Kumparan Logo

Lahan Terbatas dan Mahal, PUPR Sediakan Skema Lain untuk Rumah Subsidi

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rumah murah di Cikarang, Bekasi (Foto: Nicha Muslimawati/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Rumah murah di Cikarang, Bekasi (Foto: Nicha Muslimawati/kumparan)

Sejak tahun 2010 hingga saat ini, pemerintah menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi melalui Program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

Pada tahun lalu, pemerintah telah menyalurkan 58 ribu KPR bersubsidi dalam program FLPP. Di tahun ini, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pesimistis realisasi penyaluran KPR bersubsidi melebihi capaian tahun lalu.

Direktur Jenderal Pembiayaan Perumahan Kementerian PUPR, Lana Winayanti memaparkan berdasarkan data milik pihaknya per 29 November 2017, realisasi penyaluran FLPP baru sebesar 11 ribu KPR bersubsidi.

Rumah murah di Cikarang, Bekasi (Foto: Nicha Muslimawati/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Rumah murah di Cikarang, Bekasi (Foto: Nicha Muslimawati/kumparan)

“Kita masih menarget capaiannya setidaknya sama seperti tahun sebelumnya,” ucap Lana kepada kumparan (kumparan.com), Rabu (29/11).

Dia pun mengungkapkan, hambatan utama dalam program FLPP ini yakni keterbatasan dan tingginya harga lahan yang ada di daerah, sehingga pengembang enggan untuk membangun rumah subsidi.

“Karena rumah subsidi ini kita tetapkan harganya, harus berkisar di antara Rp 100 juta – Rp 200 juta, baik rumah tapak maupun rumah susun. Tiap daerah berbeda,” katanya.

Menurut Lana dikarenakan persoalan lahan sulit dipecahkan, pihaknya membuat program Subsidi Selisih Bunga (SSB) dan Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM) untuk rumah komersial yang dibeli oleh Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

“Hingga hari ini, realisasi SSB sebesar 52 ribu yang disalurkan. Sedang SBUM sebanyak 56 ribu, ini dari Januari 2017 hingga hari ini ya,” papar dia.