Kumparan Logo

Harga Pertalite Naik, Masyarakat Beralih ke Premium Lagi?

kumparanBISNISverified-green

clock
google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Selang tangki BBM dilengkapi pengaman. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Selang tangki BBM dilengkapi pengaman. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Disparitas harga antara Premium dan Pertalite makin lebar seiring keputusan Pertamina yang menaikkan kembali harga BBM beroktan 90 itu.

Harga Pertalite naik Rp 200/liter sehingga di wilayah DKI Jakarta harganya menjadi Rp 7.800/liter, berselisih Rp 1.250/liter dengan Premium yang harganya Rp 6.550/liter di wilayah Jawa-Madura-Bali (Jamali).

Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara, mengatakan kenaikan harga Pertalite bisa memicu konsumen beralih ke Premium.

Namun, dia melihat kenaikan Rp 200/liter masih cukup aman, belum akan terjadi perpindahan besar-besaran ke Premium. Sebab saat ini masih banyak masyarakat yang mampu membeli Pertalite dan Pertamax.

"Bisa saja (konsumen kembali ke Premium) kalau nanti selisihnya semakin besar dengan Premium, (masyarakat) jadi berbalik, misalnya ketika minyak dunia sudah di atas USD 70 per barel. Kalau Rp 200/liter masih belum (beralih)," katanya saat dihubungi kumparan (kumparan.com), Minggu (25/3).

Saat harga minyak dunia di atas USD 70 per barel, Marwan memperkirakan BBM jenis Pertamax akan naik menjadi Rp 10.000/liter atau berselisih lebih dari Rp 3.000/liter dengan Premium. Dengan begitu, masyarakat yang tadinya pakai Pertamax akan beralih ke Pertalite bahkan Premium.

Ia menambahkan, Pertamina mengambil keputusan untuk menaikkan harga Pertalite karena peningkatan biaya produksi seiring dengan harga minyak yang terus sudah menyentuh kisaran USD 65 per barel.

"Kalau naik, itu harus dipahami sebab itu sudah tergantung dengan harga minyak dunia dan formula yang ditetapkan. Kalau biaya bahan bakunya naik, jadi naik juga harganya. Jangan berkeluh kesah kenapa pertalite naik, ya karena harga minyak dunianya naik. Dan kita 60% lebih impor," katanya.

Pertamina akan rugi jika menjual murah Pertalite. Kalau Pertamina bangkrut, tentu masyarakat juga dirugikan.

Sementara itu, External Communication Manager PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita, enggan berkomentar mengenai risiko lonjakan permintaan Premium akibat kenaikan harga Pertalite. "Soalnya itu lebih kepada preferensi konsumen," tutupnya.