Kumparan Logo

Garuda Food Cs Ogah Pakai Garam Lokal: Snack Bisa Lengket dan Mengeras

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi garam. (Foto: Antara/Aji Styawan)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi garam. (Foto: Antara/Aji Styawan)

Industri aneka pangan di Indonesia tengah bermasalah karena kekurangan stok bahan baku garam. Izin impor garam industri untuk aneka pangan belum keluar karena belum mendapat rekomendasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Akibatnya, beberapa perusahaan besar aneka pangan kini terancam menghentikan sementara kegiatan produksi mereka. Misalnya ada Garuda Food, Indofood, Unilever sampai Ajinomoto.

Head of Corporate Communication and Relation Garuda Food, Dian Astriana Yunianty, mengungkapkan pihaknya tidak bisa memaksa menggunakan garam lokal. Sebab kualitas dan spesifikasi garam lokal beda jauh dengan garam yang diimpor dari negara lain.

"Ini juga kan yang menjadi concern untuk garam konsumsi dan industri itu, spek berbeda, kadar airnya, kadar natrium klorida, kemudian tingkat warna dan lain. Jadi untuk saat ini kalau garam lokal tidak bisa memenuhinya memang masih perlu teknologi lagi mengkonversi," kata dia kepada kumparan (kumparan.com), Rabu (14/3).

Garam. (Foto: Dok. Menko Maritim)
zoom-in-whitePerbesar
Garam. (Foto: Dok. Menko Maritim)

Sedangkan, Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk Franciscus Welirang menambahkan garam lokal tidak cocok dipakai untuk bahan campuran snack. Sebab, dengan kualitas yang tidak terlalu baik justru bisa membuat snack lengket dan mengeras.

"Nah (kandungan) kalsium sama magnesium itu mengakibatkan lembab menyerap air. Kalau di industri makanan seperti snack (bisa) lengket dong dia atau jadi mengeras karena menyerap tinggi," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan & Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi S Lukman, mengatakan industri aneka pangan yang menggunakan garam lokal jumlahnya tak banyak, hanya 20%. Itu pun didominasi oleh UMKM bukan industri skala besaar. Dia sepakat kualitas garam lokal perlu ditingkatkan agar industri aneka pangan tak terlalu bergantung dengan garam impor.

"Ada garam dari NTT bisa (untuk industri aneka pangan) tapi belum banyak baru mulai perluasan. Beberapa perusahaan ada yang mulai buka (tambak) di NTT tapi belum banyak masih sangat minim, ya sebetulnya NTT ada potensi tapi belum dikelola (maksimal)," jelasnya.