Kumparan Logo

Thomas Lembong: Kita Mesti Rebutan dengan Malaysia untuk Gaet Investor

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala BKPM Thomas Lembong. Foto: Instagram/@tomlembong
zoom-in-whitePerbesar
Kepala BKPM Thomas Lembong. Foto: Instagram/@tomlembong

Sepanjang 2018, realisasi investasi Indonesia hanya Rp 721,3 triliun atau 94 persen dari target yang ditetapkan. Pertumbuhan investasinya pun hanya sekitar 4 persen, lebih rendah dari pertumbuhan sepanjang 2017 yang berada di atas 10 persen. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mengatakan, Indonesia mesti memberikan insentif yang lebih agresif lagi kepada investor. Menurut dia, selama ini, kinerja Indonesia kalah saing dengan Vietnam hingga Malaysia dalam menggaet investor. "Hemat saya masih banyak peluang untuk tawarkan insentif yang lebih agresif karena terus terang kita mesti rebutan dengan tetangga dan kita masih kalah jauh dengan negara saingan seperti Vietnam, Thailand, bahkan Malaysia. Mereka kinerjanya lebih baik dalam menarik investasi global sejauh ini," kata Lembong ditemui usai acara Indonesia Economic and Investment Outlook 2019 di kantornya, Jakarta, Rabu (6/2). Salah satu insentif yang diberikan pemerintah adalah tax holiday. Dia mengatakan, tahun lalu ada sekitar 7 sampai 8 proyek dengan nilai investasi Rp 150 triliun yang sudah menikmati kemudahan ini sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan tentang aturan tax holiday yang baru. Karena itu, tahun ini, Lembong mengatakan, semua pihak harus bekerja lebih keras lagi untuk mengeluarkan inovasi agar investasi terus masuk. Tahun ini, BKPM menargetkan investasi Rp 792,3 triliun dari dalam dan luar negeri. Salah satunya cara yang bakal dilakukan pemerintah, kata Lembong, dengan memberikan insentif fiskal untuk pelatihan vokasi. Kata dia, perusahaan mesti mengeluarkan uang lebih banyak untuk mendidik pekerjanya supaya terampil terhadap teknologi dan digital. "Misal, Pak Menperin (Airlangga Hartarto) tadi sampaikan fiskal insentif untuk pelatihan vokasi. Untuk itu, beberapa bulan dibicarakan soal super deduction, jadi misalnya untuk setiap Rp 10 ribu yang keluar untuk melatih pekerja, dia (perusahaan) boleh kurangi Rp 20 ribu dari penghasilan yang dipajak. Itu mekanisme super deduction untuk insentif bagi perusahaan," ucap Lembong.

Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian. Foto: Antara/Wahyu Putro A

Sementara itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, iklim investasi tahun ini tidak akan seburuk tahun lalu. Optimisme itu, kata dia, terbangun khususnya di sektor industri dengan kerja sama yang baik bersama BKPM. Hal ini terlihat pada pada proyek-proyek utama petrokimia dan baja yang kata dia sudah mulai menggeliat di Indonesia. Sebagai contoh, kata dia, perusahaan asal Korea yaitu Lotte telah melakukan groundbreaking yang proyeknya akan selesai di 2022. Lotte bakal membangun pabrik produk plastik dan turunannya di Indonesia. Kemudian, di Krakatau Steel, pemerintah juga rencanakan bakal ada 10 ton produksi sampai 2022. Proyek nilai tambah lainnya adalah bertambahnya klaster manufaktur di Cilegon. Pun dengan di Jawa Timur dengan adanya rencana pembangunan smelter PT Freeport Indonesia untuk mengolah tambang dari Papua. Kata dia, smelter terakhir dibangun di Gresik saat era Presiden Soeharto. Jadi, dengan masuk lagi industri copper smelter, masuk lagi industri refinery, tambahan lagi industri baja di Sulawesi Tengah yang sekarang sudah bisa mengekspor USD 5 miliar termasuk menaikkan ekspor ke Amerika sebesar 78 persen. "Itu menunjukkan bahwa industri itu makin diminati tidak hanya oleh investor di dalam negeri yang melakukam ekspansi tetapi juga investor luar negeri. Dan ini pembicaraan sudah mulai dan mereka akan masuk di-controlling untuk ekspansi. Nah ekspansi-ekspansi ini adalah ekspansi yang selama hampir dua dekade ini berhenti. Sekarang ini semua mulai bergerak kembali sehingga apa yang kita sebut sebagai confident pelaku industri itu sudah semakin tinggi," jelas dia.