kumparan
12 Mar 2019 11:24 WIB

Merasakan Sensasi Terbang Bersama Boeing 737 Max 8 Sebelum di-Grounded

Boeing 737 Max 8 milik Garuda Indonesia. Foto: Selfy Sandra Momongan/kumparan
Industri penerbangan kembali berduka. Pesawat Ethiopian Airlines jatuh di Kota Bishoftu, Ethiopia, enam menit setelah lepas landas dari Bandara Bole, Addis Ababa, Minggu (10/3), pukul 08.44 waktu setempat. Pesawat Boeing jenis 737 MAX 8 tersebut mengangkut 149 penumpang dan delapan awak kabin. Tak ada yang selamat dari insiden tersebut.
ADVERTISEMENT
Informasi awal mengenai kejadian ini saya terima dari push notif aplikasi kumparan pada Minggu (10/3) sore.
Saya cukup tercekat dengan berita tersebut. Sore itu, posisi saya masih berada di Hong Kong. Saya dijadwalkan pulang ke Jakarta keesokan harinya, Senin (11/3).
Dari issued tiket yang saya terima, saya akan kembali ke Jakarta dengan maskapai Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 873 HKG-CGK, take off dari Hong Kong International Airport pukul 9 pagi waktu setempat.
Boeing 737 Max 8 Foto: Dok. Boeing
Kabar soal jatuhnya Ethiopian Airlines ET 302 membuat saya sedikit paranoid. Apalagi jenis Boeing yang jatuh sama persis dengan jenis pesawat Lion Air yang jatuh di Perairan Karawang beberapa bulan lalu.
Kabar kecelakaan ET 302 tersebut, bagi saya, seolah mengonfirmasi bahwa penyebab jatuhnya pesawat bukan hanya soal maskapainya, namun mungkin juga ada sesuatu yang janggal dengan Boeing 737 MAX 8. Who knows?
ADVERTISEMENT
Malam itu saya mencoba menepis perasaan takut dan khawatir, saya pasrah saja lah. Kalau kata orang Jawa: ‘urip mati kanggo Gusti.’ Pagi menjelang, saya meninggalkan Hotel JW Marriot Hong Kong pukul 6 pagi lalu berkendara selama kurang lebih 1 jam 20 menit menuju Hong Kong Internasional Airport.
Saya lantas menuju counter check in untuk mendapatkan boarding pass. Saya lalu menuju loket imigrasi untuk pengecekan dan kemudian berjalan menuju pintu keberangkatan nomor 524.
Suasana di dalam pesawat Garuda Boeing 737 Max 8 Foto: Nurlaela/kumparan
Sesuai informasi di boarding pass, pesawat yang saya tumpangi dijadwalkan boarding pada 08.30 dan lepas landas pada 09.00 waktu setempat.
Sejujurnya, saya tidak tahu menahu soal jenis pesawat yang akan saya tumpangi untuk pulang ke Jakarta. Sampai saya iseng, untuk mengecek issued ticket.
ADVERTISEMENT
Pada lembar booking tiket yang saya miliki, tercantum informasi bertuliskan ‘Flight Info: Boeing 737-800.’ Setahu saya, 737-800 berbeda dengan 737 MAX 8. Ya, sedikit lega, saya berpikir jenis pesawatnya bakal berbeda.
Tepat pukul 08.30, para penumpang dipersilakan masuk ke pesawat. Karena jarak pesawat yang cukup jauh, maskapai menyediakan shuttle bus. Sesaat setelah shuttle bus tiba persis di depan badan pesawat, saya cukup terkejut. Di badan pesawat bagian samping saya bisa membaca dengan sangat jelas tulisan 737 MAX 8. Segera saya mengambil beberapa foto, tidak cukup bagus karena saya harus bergegas keluar shuttle.
Suasana di dalam pesawat Boeing 737 max 8. Foto: Ela Nurlaela/kumparan
Begitu saya masuk ke dalam pesawat, saya justru dibuat kagum. Interiornya benar-benar masih baru, warnanya putih bersih dan cerah. Lampunya dibuat bernuansa biru redup. Jenis kursinya juga berbeda dengan kursi yang ada di pesawat biasanya. Semua interior masih sangat kinclong. Saya mendapat bangku nomor 44B. Begitu duduk dan memasang seat belt, saya juga dikejutkan dengan penampilan layar TV yang berbeda. Teman yang duduk di sebelah saya bahkan sudah asik mengutak-atik layar TV.
ADVERTISEMENT
“Yang ini lebih layar sentuh, Sel. Bukan layar tonjok kayak biasanya,” ujarnya berseloroh.
Ya, kalau Anda sering naik pesawat Garuda Indonesia, sensitivitas layar di TV memang kadang sedikit membutuhkan waktu untuk merespons. Kadang harus ditekan cukup kuat, baru kemudian layar akan merespons. Lain dengan TV di pesawat jenis baru ini, mungkin karena masih anyar, tingkat sensivitas layar TV-nya masih sangat baik.
Sayap Boeing 737 Max 8 dengan desain aerodinamis. Foto: Ela Nurlaela/kumparan
Selain secara interior masih baru, saya juga merasakan pengalaman lain. Setelah mengantre cukup lama, pesawat baru benar-benar lepas landas pukul 09.40 waktu setempat.
Saat lepas landas, saya merasa laju pesawat ini lebih halus, atau bahkan sangat halus. Tidak terasa ‘ngeden’ seperti biasanya. Selain itu, saya juga merasa suara mesin pesawat tidak begitu terdengar menganggu. Kabin terasa cukup senyap. Saat baru saja lepas landas, saya teringat bahwa salah satu ciri pesawat 737 MAX 8 adalah bentuk sayapnya yang baru.
ADVERTISEMENT
Dari segi aerodinamika, B737 MAX 8 mempunyai desain winglet atau sayap terbaru, yang dijuluki Scimitar Winglet. Ujung sayap B737 MAX 8 terlihat seperti dibelah menjadi dua, satu menjulur ke atas dan satu ke bawah. Inilah ciri utama varian B737 MAX. Winglet di ujung sayap berguna untuk memecah turbulensi udara yang terjadi di ujung sayap, terutama saat pesawat berjalan dalam kecepatan tinggi.
Suasana di dalam pesawat Boeing 737 max 8. Foto: Ela Nurlaela/kumparan
Sebab adanya turbulensi dapat menyebabkan drag (daya hambat). Karena menghambat laju pesawat, maka mesin membutuhkan tenaga lebih, sehingga membuat konsumsi bahan bakar boros. Dengan winglet tambahan di ujung sayap, turbulensi udara di ujung sayap tadi bisa dipecah.
Dalam uji aerodinamika, udara yang menggulung di ujung sayap terlihat menjadi lurus alirannya, sehingga meminimalisir drag dan diklaim bisa membuat kebutuhan bahan bakar lebih efisien.
ADVERTISEMENT
Seketika saat saya teringat informasi tersebut, saya melongok ke jendela. Benar saja, saya melihat bentuk ujung pesawat yang berbeda. Saya pun iseng mengabadikan dalam beberapa jepretan foto.
Boeing 737 Max 8 Foto: Flickr/Ava The Beav
Over all, perjalanan saya dari Hong Kong ke Jakarta sangat lancar. Cuaca di Hong Kong memang sering diguyur hujan. Sehingga sesaat setelah lepas landas, guncangan cukup terasa karena pesawat harus melaju menembus kabut yang cukup tebal.
Namun setelah berhasil menembus ketinggian tertentu, pesawat mulai stabil. Cuaca bahkan bisa dibilang sangat cerah setelah sekitar 30 menit pesawat mengudara. Namun meski cuaca cerah, ternyata angin bertiup cukup kencang. Pesawat pun beberapa kali mengalami guncangan-guncangan kecil. Pilot menginstruksikan agar penumpang selalu memasang sabuk pengaman. Selain itu, tidak ada pengalaman buruk yang saya alami. Semua berjalan normal dalam penerbangan tersebut. Puji Tuhan.
ADVERTISEMENT
Setelah sekitar 4 jam 20 menit mengudara, pesawat ini akhirnya mendarat sempurna di Soekarno Hatta Internasional Airport sekitar pukul 13.30 WIB. Perjalanan yang cukup menyenangkan, sejujurnya.
Pesawat boeing max 8 737 milik Garuda Indonesia Foto: Nurlaela/kumparan
Sayangnya, burung besi yang masih cantik ini harus masuk sangkar untuk sementara waktu. Akibat adanya kecelakaan ET 302, Kementerian Perhubungan memerintahkan agar maskapai yang memiliki pesawat jenis baru ini untuk melakukan temporary grounded. Maskapai harus melakukan pengecekan mendetail hingga diputuskan bahwa jenis pesawat ini laik terbang.
Sayap Boeing 737 Max 8 dengan desain aerodinamis. Foto: Ela Nurlaela/kumparan
Di Indonesia, ada dua maskapai yang mengoperasikan jenis pesawat ini yaitu Lion Air dan Garuda Indonesia. Menariknya, pesawat yang saya tumpangi adalah jenis B737 MAX 8 semata wayang milik Garuda Indonesia.
Bisa jadi, penerbangan GA 873 dari Hong Kong ke Jakarta yang juga turut membawa saya adalah penerbangan terakhir sebelum si cantik masuk sangkar untuk sementara waktu.
ADVERTISEMENT
I hope you’re okay dear beautiful one. Till we meet again, B737 MAX 8.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·