas pekerja terhadap isu ini, dengan menyebarkan pamflet-pamflet di kereta-kereta bawah kota London bertuliskan: It’s as if someone were out there making up pointless jobs just for the sake of keeping us all working.

Soal bullshit jobs, Graeber--dengan memparafrasakan ucapan Fyodor Dostoyevsky--pernah mengatakan, kalau ingin menghancurkan sisi psikologis seseorang dengan cara yang jauh lebih buruk dari penyiksaan fisik, cukup pekerjakan mereka pada sektor yang sia-sia.

Misalnya, mempekerjakan orang untuk memindahkan tandon air raksasa, hanya untuk mengembalikannya lagi ke tempat semula (ingat sosok Sisifus pada mitologi Yunani? Ia dihukum mengangkat batu besar ke atas bukit untuk digelindingkan ke bawah, hanya untuk mengangkat dan menggelindingkannya lagi dari tempat yang sama).

Bagi Graeber, pekerjaan sia-sia merupakan pekerjaan yang terlalu administratif seperti tukang cap, atau pegawai birokrasi pemerintah yang mengurus bertumpuk-tumpuk persyaratan dokumen. Atau yang lebih buruk: pegawai kantoran yang saban hari, selama kurang lebih 8 jam, hanya menonton YouTube atau Facebook di meja kerja sambil bersungut-sungut merutuki nasib tanpa bisa berbuat apa-apa karena mereka masih butuh gaji.

Suatu pekerjaan, menurut Graeber, bisa tampak keren di Curriculum Vitae atau LinkedIn, namun sebetulnya tak disukai oleh pekerjanya.

Survei YouGov UK pada 2015 mengungkapkan, 37 persen pekerja di Inggris menganggap pekerjaan mereka sama sekali tak berguna untuk masyarakat.

Bullshit jobs macam itu, menurut Graeber, bisa diatasi dengan menerapkan Basic Income. Lewat program itu, orang-orang yang berkarier di lingkup pekerjaan bullshit akan punya keberanian untuk keluar dari pekerjaan mereka, sekaligus dapat memilih cara lain untuk berkontribusi bagi masyarakat.

Memahami Basic Income

Dolar AS. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Dolar AS. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Philippe Van Parijs, ekonom asal Universitas Harvard, menjelaskan pengertian dasar Basic Income dalam bukunya, Arguing for Basic Income: Ethical Foundation for Radical Reform. Menurutnya, Basic Income merupakan pendapatan tanpa syarat yang dibayarkan negara ke setiap warga produktif (usia kerja) pada level individu, bukan keluarga, tanpa disertai syarat apapun dan bukan merupakan program uji coba.

Berdasarkan penjelasan di situs Basic Income Earth Network (BIEN), organisasi transnasional yang mengampanyekan skema redistribusi Basic Income, BI setidaknya memiliki lima karakteristik penting.

Pertama, setiap warga harus mendapatkannya pada jangka waktu tertentu, entah setiap minggu atau setiap bulan. Yang jelas dalam skema ini, pendapatan tidak diberikan sekali seumur hidup. Kedua, BI harus dibagikan dalam bentuk uang tunai, macam Bantuan Langsung Tunai (BLT), bukan seperti program KJP, KIP apalagi Raskin.

Ketiga, pendapatan ini harus ditujukan untuk masing-masing individu, bukan keluarga. Keempat, BI harus bersifat universal, tanpa memandang kelas sosial dan gender. Kelima, BI harus dibayarkan tanpa disertai syarat apapun.

Itu artinya, dalam skema BI ini, siapapun, entah orang kaya atau miskin, pekerja atau pengangguran, akan memperoleh pendapatan minimum secara cuma-cuma dari negara. Dengan begitu, tanpa bekerja pun, masyarakat masih bisa hidup dan justru bisa menjalani hidup dengan cara yang mereka inginkan.

Universal Basic Income di 5 Negara (Foto:  Lidwina Win Hadi/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Universal Basic Income di 5 Negara (Foto: Lidwina Win Hadi/kumparan)

Basic Income sebetulnya bukan ide baru. Ide ini punya sejarah panjang. Ia telah disinggung setidaknya sejak era Renaisans pada abad ke-15 oleh dua orang filsuf humanis, Thomas More dan karibnya, Johanes Ludovicus Vives. Mereka mendorong penerapan BI sebagai kompensasi atas perubahan agraria yang berlangsung di Inggris pada saat itu--ketika tanah-tanah petani yang bersifat common land berubah menjadi milik privat.

BI juga didukung oleh salah satu pendiri Amerika Serikat, Thomas Paine. Seperti More, Paine mendukungnya sebagai respons atas perubahan agraria di AS yang mengubah bentuk kepemilikan tanah dari yang bersifat umum menjadi milik pribadi.

Sementara pada abad ke-19, tokoh sosialisme utopis Charles Fourier, dan filsuf serta ekonom Inggris John Stuart Mill menekankan nilai penting masyarakat memperoleh BI.

Sampai abad ke-20 hingga 21 kini, dukungan atas skema BI telah melampaui spektrum ideologis, meski dengan formulasi berbeda. Skema itu misalnya juga didukung oleh ekonom neoliberal Milton Friedman, hingga ekonom sosialis macam Andre Gorz, Erik Olin Wright, Yanis Varoufakis, juga CEO Facebook Mark Zuckeberg.

Yanis Varoufakis, ekonom dan mantan menteri ekonomi Yunani, dalam artikelnya yang dipublikasikan di Project Syndicate, The Universal Right to Capital Income, berpendapat pemerintah sebetulnya tak perlu bingung mencari sumber pendanaan untuk membiayai kebijakan Basic Income. Menurutnya, negara tak perlu menggunakan pajak sebagai sumber pendanaan, melainkan melalui pungutan dividen perusahaan.

Hal itu bisa diterapkan apabila negara menuntut perusahaan memberikan beberapa persen porsi saham mereka di setiap Initial Public Offering (IPO). Konsep pendanaan ini, oleh Varoufakis, dinamakan Universal Basic Dividend (UBD).

Ilustrasi digaji tanpa bekerja. (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi digaji tanpa bekerja. (Foto: Thinkstock)

Sampai saat ini, beberapa negara secara serius mempertimbangkan penerapan Basic Income. Finlandia misalnya telah menguji penerapan skema itu sejak Januari 2017 dengan membayar 2.000 pengangguran di negara tersebut.

Sementara Belanda sedang mengkaji langkah uji coba skema tersebut, begitu pun Kanada yang akan segera melakukan uji coba di Ontario.

Di negara-negara berkembang, India menginisiasi Basic Income untuk 6.000 rakyat miskin. Sementara di Kenya, organisasi GiveDirectly--yang didanai perusahaan-perusahaan teknologi Sillicon Valley--telah menerapkan skema itu di lebih dari 40 desa di Kenya hingga 12 tahun ke depan.

Jadi, bukan tak mungkin kita akan memasuki era pascakerja dengan menghabiskan hari untuk leyeh-leyeh, namun tetap berduit.

===============

Simak ulasan mendalam lain dengan mengikuti topik Outline.