Stok Melimpah, Harga Garam Anjlok

Para petani garam kini tengah mengeluhkan harga garam yang anjlok. Hal ini ditengarai terjadi karena kelebihan stok garam, baik dari sisa impor garam tahun lalu maupun produksi dalam negeri.
Apalagi, saat ini, para petani tengah memasuki masa panen hingga bulan November mendatang.
Ketua Asosiasi Petani Garam Indonesia (APGRI) Jakfar Sodikin menyebutkan, harga garam produksi rakyat kualitas unggul (KW I) saat ini ada di level Rp 600 per kilogram (kg).
Sementara, untuk garam jenis KW II ada di level Rp 500 per kg dan KW III sebesar Rp 400 per kg.
"Ini harganya jatuh sekali. Di tahun lalu, itu garam KW I dibanderol Rp 1.500, KW II sebesar Rp 1.300, sekarang karena over stok harganya jadi murah. Serapan juga rendah, enggak laku," katanya saat dihubungi kumparan, Kamis (4/7).
Banyaknya stok yang masih tersedia dan minimnya serapan, menurut Jakfar terjadi karena akumulasi impor yang tinggi dari tahun 2018.
Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), stok garam rakyat produksi 2018 yang belum terserap sebanyak 237.068,86 ton. Selain itu, juga ada stok garam produksi PT Garam sebanyak 198.000 ton.
Hingga hari ini (4/7), KKP juga mencatat produksi garam oleh petambak dan PT Garam sudah mencapai 13.664,21 ton. Dengan rincian, sebanyak 3.164,21 ton garam rakyat dan 10.500 ton garam produksi PT Garam.
"Kami meminta agar pemerintah mengatur data kebutuhan pasti dari industri, khususnya untuk industri aneka pangan. Supaya impor jangan berlebihan yang menyebabkan over stok seperti ini," tutup Jakfar.
