Sampah Plastik di Laut Labuan Bajo Akan Dipakai untuk Bahan Baku Aspal

Kementerin Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memberikan satu unit mesin pencacah plastik kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat. Nantinya, mesin itu akan digunakan untuk mengolah sampah plastik di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Labuan Bajo.
Setelah diolah menggunakan mesin itu, nantinya sampah plastik tersebut dapat dipakai sebagai bahan baku campuran teknologi sampah plastik. Mesin pencacah sampah itu merupakan hasil inovasi mahasiswa Fakultas Teknik UGM bekerja sama dengan BUMN, PT Barata Indonesia.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian PUPR Danis Sumadilaga mengatakan, aspal campur plastik dapat mengurangi sampah plastik yang ada di laut Indonesia. Di lain sisi, limbah plastik itu kini memiliki nilai ekonomi yang cukup baik.
"Yang terpenting adalah bagaimana plastik kresek yang semula tidak ada nilainya, kini bisa dimanfaatkan. Harganya bervariasi mulai dari Rp 2.000 sampai Rp 4.000 per kg. Dengan adanya mesin pencacah ini, muncul demand yang hasilnya bisa dibeli untuk campuran aspal," jelasnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (28/4).

Dia menyampaikan, teknologi aspal plastik sebelumnya telah dilakukan uji coba di berbagai lokasi, yakni Jakarta, Makassar, Bekasi, Denpasar, Tol Tangerang-Merak, dan Surabaya. Danis mengklaim, stabilitas aspal dicampur plastik lebih tinggi ketimbang aspal tanpa campuran, lebih kokoh, serta tidak beracun.
Menurut Danis, nantinya aspal campur plastik akan diberlakukan pada ruas jalan sekitar Bandara Komodo sepanjang 9 km. Adapun porsi plastik pada aspal campur plastik tersebut sebesar 6% dari jumlah aspal.
"Untuk 1 km jalan dengan lebar 7 meter dan ketebalan 4 sentimeter, diperlukan sebanyak 4 ton plastik. Sehingga untuk 9 km panjang jalan diperlukan 36 ton,” jelasnya.
