Kembali Naikkan Suku Bunga, The Fed Masih Akan Lakukan 2 Kali Lagi

Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed, seperti sudah diperkirakan menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) atau 0,25%. Dengan kenaikan ini, the Fed Fund Rate menjadi 1,75%-2%.
Reuters melaporkan, hal ini menjadi tonggak baru kebijakan bank sentral AS, setelah selama beberapa tahun terakhir menerapkan sistem bunga rendah untuk mengatasi krisis keuangan dan resesi sepanjang 2007-2009.
Kenaikan suku bunga acuan ini merupakan yang kedua sepanjang 2018, setelah yang pertama pada Maret lalu. Menyusul kenaikan kali ini, The Fed diproyeksikan masih akan menaikkan lagi dua kali, hingga akhir 2018 nanti.
Menanggapi hal itu, mantan Menteri Keuangan Chatib Basri mengimbau untuk mewaspadai dampaknya terhadap rupiah. Melalui akun twitter pribadinya @ChatibBasri, dia mengatakan kenaikan Fed Fund Rate bisa menjadi guncangan finasial, dengan adanya arus modal portofolio yang drastis.
“Modal portofolio akan mencari pengembalian yang lebih tinggi di emmerging market. Tapi begitu Fed menormalisasi kebijakan moneternya, arus modal mengalir kembali keluar lagi,” tulisnya.

Sementara itu Direktur Penelitian Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan, Bank Indonesia (BI) masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan, menyesuaikan dengan kenaikan Fed Fund Rate yang diproyeksi sebanyak 4 kali sepanjang 2018 ini.
Menurutnya, dapat dipastikan tidak ada lagi ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga. "Yang ada adalah menaikkan suku bunga. Tapi itu bukan berarti kiamat bagi perekonomian kita," katanya.
“Kalau pun itu (BI menaikkan suku bunga acuan) dilakukan, maka tak akan membuatnya berada di level tinggi 7,5% seperti beberapa tahun lalu, melainkan hanya di level 5%-5,5%,” ujarnya.
