Kumparan Logo

Penjelasan Bappenas soal Tarif Tol di RI Paling Mahal se-Asia Tenggara

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah kendaraan dari anggota Gaikindo menjajal Tol Trans Jawa Foto: istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah kendaraan dari anggota Gaikindo menjajal Tol Trans Jawa Foto: istimewa

Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi menyebut, rata-rata tarif tol di Indonesia paling mahal se-Asia Tenggara yakni Rp 1.300 per km, disusul Vietnam sebesar Rp 1.200 per km, dan Filipina sebesar Rp 1.050 per km. Menurut Chief Executive Officer (CEO) Pembiayaan Investasi Non-Anggaran Pemerintah (PINA) Bappenas Ekoputro Adijayanto, apabila melihat tarif tol tiap negara harus memperhatikan juga tahun pembangunannya. "Tahun pembuatan (tol) berpengaruh sekali terhadap tarif tol itu sendiri," ucapnya saat ditemui di Hotel Aloft, Jakarta, Jumat (8/2). Dia menyebut, tol di Indonesia yang selesai dibangun pada rentang 2015-2018 mencapai 616 km, sementara tol yang selesai dibangun pada 1978-2014 sepanjang 242 km. Semakin baru, makin mahal pula biaya pembangunannya.

Berpose di ikon Tol Trans Jawa Foto: istimewa

Dalam menentukan tarif, Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) akan mempertimbangkan investasi yang digelontorkan dan masa kelola yang didapatkan, mulai dari biaya pembebasan lahan hingga pembangunan yang kian hari semakin tinggi. "Apalagi ada badan usaha yang harus membeli hak kelola tol yang mangkrak, itu hal yang harus diperhatikan juga," beber Eko. Eko pun mencontohkan, Tol Jakarta-Bogor-Ciawi (Jagorawi) yang dibangun tahun 1978, namun tarif untuk kendaraan pribadi hanya Rp 6.500 per 59 km. Maka dari itu, menurut dia, pembangunan tol memang sebaiknya dibangun lebih cepat. "Kalau realisasinya lama, harga lahan akan jauh lebih mahal, cost material makin mahal. Ini tergantung leader-nya, apakah mau ditunda terus atau bagaimana," tegasnya.