Kumparan Logo

Tumpahan Minyak di Karawang Melebar, 10 Desa dan 7 Pantai Terdampak

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga mengumpulkan tumpahan minyak (Oil Spill) yang tercecer di Pesisir Pantai Cemarajaya, Karawang, Jawa Barat. Foto: ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar
zoom-in-whitePerbesar
Warga mengumpulkan tumpahan minyak (Oil Spill) yang tercecer di Pesisir Pantai Cemarajaya, Karawang, Jawa Barat. Foto: ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar

Semburan minyak dan gelembung gas dari Lapangan YYA-1 milik PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ), di Pantai Utara Jawa, Karawang, Jawa Barat, hingga pagi ini, Senin (29/7) masih terjadi.

Pola sebaran tumpahan minyak (oil spill) ke arah Barat dengan potensi panjang pesisir yang terdampak mencapi 52 mil atau 83,7 kilometer.

Plt Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM, Djoko Siswanto, mengatakan akibat tumpahan minyak yang melebar tersebut, jumlah desa yang terdampak semakin banyak.

Menurut dia, berdasarkan data terbaru yang diterima pagi tadi, tumpahan minyaknya sudah ke 10 desa dan 7 pantai, masuk hingga ke hutan mangrove.

"Sebanyak 8 desa di Karawang, 2 desa di Bekasi, dan 7 pantai ditemukan tumpahan minyak," kata Djoko di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (29/7).

Dengan melebarnya potensi tumpahan minyak ini, pengelolaan limbah di Karawang dan Bekasi pun terus ditingkatkan, seperti di shoreline sudah dipasang oil boom onshore sepanjang 1.430 meter dan melanjutkan pembersihan limbah di area mangrove.

Sebanyak 17.830 karung telah dihasilkan dari pembersihan minyak di bibir pantai.

embed from external kumparan

Adapun berdasarkan data Kementerian Perhubungan, kata Djoko, kejadian ini masuk tahap Tier 1. Penanganan masih dilakukan internal Pertamina dengan meminta bantuan berbagai pihak termasuk perusahaan asing, yakni Haliburton Boots and Coots.

"Secara paralel, tim mulai membuat rencana penanganan dampak masyarakat dan lingkungan 3 bulan ke depan," ucap dia.

Sementara itu, dalam memonitor efektivitas static boom untuk menghambat penyebaran tumpahan minyak, Pertamina melanjutkan recovery minyak di Static Boom dengan Skimmer sebanyak 6 unit, yakni 2 unit di Victory, 1 unit di Dunamos, 1 unit di Garuda, dan 2 di Transko Andalas.

Total limbah terkumpul 7.000 liter, 32 trash bag, yang diangkat dan dikirim ke darat sebanyak 9.250 kilogram.

Warga mengumpulkan tumpahan minyak (Oil Spill) yang tercecer di Pesisir Pantai Cemarajaya, Karawang, Jawa Barat. Foto: ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar

Pertamina dan Oil Spill Combat Team (OSCT) juga menambah 2 Giant Octopus Skimmer. Selain itu juga melibatkan 25 kapal nelayan melakukan pengambilan limbah tetap berlangsung.

Offshore boat 32, boom terpasang 3.700 meter, spare 1.200 di shore base Maruda, dan 2.325 meter oil boom onshore sudah berada di Karawang. 1 Barge & Tug sudah di lokasi, 1 LCT tanpa crane sudah di lokasi, 1 Barge & Tug siang ini menuju lokasi.

"Semua kru dan tim tambah terus baik untuk tangani yang oil spill dan untuk penutupan sumur. Para ahli sudah didatangkan lokal dan asing. Dari Haliburton Boots and Coots," lanjutnya.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengatakan, oil boom memang perlu diperbanyak untuk menahan tumpahan oil melebar ke pantai dan pemukiman.

Targetnya, jangan sampai minyak yang terus muncul saat ini terbawa ke pantai. Dia mengatakan kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi Pertamina sebagai kontraktor agar tak terjadi di kemudian hari.

"Pekerjaan pertama atasi dampak lingkungan, mestinya diperbaiki sedemikian mungkin, supaya enggak ke arah pantai. Oil boom diperbanyak, di sana mestinya bisa disedot, supaya bisa kurangi dampak tadi. Ada upaya-upaya lebih keras lagi ke depan," kata dia.