Pencarian populer

Penjelasan BPS soal Indonesia Impor Minyak Goreng

Minyak zaitun Foto: Safira Maharani/ kumparan
Badan Pusat Statistik (BPS) memastikan banjirnya minyak goreng impor yang masuk ke Tanah Air tidak seluruhnya berasal dari kelapa sawit. Bahkan impor terbesar berasal dari kedelai dan zaitun.
ADVERTISEMENT
"Kalau kemarin itu memang hanya dicantumkan minyak goreng, tapi itu gabungan dari beberapa HS (Harmonized System) Code," ujar Kepala Sub Direktorat Impor BPS Rina Dwi Sulastri kepada kumparan, Rabu (26/6).
Berdasarkan data BPS yang diterima kumparan, minyak yang berasal dari kacang kedelai mencapai USD 3.039 ton atau senilai USD 3,23 juta, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai USD 2,7 juta. Namun jika dibandingkan Mei 2018 yang senilai USD 3,28 juta atau 3.083 ton, impor minyak goreng kedelai selama akhir bulan lalu menurun tipis 1,5 persen (yoy).
Sementara untuk olive oil atau zaitun, selama Mei 2019 impornya mencapai USD 323 ton atau senilai 1,6 juta. Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai USD 832.886 atau 167 ton.
ADVERTISEMENT
Sedangkan untuk impor minyak goreng yang berasal dari kelapa sawit dan turunannya selama Mei 2019 mencapai 23 ton atau USD 28.519, justru menurun 67 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai USD 87.589 atau 74,65 ton. Namun jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya meningkat tipis 12,9 persen.
Namun demikian, otoritas statistik tersebut enggan merinci satu per satu negara pengimpor minyak tersebut.
Total impor minyak goreng selama Mei 2019 mencapai USD 16,2 juta atau 28.534 ton, atau naik 252,1 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu yang hanya USD 4,6 juta atau 4.213 ton.
Berdasarkan negara asalnya, impor minyak goreng paling banyak berasal dari Malaysia, senilai USD 8,6 juta atau 16.227 ton di Mei 2019. Nilai tersebut naik enam kali lipat atau 514 persen dibandingkan bulan sebelumnya senilai USD 1,4 juta atau 1.377 ton.
ADVERTISEMENT
Selanjutnya, selama Mei 2019 impor minyak goreng dari Papua Nugini tercatat senilai USD 2,4 juta atau 5.566 ton, nilainya meningkat 1.630 persen dibandingkan April 2019 yang sebesar USD 141.048 atau 216 ton.
Sebelumnya diberitakan, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution dan Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga juga meragukan data impor minyak goreng tersebut seluruhnya berasal dari kelapa sawit.
"Saya tidak percaya ada yang itu (impor minyak goreng). Artinya ada penjelasan, karena apa?" kata Darmin.
Sahat Sinaga juga memprediksi bahwa data yang dimaksud BPS bukan merupakan impor minyak goreng yang berbahan baku dari kelapa sawit.
"‎Saya kira itu kekeliruan pemahaman. Memang ada impor, tapi menurut catatan kami dari Malaysia terutama, itu bukan minyak goreng (sawit)," katanya saat dikonfirmasi kumparan.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.86