Siasat Buwas Genjot Pendapatan Bulog yang Makin Tergerus

Pemerintah telah memutuskan untuk mengganti program bantuan sosial berupa pembagian beras untuk warga miskin, yang dinamai Beras Sejahtera (Rastra). Program itu kini diganti dengan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).
Perubahan Rastra menjadi BPNT itu berdampak kepada Perum Bulog. Direktur Utama Bulog Budi Waseso mengatakan, pendapatan Bulog bisa tergerus. Sebab selama ini penyaluran bantuan beras untuk masyarakat miskin adalah salah satu sumber pendapatan utama Bulog, kini penyaluran mulai berkurang.
Sebagai gambaran jumlah pagu bansos Rastra periode Januari-April 2019 hanya sebanyak 213.520 ton untuk 5,30 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Bandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 1 juta ton untuk 4 bulan.
“Kan penugasan kita makin kecil makin kecil. Akhirnya kita dengan stok yang sekian banyak ini, ancaman sebenarnya untuk Bulog ke depan bagaimana kita mempunyai stok yang banyak tetapi kita tidak bisa mendistribusikan karena tidak ada penugasan lagi,” ucapnya saat ditemui usai gelaran acara HUT Bulog ke-52 di Kantor Cabang Gudang Divre Bulog, Jakarta, Sabtu (27/4) malam.
Sementara itu Bulog tetap harus menyerap gabah dan beras sebanyak-banyaknya untuk menjaga keseimbangan harga di tingkat petani. Dengan demikian Bulog terus menyerap, sementara saluran distribusi berkurang.
Dengan kondisi seperti ini, Bulog harus mengambil langkah inovatif, meningkatkan komersial atau lini bisnis. Karena itu, Bulog mendorong adanya produk-produk baru untuk terus menghidupkan arus distribusi beras.
“Tentunya ini bukan (pekerjaan) mudah, karena kita berhadapan dengan kompetitor kompetitor kita yang sudah jago-jago menguasai pasar,” lanjutnya.
Bulog baru saja meluncurkan 7 produk unggulan. Rinciannya adalah 5 produk beras unggulan dan 2 produk turunannya. Rencananya penjualan produk-produk Bulog akan dilakukan melalui offline dan online, seperti e-commerce.
Selain dari sisi inovasi produk, Bulog juga sedang menjajaki rencana ekspor beras pada tahun ini. Saat ini, Buwas bilang, sedang melakukan negosiasi kepada calon pasar potensial. Hanya saja Buwas juga menegaskan bahwa ada tantangan untuk melakukan ekspor, yaitu terkait harga.
Biaya produksi beras Indonesia cukup mahal jika dibandingkan dengan beberapa negara seperti Thailand. Berdasarkan data Bank Dunia per Januari 2019, rata-rata harga beras Thailand dari kualitas rendah hingga premium berkisar antara USD 387-410 per ton alias Rp 5.418-5.740 per kg (asumsi kurs dolar AS Rp 14.000).
Sedangkan di Indonesia, menurut data dari Informasi Pangan Jakarta, rata-rata harga beras dari kualitas rendah hingga premium berkisar antara Rp 9.473-11.698 per kg.
Meski demikian, Buwas tetap optimistis dapat merealisasikan ekspor dengan cara meningkatkan kualitas beras, sehingga bisa dihargai tinggi.
“Kita tidak pernah menyerah, oleh sebab itu saya dengan Presiden dan Mentan (Menteri Pertanian) secara khusus dengan Bulog, kita menyerap dan memproduksi beras berkualitas dan membangun teknologi untuk meningkatkan kualitas itu (beras). Sehingga kita bisa melakukan ekspor, Insyaallah kalau Tuhan izinkan dalam waktu dekat kita sudah bisa ekspor,” tuturnya.
