Pencarian populer

Rini Heran Laporan Keuangan Garuda Indonesia Ditolak Kubu CT

Menteri BUMN Rini Soemarno (kiri) dan Dirut Bank BTN Maryono (kanan) di Purwakarta. Foto: Ema Fitriyani/kumparan

Menteri BUMN Rini Soemarno buka suara soal laporan keuangan PT Garuda Indonesia Tbk 2018 yang tengah ramai diperbincangkan lantaran ditolak oleh Chairal Tanjung dan Doni Oskaria sebagai komisaris perusahaan.

Rini mengaku heran kenapa laporan tersebut dipermasalahkan. Padahal, laporan tersebut secara utuh sudah dinilai oleh akuntan publik yang independen dan telah disetujui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelum Rapat Umum Pemegang Saham Tahun (RUPST) Garuda Indonesia pada Rabu (23/4).

"Itu yang saya enggak ngerti kenapa dipermasalahkan, karena secara audit sudah keluar dan itu kan pakai auditor terkenal. Sudah diregister terhadap OJK dan karena kita (Garuda) perusahaan publik, itu kan harus di-approve di OJK (laporan keuangannya)," kata dia saat ditemui di mesin penggilingan yang berada di Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (26/4).

Jajaran manajemen baru Garuda Indonesia berfoto usai RUPS Tahunan pada Rabu (24/4). Foto: Dok. Garuda Indonesia

Kedua komisaris yang menolak laporan keuangan 2018 Garuda merupakan perwakilan dari PT Trans Airways dan Finegold Resources Ltd yang menguasai 28,08 persen saham GIAA. Trans Airways merupakan perusahaan milik pengusaha Chairul Tanjung (CT).

Alasan keduanya menolak laporan keuangan tersebut, berhubungan dengan Perjanjian Kerjasama Penyediaan Layanan Konektivitas Dalam Penerbangan antara PT Mahata Aero Teknologi dan PT Citilink Indonesia tanggal 31 Oktober 2018 lalu beserta perubahannya.

Garuda Indonesia diketahui memang menjalin kerja sama tersebut untuk menyediakan layanan wifi gratis pada sejumlah pesawat. Dari kerja sama tersebut GIAA sejatinya memang memperoleh pendapatan baru. Namun menurut Chairal, pendapatan GIAA dari Mahata sebesar USD 239,94 juta serta USD 28 juta yang didapatkan dari bagi hasil dengan PT Sriwijaya Air seharusnya tidak dicantumkan dalam tahun buku 2018.

Rini menjelaskan, meski Mahata belum membayar piutangnya ke Garuda Indonesia, menurutnya tak masalah dimasukkan dalam laporan keuangan Garuda. Alasannya, kata Rini karena perusahaan sudah berkomitmen membayarnya dalam kontrak 3 tahun ke depan sejak diteken 2018.

"Ya enggak apa-apa, sama aja kan seperti begini, kita kan bikin kontrak ini orang (Mahata) yang punya wifi ini kan internasional, jadi apa sih kita bukukan? Ya yang punya kontrak 3 tahun sama dia dengan dia mendapat exclusivity wifi Citilink. Dia itu sudah memberikan komitmen awal bahwa 3 tahun ini dia harus membayar berapa ke kita, sudah ada komitmen kontrak full bahwa dia harus membayar sekian," katanya.

Pesawat Garuda Boeing 747-400 di bandara Sukarno-Hatta di Tangerang. Foto: Adek Berry / AFP

Rini menilai Mahata bukan perusahaan abal-abal. Kata dia, reputasinya kredibel. Dia juga menegaskan bahwa jika piutang Mahata senilai USD 239,94 juta sudah dimasukkan dalam laporan keuangan 2018, maka takkan dimasukkan dalam laporan tahun depan.

"Kalau kita taruh di tahun 2018, kita enggak register lagi 2019 loh. Jadi yang 3 tahun ini sudah kita register di depan. Yang akan ada di 2019 adalah arus cash-nya, nilainya," ucap dia.

Kubu CT Tolak Laporan Keuangan Garuda Indonesia

Chairal yang mewakili perusahaan sang kakak di Garuda Indonesia mengaku sudah membuat keterangan tertulis dan meminta keterangan tersebut dibacakan saat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar Rabu (24/4).

Sayangnya permintaan tersebut tidak disetujui oleh pimpinan rapat sehingga hanya disertakan sebagai lampiran dalam laporan tahunan. Meski demikian, Chairal mengaku dirinya tidak membutuhkan penjelasan lebih lanjut dari manajemen soal beda pendapat tersebut.

Sebab, laporan tahun lalu nyatanya tetap diterima dan disetujui oleh pemegang saham dengan catatan dua dissenting opinion dari dua komisaris. Sehingga penolakan ini menurut Chairal hanya sebatas menyampaikan haknya sebagai komisaris.

Chairul Tanjung. Foto: Facebook @Chairul Tanjung

Seperti diketahui, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) berhasil mencatatkan kinerja positif pada kuartal I 2019. Garuda Indonesia membukukan laba bersih (net income) sebesar USD 19,7 juta atau sekitar Rp 275,8 miliar.

Angka ini tumbuh signifikan dari periode yang sama tahun lalu saat perseroan masih membukukan rugi sebesar USD 64,3 juta atau sekitar Rp 900 miliar. Manajemen GIAA mengklaim pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan peningkatan pendapatan usaha perseroan yang tumbuh sebesar 11,9 persen menjadi USD 1,09 miliar.

Sementara sepanjang tahun buku 2018, Garuda Indonesia mencatatkan keuntungan USD 809.846 atau setara Rp 11,5 miliar. Kinerja keuangan Garuda Indonesia menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun 2017 yang rugi USD 216,582 juta atau setara Rp 3,7 triliun.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60