Pencarian populer

Melihat dari Dekat Kilang LNG Badak yang Sudah Berusia 45 Tahun

Kilang LNG Badak di Bontang dari atas. (Foto: Angga Sukmawijaya/kumparan)

Tak sembarang orang bisa memasuki kawasan kilang yang menjadi objek vital nasional. Berbagai peraturan ketat dan perizinan panjang harus ditempuh untuk bisa memasuki kawasan tersebut, seperti aturan yang berlaku di kilang LNG Badak di Bontang, Kalimantan Timur.

kumparan berkesempatan ikut rombongan Menteri ESDM Ignasius Jonan berkunjung ke kawasan kilang LNG Badak milik PT Badak NGL di Bontang, Kalimantan Timur, Sabtu (1/12).

Berangkat dari Bandara Balikpapan menggunakan pesawat jenis ATR, kami mendarat langsung di Bandara NGL Badak.

Setelah menerima briefing terkait aturan keselamatan saat memasuki kawasan kilang, rombongan diwajibkan mengenakan baju dan sepatu safety. Dan, seluruh ponsel harus dikumpulkan karena dilarang dibawa ke lokasi kilang.

“HP tidak bisa masuk karena takut mengganggu sistem kilang. Kalau ingin memotret, hanya diperbolehkan membawa kamera,” kata salah seorang petugas.

Petugas memasuki area kilang LNG Badak di Bontang, Kalimantan Timur. (Foto: Dok. ESDM)

Ada tiga zona di kompleks kilang LNG Badak. Zona pertama, berupa kawasan perkantoran, perumahan karyawan, area tempat olahraga, lapangan golf dan seluruh fasilitas untuk karyawan. Zona dua, berupa kawasan bengkel dan ruang kontrol. Sementara zona tiga adalah kawasan kilang.

Kami mendapatkan kartu visitor berwarna merah yang berarti bisa masuk ke seluruh zona, termasuk zona satu yang menjadi lokasi tangki-tangki kilang tersebut berada. Keamanan memang terlihat superketat, setiap tamu diminta taping kartu saat memasuki setiap zona.

Saat mulai memasuki zona dua, sudah terlihat pipa-pipa besar mengular yang mengalirkan gas alam cair. Tangki-tangki yang berukuran jumbo terlihat di kanan kiri saat bus kami melaju mengelilingi kilang.

Kilang LNG Badak di Bontang, Kalimantan Timur. (Foto: Dok. ESDM)

Pembangunan kilang LNG Badak dimulai pada 1974 dan berproduksi pertama kali pada 5 Juli 1977. Pabrik ini diresmikan 1 Agustus 1977 dengan pengiriman pertama diberangkatkan tujuan Senboku, Jepang.

Selama empat dekade, Kilang LNG Badak awalnya dirancang untuk 2 plant dan ekspansi menjadi 8 train dengan dilengkapi fasilitas tambahan untuk menghasilkan LPG. Pada saat yang sama, pipa gas ditambahkan, dari satu jalur pipa 36 inchi menjadi empat pipa gas 36 inchi dan 42 inchi, yang memasok gas untuk LNG dan LPG.

Pabrik LNG Badak saat ini dilengkapi dengan 3 dermaga pengisian LNG / LPG yang dapat dioperasikan secara bersamaan.

Menteri ESDM Ignasius Jonan yang baru pertama kali mengunjungi kilang LNG Badak, mengaku terkesan dengan fasilitas yang sudah dibangun selama 45 tahun ini masih terawat dengan baik.

“Ini dirawat dengan bagus dan fasilitasnya juga masih modern. Menurut informasi juga efisiensi biaya operasi, secara keseluruhan salah satu yang efisien di dunia,” katanya.

Suasana kilang LNG Badak di Bontang, Kalimantan Timur. (Foto: Dok. ESDM)

Menurut dia, dari delapan train yang dibangun, saat ini yang beroperasi hanya tiga. Dia berharap jika nanti Blok Marrakesh sudah mulai produksi dan Blok di Selat Makassar sudah berproduksi, maka tran yang beroperasi di kilang LNG Badak akan kembali bertambah.

“Mudah-mudahan bisa membuat Badak LNG ini naik lagi penggunaannya dari tiga train ke empat sampai lima train. Harapannya mungkin tahun 2021 atau 2022 sudah mulai jalan lagi,” katanya.

Saat ini, beberapa klien Badak LNG domestik antara lain PT Pertamina Gas, PT Pertamina Gas Niaga, Tangguh LNG, dan Donggi-Senoro LNG. Sementara klien Badak LNG Internasional antara lain Angola LNG, Cameron LNG, Mozambique LNG, Yemen LNG, Mitsui, Chiyoda, Dominion Cove Point LNG.

Kilang LNG Badak di Bontang, Kalimantan Timur. (Foto: Dok. ESDM)

Berdasarkan dokumen dari Kementerian ESDM, produksi tertinggi di kilang LNG Badak terjadi pada 2001 mencapai 21 juta ton atau 379 standar kargo. Produksi tersebut terus menurun dan pada 2017 mencapai 9 juta ton atau 127 standar kargo.

Presiden Direktur Badak LNG, Didik Sasongko Widi, mengatakan pada tahun ini produksi kembali meningkat mencapai 151 standar kargo. Adapun satu standar kargo tersebut sekitar 125 ribu meter kubik.

“Kalau untuk tahun depan belum diputuskan, saya kira nanti ketika Desember (bulan ini),” kata Didik.

Suasana kilang LNG Badak di Bontang, Kalimantan Timur. (Foto: Dok. ESDM)

Didik mengatakan sebagian besar dari hasil produksi kilang LNG Badak didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan domestik. Pihaknya juga melakukan ekspor ke beberapa negara yakni China, Jepang, Korea, dan Taiwan.

Untuk komposisi pemegang saham PT Badak NGL saat ini mayoritasnya dimiliki PT Pertamina (Persero) sebanyak 55 persen, Vico Indonesia 20 persen, JILCO 15 persen, dan Total E&P Indonesie 10 persen.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Sabtu,25/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23