Pencarian populer

Turki Pamerkan Drone Canggih, Bisa Terbang 24 Jam Nonstop Tanpa Awak

Drone canggih Turki ANKA dipamerkan di Indo Defence 2018 Ekspo & Forum di Jakarta Expo Internasional Kemayoran. (Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan)

Turkish Aerospace Industries (TAI) menarik perhatian pengunjung di Indo Defence 2018 Ekspo & Forum dengan memamerkan drone canggih tanpa awak dengan ukuran sebenarnya (full size) tak kurang dari 17 meter bernama ANKA.

Drone tersebut berupa mockup drone bersenjata alias UCAV (Unmanned Combat Aerial Vehicle) yang dilengkapi dengan dua hardpoint senjata pada kedua sayapnya.

Staf TAI Ali Ataselim mengatakan, drone itu dibekali dengan senjata rudal udara ke permukaan Smart Micro Munition (MAM-L) yang juga bisa dipasangi roket 2,75 inchi lengkap dengan pengendali.

"Drone ini bisa terbang hingga 20 ribu feet. Selain itu, juga mampu mengangkut beban hingga 200 kilogram serta dilengkapi kamera dan sejumlah sensor," katanya ketika ditemui kumparan di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (9/11).

Drone Buatan Anak Negeri yang Diekspor ke Luar Negeri di TEI 2018 (Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan)

Tak hanya itu, ANKA merupakan jenis MALE (Medium Altitude Long Endurance) buatan Amerika Serikat (AS).

"Sebagai drone MALE, ANKA-S dapat terbang selama 24 jam nonstop di ketinggian 9.200 meter di atas permukaan laut," kata dia.

Ia menambahkan, kecanggihan ANKA ini juga dibekali dengan generasi terbaru sensor optical electronic, perangkat Identification Friend of Fue (IFF), laser range finder dan laser designator yang diklaim mampu menyasar target dengan akurat.

"Saat ini digunakan tentara Angkatan Darat Turki," ucapnya.

ANKA ini juga dipercanggih dengan teknologi kendali hingga avionik drone. Kesemuanya itu, telah disokong oleh Synthetic Aperture Radar (SAR), Inverse SAR (ISAR) dan Ground Moving Target Indicator (GMTI) yang digunakan sebagai radar untuk mengidentifikasi, mendeteksi, hingga menangkap jejak pada sasaran yang bergerak di permukaan.

Sementara, pada bagian hidung ANKA memang tampak lebih besar. Diketahui, hal itu disebabkan bagian dalam radome terdapat Satellite Communications (SATCOM) antena dari jenis ViaSat VR-18C high-power yang cukup memakan ruang.

Ditanya soal kerja sama dengan Indonesia, Ali hanya menjawab singkat. "Kita berharap secepatnya ke depan kita bisa bekerja sama," tutupnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Sabtu,25/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23