Kumparan Logo

Siapapun Presiden Terpilih Harus Piawai Negosiasi dengan China

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Joko Widodo, Xi Jinping dan Prabowo Subianto. Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A dan AFP/YOAN VALAT
zoom-in-whitePerbesar
Joko Widodo, Xi Jinping dan Prabowo Subianto. Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A dan AFP/YOAN VALAT

Presiden terpilih Indonesia di Pilpres 2019, harus piawai bernegosiasi dengan China terkait peluang-peluang investasi yang akan diambil negara itu di Indonesia. Peneliti Institute for Development of Economic and Finance (INDEF), M. Zulfikar Rakhmat, menilai China punya peran makin strategis dalam perekonomian global.

“Jadi kuncinya memang di negosiasi. Terkait investasi China di Indonesia, bukan semata-mata Indonesia yang membutuhkan China. Tapi justru China yang butuh Indonesia,” kata Doktor Ekonomi Politik dari University of Manchester, Inggris itu, kepada kumparan, Sabtu (13/4).

Dia mencontohkan, proyek kilang minyak dan pelabuhan terpadu yang dibangun bersama Arab Saudi dengan China. Proyek Yasref yang merupakan kongsi Aramco dengan Sinopec, dibangun dengan porsi pemilikian Arab Saudi di posisi mayoritas dengan 63 persen.

“Jadi kontrol dan peran strategisnya tetap dipegang Arab Saudi,” kata Fikar.

Menurutnya, dalam skema Belt and Road Initiative (BRI) yang sedang dijalankan China, Jakarta punya posisi strategis dalam peta jalur maritim baru. Sehingga menurutnya, tanpa Jakarta, jalur maritim yang menghubungkan China hingga Pelabuhan Rotterdam di Eropa itu tak akan terwujud.

Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto berjabat tangan saat mengikuti Debat Ke IV Pilpres 2019 di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Sabtu, (30/3). Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Sementara itu dalam investasi asing di Indonesia, peran China juga terus meningkat. Mengutip data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), China pada 2018 merupakan negara dengan investasi terbesar ketiga di Indonesia, setelah Singapura dan Jepang. Padahal dalam lima tahun sebelumnya, posisi China masih di ranking belasan.

Tapi pada sisi lain, persepsi positif masyarakat Indonesia terhadap China cenderung menurun. Dalam sebuah laporan baru-baru ini oleh Pew Research Center, orang Indonesia yang memiliki pandangan baik tentang China telah menurun dari waktu ke waktu.

Pada tahun 2018, ada 53 persen masyarakat yang memiliki pandangan yang baik tentang China, menurun dibandingkan dengan 66 persen pada tahun 2014.

Atas dasar itu, siapa pun presiden terpilih nantinya, perlu menavigasi hubungan Indonesia dengan China.