kumparan
16 Mar 2019 8:44 WIB

Melihat dari Dekat Tambang Batu Bara Terbesar di Indonesia

Kendaraan pengangkut batu bara melintas di area tambang batu bara Adaro, Kalimantan Selatan. Foto: Michael Agustinus/kumparan
Warnanya hitam kelam, agak mengkilat. Emas hitam, itu lah julukan untuk batu bara. Kontribusi emas hitam untuk Indonesia sangat besar. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari batu bara pada 2018 menembus angka Rp 50 triliun, terbesar kedua setelah sawit.
ADVERTISEMENT
Batu bara juga merupakan komoditas ekspor terbesar Indonesia, mencapai sekitar 15 persen dari total nilai ekspor. Selain itu, 60 persen listrik PLN yang menerangi seluruh negeri berasal dari pembangkit berbahan bakar batu bara.
Pada Kamis (14/3) lalu, kumparan berkesempatan untuk melihat langsung tambang batu bara yang dikelola PT Adaro Indonesia di Tanjung, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan.
Dari Bandara Halim Perdana Kusuma di Jakarta, sudah ada rute penerbangan langsung ke Bandara Warukin di Tabalong. Pelita Air Service, anak usaha Pertamina, terbang 2 kali seminggu ke Tabalong, yakni pada hari Senin dan Kamis.
Sebelum ada penerbangan langsung, untuk pergi ke Tabalong harus melalui Banjarmasin. Jalur darat dari Banjarmasin ke Tabalong harus ditempuh dalam waktu 4-5 jam jika kondisi lancar.
ADVERTISEMENT
Penerbangan Jakarta-Tabalong dengan pesawat bermesin turboprop (baling-baling) memakan waktu kurang lebih 2,5 jam. Dari Bandara Warukin, perjalanan darat ke tambang batu bara Adaro tak sampai 1 jam.
Kendaraan tambang berjalan rapi di area tambang batu bara Adaro, Kalimantan Selatan. Foto: Michael Agustinus/kumparan
Tak sembarang orang boleh keluar masuk area tambang. Sejak beberapa hari sebelum ke sana, identitas awak media yang akan ke sana sudah harus diserahkan. Kendaraan yang keluar masuk pun selalu diperiksa petugas keamanan.
Lokasi ini dijaga ketat karena termasuk objek vital nasional (obvitnas). Adaro memproduksi batu bara sebanyak 54 juta ton pada 2018, lebih dari 10 persen produksi nasional. Kalau tambang ini sampai terganggu bisa berdampak ke ekspor dan pasokan listrik.
Tambang batu bara Adaro Indonesia juga merupakan tambang terbesar dalam satu lokasi, yang ada di belahan bumi bagian selatan. Jadi bukan hanya yang terbesar di Indonesia. Dari kilometer nol di gerbang area tambang, terbentang jalan sejauh 85 km hingga ke Pelabuhan Kelanis.
ADVERTISEMENT
Jalan utama di kawasan ini mulus, tak berlubang-lubang meski setiap hari selama 24 jam dilalui oleh truk-truk trailer yang mengangkut batu bara dari tambang. Truk trailer yang lewat memiliki 2 bak besar dengan kapasitas 135-140 ton batu bara. Rodanya ada 54 buah, yakni 2 roda depan, 26 roda menyangga bak pertama, dan 26 roda menyangga bak kedua.
Wheel loader sedang memasukkan batu bara ke trailer di area tambang Adaro, Kalimantan Selatan. Foto: Michael Agustinus/kumparan
Keluar dari jalan utama menuju ke ROM (Run of Mine) alias tempat penyimpanan sementara batu bara, jalanan aspal berganti menjadi tanah yang dipadatkan dan dilapisi batu. Sebelum melalui jalan tersebut, mobil yang ditumpangi kumparan terlebih dahulu dipasangi bendera yang tinggi.
Tujuannya agar terlihat oleh HD alias kendaraan tambang yang mengangkut batu bara ke ROM. HD sangat tinggi sehingga agak sulit bagi pengemudinya untuk melihat ke bawah. Rodanya saja memiliki diameter lebih dari 2 meter.
ADVERTISEMENT
Mendekati ROM, terlihat HD dan trailer berwarna kuning yang berlalu lalang. Warnanya mirip dengan salah satu robot dalam fim Transformers, yaitu Bumblebee. Dari kejauhan terlihat HD jalan berbaris dengan jarak dan kecepatan teratur dari pit (bukaan tambang) ke ROM yang jaraknya sekitar 5 km dari lubang galian tambang.
Sebuah HD melintas di area tambang batu bara Adaro, Kalimantan Selatan. Foto: Michael Agustinus/kumparan
kumparan mampir ke ROM 13 dan melihat aktivitas di tempat ini. Pemandangan pertama adalah gunungan batu bara yang masih dalam bentuk bongkahan, baru digali dari dalam tanah.
HD masuk, menurunkan baknya dan menumpahkan ratusan ton batu bara, menambah tumpukan bongkahan. Lalu wheel loader dengan alat keruknya mengambil batu bara untuk dimasukkan ke trailer. Setelah penuh tumpukan batu bara di trailer dirapikan oleh alat berat lainnya. Setelah itu trailer keluar dari ROM untuk menuju Pelabuhan Kelanis.
ADVERTISEMENT
Jarak dari ROM 13 ke Pelabuhan Kelanis mencapai 80 km. Kira-kira trailer sampai ke Kelanis dalam 2,5 jam. Di Pelabuhan Kelanis, batu bara dihancurkan sehingga tak lagi berbentuk bongkahan. Lalu di-blending, kalorinya disesuaikan dengan keinginan pembeli. Selanjutnya batu bara dibawa dengan tongkang menuju Banjarmasin. Dari Banjarmasin, batu bara diekspor atau dikirim ke pembeli dari dalam negeri.
Aktivitas di area tambang batu bara Adaro, Kalimantan Selatan. Foto: Michael Agustinus/kumparan
Air Limbah Diolah hingga Layak Diminum
Tak hanya ke ROM, kumparan juga sempat melihat fasilitas pengolahan air dan bekas lahan tambang yang sudah direklamasi. Adaro mengolah air limbah dari tambang batu bara hingga layak dikonsumsi dan dipakai untuk kegiatan sehari-hari.
Proses pengolahan dimulai dengan memompa air dari drainage untuk dijernihkan di sediment pond. Dari sediment pond, air dipompa ke fasilitas pengolahan. Pertama-tama air diberi clorin, lalu disesuaikan kandungan asamnya (Ph Adjustment), diberi coagulant dan juga flocculant. Air yang awalnya keruh bercampur lumpur berubah jadi jernih, bening, dan layak diminum.
ADVERTISEMENT
kumparan mencoba langsung air dari fasilitas pengolahan ini. Airnya tak berasa, jernih, sama dengan air mineral dalam kemasan.
Fasilitas pengolahan air limbah tambang batu bara Adaro. Foto: Michael Agustinus/kumparan
Air yang sudah bersih kemudian ditampung dalam fiber storage dan selanjutnya dialirkan melalui pipa untuk memenuhi kebutuhan desa-desa di sekitar wilayah pertambangan. Ada 3 desa yang mendapat air gratis dari Adaro, yaitu Desa Dahai, Laburan, dan Padang Panjang.
Meski sudah layak diminum saat diolah di fasilitas, Adaro menyarankan penduduk untuk memasaknya hingga mendidih untuk konsumsi sehari-hari. Sebab, bukan tidak mungkin ada bakteri yang masuk saat dialirkan lewat pipa. Tapi air bisa langsung digunakan kalau untuk mencuci baju, piring, dan sebagainya.
Menyulap Bekas Tambang Jadi Hutan hingga Kolam Ikan
Sedangkan area tambang yang sudah direklamasi Adaro adalah Paringin, luasnya 150 hektare. Paringin direklamasi sejak 2004. Butuh waktu sekitar 10 tahun untuk menghutankan kembali lahan bekas tambang.
ADVERTISEMENT
Sebagian kecil wilayah Paringin bahkan dijadikan tempat pembibitan ikan. Ada 8 kolam ikan di lahan seluas 1,5 hektare. Ban-ban bekas kendaraan tambang dan sepatu boot yang dicat warna-warni berjajar menghiasi kolam.
Ikan nila dikembangbiakkan di kolam-kolam yang diisi air dari tambang batu bara. Ini sekaligus untuk memantau kualitas air dari tambang, jika ikan tidak bisa hidup berarti airnya membahayakan lingkungan sekitar.
Kolam-kolam ikan di bekas lahan tambang Adaro . Foto: Michael Agustinus/kumparan
Selain ikan nila, Adaro juga tengah mencoba mengembangbiakan ikan betok, gabus, hingga gurame di kolam-kolam itu. Tapi untuk sementara, fokusnya masih pembibitan ikan nila.
Bibit-bibit ikan nila dari tempat ini dibagikan secara gratis untuk dikembangbiakkan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang dikelola warga sekitar wilayah pertambangan. Adaro juga memberikan pendampingan agar BUMDes dapat mengembangkan usaha ikan nila dengan baik. Sudah 10 BUMDes yang menerima bantuan tersebut.
Kolam-kolam ikan di bekas lahan tambang Adaro . Foto: Michael Agustinus/kumparan
Melalui bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) ini, Adaro ingin meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat. Diharapkan ada sumber-sumber perekonomian baru selain tambang. Sebab, tambang tidak abadi.
ADVERTISEMENT
Batu bara adalah sumber daya alam yang tidak terbarukan. Diperkirakan cadangan batu bara Indonesia habis sekitar 80 tahun lagi. Karena itu, Adaro mempersiapkan juga masyarakat agar Tabalong tak jadi kota mati setelah batu bara habis.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan