Kumparan Logo

Rini soal Kerugian PLN Rp 18 Triliun: Cash Flow Masih Kuat

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri BUMN Rini Soemarno (kiri) dan Menkeu Sri Mulyani (kanan) di Gedung Ditjen Pajak, Kementerian Keuangan. (Foto: Ema Fitriyani/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Menteri BUMN Rini Soemarno (kiri) dan Menkeu Sri Mulyani (kanan) di Gedung Ditjen Pajak, Kementerian Keuangan. (Foto: Ema Fitriyani/kumparan)

PT PLN (Persero) baru saja merilis laporan keuangan triwulan III 2018. Perusahaan mencatat ada kerugian sebesar Rp 18,4 triliun pada kuartal III 2018. Kinerja keuangan PLN mengalami penurunan dibanding kuartal III 2017 yang berhasil meraup laba bersih Rp 3,06 triliun.

Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan, kerugian yang dialami BUMN kelistrikan itu karena pelemahan rupiah yang masih tertekan kurs dolar AS. Karena itu, secara akuntansi keuangan PLN terbebani. Tapi kerugian kurs itu hanya pencatatan di pembukuan saja. Kata Rini, keuangan PLN masih kuat.

"Jadi keadaan PLN itu sehat secara cash flow. Yang penting kondisi perusahaan itu bagaimana cash flow-nya, cash flow-nya sangat sehat,” kata dia saat ditemui di Gedung DJP, Jakarta, Rabu (31/10).

Kerugian kurs timbul karena banyak kontrak yang transaksinya menggunakan dolar AS. Ketika kurs melemah, sudah pasti ada unrealised loss pada pencatatan keuangan perusahaan.

“Urusan PLN itu adalah karena rupiah itu melemah sehingga ada yang dikatakan unrealised loss. PLN punya kewajiban dengan dolar AS, seringkali kontrak dengan IPP dalam dolar AS sehingga kalau saatnya nanti harus membayar pinjaman jangka panjang nanti harus bayar, kalau kursnya seperti ini maka akan terjadi loss seperti itu,” jelasnya.

Direktur Utama PLN Sofyan Basir pun sudah berkomentar. Ditemui di Istana Presiden, Jakarta, dia menyatakan bahwa kerugian tersebut hanya di pembukuan. Secara operasional, PLN mencetak laba sebelum selisih kurs sebesar Rp 9,6 triliun.

Dirut PLN, Sofyan Basir. (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Dirut PLN, Sofyan Basir. (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)

Namun berdasarkan standar akuntansi yang berlaku dan untuk keperluan pelaporan keuangan, pinjaman valas harus diterjemahkan (kurs) ke dalam mata uang rupiah sehingga memunculkan adanya pembukuan rugi selisih kurs yang belum jatuh tempo (unrealised loss) sebesar Rp 17 triliun.

Kerugian dari kurs sebesar Rp 17 triliun ini menggerus laba sebelum selisih kurs sehingga dalam pembukuan PLN tercatat rugi. Sebagian besar pinjaman PLN sebenarnya baru akan jatuh tempo pada 10-30 tahun mendatang.

"Bukan rugi riil, rugi pembukuan. Kan beda rugi usaha sama rugi keuangan. Rugi pembukuan itu kan ada kita punya utang misalnya utang dolar, hari ini kan enggak dieksekusi utangnya, enggak dilunasi. Kan cuma ada selisih kurs maka kita bukukan kerugian. Kamu punya utang USD 1 juta sekarang bayarnya 20 tahun lagi, waktu dolar naik utang kamu di kurs rupiah akan naik, tapi belum jadi beban, itu bedanya. Jadi enggak perlu panik, jadi (kerugian Rp 18,4 triliun) tidak riil," tegasnya