Kumparan Logo

Kondisi Terkini Tumpahan Minyak di Sumur Pertamina

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
com-Pertamina Sigap Menangani Dampak Peristiwa di Sumur Migas Laut Jawa. Foto: Dok. Pertamina
zoom-in-whitePerbesar
com-Pertamina Sigap Menangani Dampak Peristiwa di Sumur Migas Laut Jawa. Foto: Dok. Pertamina

Gelembung gas di Lapangan YY Blok ONWJ yang dioperasikan PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) di Pantai Utara, Karawang, Jawa Barat terus menyembur. Bahkan, tumpahan minyak mulai keluar dan bercampur dengan air laut.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Dwi Soetjipto mengatakan, platform atau anjungan di sana memang sudah miring. Perusahaan pun berupaya untuk mengembalikan posisi anjungan tersebut.

Adapun minyak yang ada di sana sudah tumpah dan melebar. Untuk mengantisipasinya, tengah dilakukan survei untuk menutup kebocorannya agar tak meluas.

"Itu platforms-nya miring, makanya langsung dilakukan upaya pencegahan dan penutupan. Persiapan survei melaksanakan menutup kebocoran, baru nanti mengembalikan anjungan," kata dia di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (22/7).

Adapun tumpahan minyak yang melebar, kata Dwi, terjadi karena menabrak sesuatu dan menyebabkan kebocoran. Tapi dia tidak bisa menjelaskan lebih lanjut. Saat ini ada satu sumur yang sudah ditutup di sana.

"Tanya Bu Nicke saja, tapi langkahnya mencegah dampak negatif lingkungan, kedua menyetop sumber oil spil. Baru nanti dilihat selanjutnya bagaimana mengembalikan ke sumur," kata dia.

Wamen ESDM, Arcandra Tahar (Kanan) dan Dirut Pertamina, Nicke Widyawati berbincang saat meninjau Kilang Refinery Unit (RU) IV Cilacap, Jawa Tengah milik PT Pertamina (Persero). Foto: Wendiyanto Saputro/kumparan

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati mengatakan, saat ini perusahaan dalam posisi standby untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. Ada 27 kapal yang disediakan dan 12 oil boom untuk menyapu tumpahan minyak.

"Sudah tertangani dengan persiapan. Bukannya ada masalah baru siap, tapi sudah kita siapkan semua, standby, jadi diperlukan sudah. Yang masuk ke laut sudah (ada) minyaknya, langsung kita sapu dengan oil boom. Sangat (efektif)," kata dia.

Gelembung gas di sekitar sumur pertama kali muncul pada 12 Juli 2019. Gas kembali muncul dalam jumlah banyak 3 hari kemudian. PHE ONWJ pun langsung menarik semua kru di lapangan untuk keluar area berjumlah 60 orang. Hingga kini, perusahaan dan berbagai pihak terkait masih menganalisis penyebab terjadinya semburan.

Pertamina Fokus Penanganan Manusia

Direktur Hulu Pertamina, Dharmawan Samsu mengatakan, saat ini perusahaan fokus pada penanganan manusia. Dia enggan membicarakan masalah kerugian dan kemungkinan terburuknya dari kejadian tidak normal ini.

"Kami memastikan kru kita yang berada di emergency respons dalam keadaan aman untuk memastikan dampak diminimalkan. Kemudian langkah selanjutnya untuk masyarakat jangan mendekat, dan daerah-daerah yang memerlukan penjagaan kami lakukan juga. Ini untuk memastikan dampak ke lingkungan seminimal-minimalnya," kata Dharmawan.

Kata dia, perusahaan masih mencari tahu apa penyebab dari gelembung gas dan tumpahan minyak. Karena itu, kata dia, terlalu dini menyebutkan penyebab kejadian ini.

Untuk penanganan risiko pencemaran lingkungan, Pertamina telah memobilisasi 27 kapal dan 12 set oil boom. Selain itu, untuk menjaga agar tidak ada aktivitas nelayan di sekitar lokasi, Pertamina dan PHE ONWJ bekerja sama dengan TNI AL, Satpolairud, dan Pokwasmas, mengerahkan 7 unit kapal patroli.

"Kami fokus memastikan pada penanganan yang sebaik-baiknya. Kita pastikan agar kru-kru kita aman, kita masih melakukan investigasi, terlalu early menyimpulkan sekarang," kata dia.