Kumparan Logo

Tiket Pesawat Mahal Picu Inflasi Sejak November 2018

kumparanBISNISverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
com-Tiket Pesawat Murah Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
com-Tiket Pesawat Murah Foto: Shutterstock

Mahalnya harga tiket pesawat telah berlangsung sejak akhir tahun lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) pun melihat adanya pola yang tak biasa pada kenaikan harga tiket pesawat dan memicu inflasi.

Sejak November 2018 hingga April 2019, tiket pesawat masih menjadi 'biang kerok' laju inflasi. Padahal di tahun-tahun sebelumnya, yakni Oktober-November atau Februari dan Maret harga tiket pesawat tak pernah menjadi komoditas yang diperhitungkan menyumbang inflasi. Sebab periode tersebut tergolong dalam low season alias sepi, sehingga andil komoditas ini ke inflasi sangat rendah.

Baru lah di penghujung tahun lalu, mahalnya tiket pesawat yang berlangsung sejak Oktober 2018 mulai terekam oleh data BPS sebagai salah satu komoditas yang menyumbang inflasi di November 2018.

Pada November 2018, tercatat laju inflasi sebesar 0,27 persen secara bulanan atau month to month (mtm). Kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami inflasi sebesar 0,56 persen dengan andil sebesar 0,10 persen ke total inflasi November.

Secara rinci, inflasi kelompok transportasi tersebut utamanya disumbang oleh kenaikan tarif angkutan udara yang memiliki andil sebesar 0,05 persen terhadap total inflasi November.

Begitu juga pada Desember 2018 yang terjadi inflasi 0,62 persen (mtm). Tarif angkutan udara menjadi penyumbang inflasi terbesar kedua setelah pangan, dengan andil 0,19 persen terhadap inflasi umum.

Di Januari 2019 yang mencatatkan inflasi 0,32 persen (mtm), tarif angkutan udara menyumbang inflasi 0,02 persen.

Lion Air dan Garuda Indonesia di Bandara Internasional Soekarno-hatta, Jakarta. Foto: AFP/Adek BERRY

Sedangkan Februari 2019, meskipun tercatat deflasi 0,08 persen (mtm), namun tarif pesawat masih mencatatkan kenaikan harga dan menyumbang inflasi 0,03 persen.

Pada Maret 2019 yang mencatatkan inflasi 0,11 persen (mtm), kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami inflasi sebesar 0,1 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi, yaitu tarif angkutan udara sebesar 0,03 persen.

Adapun selama bulan lalu, tercatat inflasi sebesar 0,44 persen (mtm) dengan andil tarif angkutan udara sebesar 0,03 persen terhadap inflasi umum.

BPS juga mencatat rata-rata kenaikan harga tiket pesawat secara nasional mencapai 11 persen dari April 2018-April 2019 atau secara tahunan (yoy).

Beralih Moda Transportasi

Akibat mahalnya tiket pesawat, masyarakat mulai beralih ke moda transportasi lainnya yang lebih terjangkau, salah satunya kapal laut.

Kepala BPS Suhariyanto menuturkan, switching tersebut merupakan hal yang biasa dilakukan masyarakat. Ketika suatu moda transportasi sepi penumpang, maka moda transportasi lainnya akan mengalami kenaikan.

Hal tersebut terbukti dengan meningkatnya jumlah penumpang kapal laut. Pada Maret 2019, jumlah penumpang kapal laut naik 3,48 persen (mtm) dan naik 7,68 persen (yoy) menjadi 1,71 juta penumpang.

Secara kumulatif sejak Januari-Maret 2019, jumlah penumpang kapal laut mencapai 5,1 juta penumpang atau meningkat 5,62 persen (yoy).

Begitu juga dengan transportasi kereta api (KA) rute Jawa dan Sumatera yang mencapai 35,8 juta penumpang atau naik 12,08 persen (mtm) di Maret 2019.

Secara rinci, penumpang KA tujuan non-Jabodetabek mencapai 6,7 juta orang atau naik 12,13 persen (mtm). Sementara penumpang KA Sumatera mencapai 683 ribu atau naik 10,7 persen (mtm) di Maret 2019.

Ilustrasi kereta api. Foto: Thinkstock

Jika diakumulasikan sejak Januari-Maret 2019, jumlah penumpang KA non-Jabodetabek mencapai 19,3 juta penumpang atau naik 10,78 persen. Penumpang KA Sumatera pun naik 12,26 persen menjadi 1,9 juta penumpang.

Penumpang Pesawat Turun

Jumlah penumpang pesawat tujuan domestik anjlok akibat mahalnya harga tiket dan meningkatnya moda transportasi lain. Pada Maret 2019, jumlah penumpang pesawat hanya mencapai 6,03 juta penumpang, turun 21,94 persen (yoy).

Jika diakumulasikan sejak Januari-Maret 2019, jumlah penumpang angkutan udara domestik mencapai 18,3 juta orang atau turun 17,66 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 22,2 juta orang.

Jumlah penumpang terbesar tercatat di Soekarno Hatta-Jakarta mencapai 4,3 juta orang atau 23,58 persen dari keseluruhan penumpang domestik, diikuti Juanda-Surabaya 1,5 juta orang atau 8,27 persen.

Kepala BPS Suhariyanto pun berharap ada kebijakan dari pemerintah agar harga tiket pesawat bisa turun, mengingat masa puasa dan Lebaran akan kembali mendorong permintaan.

"Tarif pesawat masih mengalami kenaikan harga, belum turun. Mudah-mudahan ada kebijakan yang mampu menurunkan harga tiket ini, karena kita tahu permintaan akan melonjak pada Ramadhan dan Lebaran. Bahkan di Banjarmasin rata-rata harga tiket naik 23 persen, ini sebagai contoh," tambahnya.