Kemenhub Rayu Swasta Garap Proyek MRT Fase III Cikarang-Balaraja

Pemerintah akan menawarkan proyek infrastruktur Mass Rapid Transit (MRT) Fase III dari Cikarang menuju Balaraja atau koridor East West kepada swasta. Nilai dari proyek ini disebut-sebut lebih besar dari MRT fase I dan II.
"Makanya saya lagi istilahnya merayu-rayu swasta mana yang mau investasi misalnya di wilayah timur dan di wilayah barat," kata Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan, Bambang Prihartono, saat di temui di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta, Senin (12/11).
Bambang menyatakan secara bisnis, MRT Fase III dari Cikarang menuju Balaraja sangat menguntungkan. Kedua wilayah ini merupakan kawasan industri terbesar di Pulau Jawa.
"Kita lagi undang para industri, kan di sana daerah industri semua kan. Kita undang mereka ikut berpartisipasi," imbuhnya.

Bambang pun menjamin proyek ini tidak sepenuhnya dibiayai oleh APBN. Sebab dengan anggaran APBN saat ini yang cukup terbatas tidak akan mampu membangun proyek sebesar ini.
"Karena nanti ini proyek KPBU (Kerjasama Pemerintah Badan Usaha)," jelasnya.
MRT Fase III yang menghubungkan Cikarang-Balaraja diperkirakan baru bisa dibangun pada tahun 2020 mendatang. Skala proyek MRT Fase III yang dinamakan East West memang jauh lebih besar bila dibandingkan fase I dan II.
Alasannya jelas, proyek MRT fase III dari Cikarang-Balaraja memiliki bentang panjang 87 km. Jumlah stasiun MRT yang melewati jalur ini juga lebih banyak dari fase I dan II, yaitu 22 stasiun.
Saat ini PT MRT Jakarta tengah menyelesaikan MRT Fase I yang menghubungkan Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia sepanjang 16 km. MRT Fase I ditargetkan akan mulai beroperasi penuh pada Maret 2019. Setelahnya, PT MRT Jakarta mulai mengerjakan proyek MRT Fase II yang menghubungkan Bundaran HI-Kampung Bandan sepanjang 8 km mulai awal tahun 2019.
