Pelemahan Rupiah Diprediksi Berlanjut hingga Akhir Bulan Ini

13 Mei 2019 16:38 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
zoom-in-whitePerbesar
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
ADVERTISEMENT
Pelemahan nilai tukar rupiah diprediksi akan berlanjut hingga akhir bulan ini. Salah satunya akibat ketidakpastian sengketa dagang AS dan China.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan data Reuters pukul 16.20 WIB hari ini, rupiah berada di level Rp 14.491 per dolar AS, melemah dari pembukaan perdagangan pagi tadi di level Rp 14.335 per dolar AS.
Ekonom Asian Development Bank Institute (ADBI) Eric Sugandi mengatakan, pelemahan rupiah kali ini utamanya karena kegagalan perundingan AS-China, yang juga menekan mata uang di negara berkembang lainnya. Selain itu juga akibat faktor musiman pembagian dividen di domestik.
"Sampai akhir bulan ini rupiah masih fluktuatif dan cenderung tertekan, pergerakannya saya perkirakan di kisaran Rp 14.300 hingga Rp 14.700 per dolar AS," ujar Eric kepada kumparan, Senin (13/5).
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia (BCA) Tbk David Sumual menuturkan, rupiah diperkirakan akan terus berada di level Rp 14.300-14.500 dalam beberapa waktu ini. Investor juga masih menunggu hasil neraca perdagangan April 2019 yang akan diumumkan pada Rabu (15/5) serta keputusan Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan depan.
ADVERTISEMENT
"Pasar juga menunggu minggu ini soal data perdagangan RI bulan April dan keputusan BI mengenai arah suku bunga patokan BI 7 DRR ke depan. Rupiah diperkirakan bergerak di level support 14.300 dan resistance 14.500," kata David.
Sementara itu, Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah menuturkan, dengan mentahnya perundingan perang dagang AS-China membuat ketidakpastian pada perekonomian global, termasuk Indonesia. Apalagi saat ini Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah berupa defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD).
"Kondisi ini merupakan pertimbangan investor global atas investasi portofolio mereka di Indonesia. Sedikit saja mereka menarik investasi mereka keluar, rupiah secara signifikan melemah. Saya kira ini yang sedang terjadi," katanya.
Sebelumnya Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah memastikan, bank sentral pun melakukan stabilisasi demi menjaga nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya. "BI melakukan stabilisasi di pasar bond, DNDF, dan spot," tutupnya.
ADVERTISEMENT