• 1

Penjelasan Peternak Soal Harga Daging Ayam Tembus Rp 60 Ribu/Kg

Penjelasan Peternak Soal Harga Daging Ayam Tembus Rp 60 Ribu/Kg


Daging ayam di Pasar Senen, Jakarta

Daging ayam di Pasar Senen, Jakarta (Foto: Ema Fitriyani/kumparan)
Harga daging ayam beberapa waktu ini kembali melambung. Bahkan belum lama ini di Pasar Senen, Jakarta, pedagang menjual daging ayam ugal-ugalan sampai Rp 60 ribu per kilogram (kg). Idealnya, haga daging ayam dijual Rp 32 ribu/kg.
Melihat pergerakan harga daging ayam yang kian tinggi, Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam (GOPAN) Harry Darmawan mengungkapkan, ada tiga hal yang membuat harga daging ayam di pasaran tinggi.
Pertama, ia menyebut, ada permintaan yang tinggi, sementara produksi bibit ayam Day Old Chicken (DOC) menurun, dan sebagian perusahaan besar enggan menjual (DOC) ke peternak.
"Kenapa harga tinggi? Karena permintaan lebih banyak, sudah dua bulan ini. Gambarannya begini, kalau saya pelihara ayam 1.000 ekor (bibit ayam) biasanya saya bisa panen 975 ekor atau 950 ekor. Sekarang ini kalau saya pelihara 1.000 ekor, saya paling hanya bisa panen 700 ekor, yang 300 ekor itu kecil," ucapnya kepada kumparan, Kamis (12/7).
Selanjutnya Harry menjelaskan, penyebab harga daging ayam melambung karena penurunan produktivitas hasil panen Day Old Chicken (DOC). Penurunan tersebut salah satunya disebabkan turunnya kualitas pakan ternak. Maklum, menurutnya, sebagian besar bahan pakan ternak di Indonesia mayoritas masih impor, ditambah pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Hal tersebut membuat harga pakan kian mahal.
"Karena mungkin harga bahan baku mahal, harga bahan baku kita masih banyak impor harga bahan baku di luar naik. Di samping itu kita kena penurunan nilai rupiah, jadi yang biasanya di sana 100 USD sekarang jadi USD 120, setelah itu masih terkena nilai rupiah yang naik," kata Harry.

Pedagang daging ayam di Pasar Pulo Menteng.

Pedagang daging ayam di Pasar Pulo Menteng. (Foto: Ela Nurlaela/kumparan)
Oleh karenanya, dengan kualitas pakan ternak yang menurun, otomatis hasil panen juga berkurang. "Terus jagung, nah jagung ini enggak boleh impor, kebijakan pemerintah, nah kayaknya jagung ini enggak terpenuhi oleh pabrik. Masih kurang gitu, pasokan kurang. Nah itu kekurangan diganti sama gandum," kata Harry.
Lebih lanjut Harry menyebut, ada perusahaan yang enggan menjual hasil panen (DOC) kepada peternak. Hal ini membuat distribusi pasokan DOC minim sehingga mempengaruhi harga di pasaran.
"Bukan nahan, dia kan harusnya jual bibit ayam tapi enggak dijual dia punya kandang sendiri enggak didistribusikan padahal sudah ada aturan 50% harus diserahkan ke peternak, nah ini pengawasn juga kita pertanyakan," jelas Harry.
Terakhir Harry mengatakan, beberapa waktu ke depan pihaknya akan melakukan pertemuan bersama Kementerian Pertanian (Kementan) untuk membahas solusi dari fenomena ini.
"Nanti hari Senin ada rapat di Direktorat Jenderal Kesehatan Hewan Kementan (Dirjen PKH) semua pihak, pabrik pakan, peternak diundang pabrik bibit ayam diundang," tukas Harry.

BisnisEkonomiPeternakanDaging AyamPedagang

presentation
500

Baca Lainnya