Kumparan Logo

Menko Darmin: Tas Jemaah Haji dan Umrah RI Masih Banyak Buatan China

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution saat memberikan pemaparan materi di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan. Foto: Muhammad Lutfan Darmawan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution saat memberikan pemaparan materi di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan. Foto: Muhammad Lutfan Darmawan/kumparan

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution meminta bisnis industri perjalanan haji dan umrah mendukung kepentingan nasional. Caranya, agen travel diminta tak hanya gencar kampanyekan haji dan umrah, namun juga mengajak warga negara asing khususnya Saudi Arabia untuk datang ke Indonesia.

"Pelaksanaan bisnis jasa haji dan umrah mestinya juga mendukung kepentingan nasional. Apa yang saya maksudkan dengan itu? Kelihatannya kita perlu mendorong pelaksana haji umrah jangan cuma kampanyekan orang untuk umrah atau haji, tapi undang orang Saudi ke Indonesia sehingga neracanya jangan terlalu pincang lah," kata Darmin di Hadapan Pebisnis Travel Haji dan Umrah di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (6/3).

Kepentingan nasional tersebut, kata Darmin, merupakan salah satu hal yang harus dilakukan para pebisnis di bidang ini. Contoh lainnya seperti properti umrah dan haji yang bisa menggunakan produk dalam negeri. Sebab, ia kerap menjumpai para jemaah umrah dan haji asal Tanah Air yang masih menggunakan koper buatan China.

Pemberangkatan Jemaah Haji. Foto: Antara/Iggoy el Fitra

"Kedua, saya pernah ikut umrah dan ngobrol dengan kelompok umrah lain. Itu kan tasnya koper, bagus-bagus, keren-keren tampilannya warnanya. Pas ditanya buatan mana? China semua. Kita enggak bisa mengumpulkan energi dan dana membangun industri untuk itu?" ujar Darmin.

Ia pun menekankan bahwa yang harus diperbaiki adalah manajemen bisnisnya. Orientasi bisnis bukan hanya untuk kepentingan pribadi, namun terselip juga kepentingan nasional di dalamnya.

"Ibu dan bapak yang terhormat, yang ingin ditekankan sebetulnya manajemen bisnis yang syariah itu haji dan umrah. Bukan hanya untuk kepentingan atau standar yang tidak diukur untuk pengguna jasa haji dan umrah saja, tapi untuk kepentingan nasional," katanya.

Darmin pun menyebut pangsa industri syariah di Indonesia sangat besar. Terlebih untuk bisnis di bidang travel haji dan umrah. Hal ini bisa dilihat dari minat warga Indonesia untuk berangkat ibadah haji dan umrah ke tanah suci.

"Jemaah haji di tanah suci 2018 itu 2,4 juta orang. Dengan 612,96 ribu, atau 25,8 persen berasal dari Saudi sendiri. Dan 1 juta 758 ribu dari luar. 203,5 ribu orang, atau 8,7 persen jemaah haji dunia dari Indonesia, dan merupakan jemaah haji terbesar terbanyak dunia," katanya.

"Jumlah yang laksanakan umrah dari Indonesia sangat besar, di 2018 tercatat 1,1 juta orang. Dengan pencapaian selama 3 bulan trakhir 236,7 ribu orang. Tertinggi kedua setelah Pakistan dengan 427 ribu orang. Masih bisa dimengerti karena Pakistan lebih dekat daripada Indonesia," pungkasnya.