kumparan
25 Jun 2019 7:50 WIB

RI Banjir Impor Minyak Goreng dari Malaysia hingga Papua Nugini

Minyak Goreng Foto: Ela Nurlaela/kumparan
Minyak goreng bagi sebagian besar masyarakat Indonesia merupakan salah satu komoditas penting dalam keseharian untuk memasak. Namun siapa sangka, ternyata Indonesia masih melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan komoditas itu.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diterima kumparan, impor minyak goreng selama periode Mei 2019 meningkat lebih dari tiga kali lipatnya, atau 252,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Berikut fakta mengenai impor minyak goreng Indonesia selama Mei 2019:
1. Impor Minyak Goreng Melonjak
Nilai impor minyak goreng selama bulan lalu mencapai USD 16,2 juta atau 28.534 ton, atau naik 252,1 persen dibandingkan tahun lalu atau year-on-year (yoy). Adapun nilai impor pada periode yang sama di tahun sebelumnya hanya senilai USD 4,6 juta atau 4.213 ton.
Pun jika dibandingkan dengan periode April 2019, impor minyak goreng tersebut juga meningkat 42,1 persen. Nilai impor minyak goreng Indonesia pada bulan sebelumnya hanya senilai USD 11,4 juta atau 15.382 ton.
Ilustrasi Kelapa Sawit Foto: Pixabay
Secara kumulatif sejak Januari-Mei 2019, impor minyak goreng mencapai USD 43 juta atau 61.861 ton, nilainya meningkat 54,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar USD 27,9 juta atau 24.517 ton.
ADVERTISEMENT
Namun secara total, total nilai impor yang dilakukan Indonesia sepanjang Mei 2019 mencapai USD 14,53 miliar. Angka itu tercatat mengalami penurunan sebesar 5,62 persen jika dibandingkan April 2019.
"Impor bulan Mei 2019 turun cukup tajam dibandingkan Mei 2018 atau sebesar 17,71 persen secara tahunan," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers yang digelar di kantornya, Jakarta, Senin (24/6).
2. Impor Paling Banyak dari Malaysia dan Papua Nugini
Berdasarkan negara asalnya, impor minyak goreng paling banyak berasal dari Malaysia, senilai USD 8,6 juta atau 16.227 ton di Mei 2019. Nilai tersebut naik enam kali lipat atau 514 persen dibandingkan bulan sebelumnya senilai USD 1,4 juta atau 1.377 ton.
Begitu juga dibandingkan periode Mei 2018 yang senilai USD 2,0 juta atau 1.888 ton. Impor minyak goreng asal Malaysia meningkat 330 persen (yoy).
Kelapa sawit di kebun Sawindo Kencana. Foto: Marcia Audita/kumparan
Selanjutnya, selama Mei 2019 impor minyak goreng dari Papua Nugini tercatat senilai USD 2,4 juta atau 5.566 ton, nilainya meningkat 1.630 persen dibandingkan April 2019 yang sebesar USD 141.048 atau 216 ton.
ADVERTISEMENT
Begitu juga dibandingkan dengan Mei 2018 yang hanya USD 1,2 juta atau 1.085 ton, impor minyak goreng asal negeri yang berbatasan dengan Provinsi Papua tersebut meningkat dua kali lipatnya atau 100 persen (yoy).
Minyak goreng asal Thailand selama bulan lalu senilai USD 1,8 juta atau 2.149 ton. Nilai tersebut meningkat 63 persen (mtm) dan meningkat lebih dari dua kali lipatnya atau 135 persen (yoy).
Adapun impor minyak goreng asal Singapura selama Mei 2019 senilai USD 22.392 atau 17,6 ton, nilainya turun 99 persen (mtm) dan turun 73 persen (yoy).
Sementara impor minyak goreng dari negara lainnya selama bulan lalu sebesar USD 906.763 atau 852 ton, nilainya meningkat 49,2 persen (mtm) dan naik 104 persen (yoy).
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan