Kumparan Logo

Upaya RI Redam Ancaman Perang Dagang Duterte Masih Gagal

kumparanBISNISverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rodrigo Duterte Foto: REUTERS/Erik De Castroe
zoom-in-whitePerbesar
Rodrigo Duterte Foto: REUTERS/Erik De Castroe

Sejak Agustus 2018 lalu, pemerintah Filipina menerapkan aturan Special Safeguard (SSG) pada dua komoditas ekspor asal Indonesia yakni minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) dan kopi saset. Dengan aturan ini, kedua komoditas itu sulit masuk ke sana.

Upaya lobi-lobi pun terus dilakukan pemerintah Indonesia. Kementerian Perdagangan Indonesia bolak-balik melakukan komunikasi dengan Filipina, termasuk ke Presiden Rodrigo Duterte. Tapi upaya tersebut nampaknya masih belum bisa melunakkan Filipina, terlihat dari penolakan yang disampaikan Wakil Menteri Pertanian Segfredo Serrano beberapa waktu lalu. Tampaknya, negosiasi untuk meredakan perang dagang antara Indonesia-Filipina masih panjang. Berikut kumparan rangkum mengenai proses negosiasi dengan pemerintah Filipina:

1. Kementerian Pertanian Filipina Tak Setuju Lobi-lobi Indonesia

Dikutip The Philipine Star, Serrano mengatakan, Indonesia telah melakukan penawaran serta lobi-lobi agar ekspor kopi saset ke Filipina tak dihambat. Salah satunya, PT Mayora Indah Tbk bakal membangun pabrik kopi saset di sana.

Tapi, lobi tersebut sejauh ini belum berhasil karena pemerintah Filipina bergeming. Kata Serrano, langkah Indonesia tidak sesuai dengan aturan hukum di negaranya. Urusan investasi dan perdagangan tidak bisa dicampur aduk. Serrano pun mengaku merasa terhina atas sikap Indonesia.

“Mereka mengangkat masalah ini kepada Presiden. Mereka menyiapkan perjanjian tanpa mempelajari hukum kita dan mereka ingin kita mencabut SSG secara permanen. Mereka ingin berinvestasi di sini, tetapi syaratnya kita angkat SSG. Saya merasa terhina bahwa mereka membuat tuntutan ini,” kata dia.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (tengah), Ambassador of The Russian Federation in The Republic of Indonesia He Lyudmila Vorobieva (kedua dari kiri), Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia Muhammad Anshor (kedua dari kanan) Hartanto Gunawan (kiri) Presiden Direktur Utama Mayora Andre Atmadja (kanan) saat konferensi pers tentang Mayora sukses menembus pasar ekspor ke Rusia di Gedung Mayora Group, Jakarta, Rabu (6/2/2019). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

2. Mayora Diminta Terus Melobi Filipina untuk Bangun Pabrik Kopi di Sana

Menanggapi hal itu, Global Marketing Director PT Mayora Indah Tbk Ricky Afrianto mengatakan, pihaknya masih terus melakukan lobi-lobi dengan pemerintahan Duterte.

“Saat ini kita dalam tahap nego,” ujarnya ketika dikonfirmasi kumparan, Rabu (20/3).

Sebelumnya diberitakan, Mayora berencana ekspansi dengan membangun pabrik di Filipina. Direktur Utama Mayora, Andre Sukendra Atmadja, mengatakan rencana pembangunan pabrik tersebut merupakan salah satu hasil keputusan dari perundingan antara Indonesia dan Filipina.

Dana yang dikeluarkan Mayora untuk investasi pabrik di Filipina sebesar USD 50 juta-USD 75 juta.

Dirjen Perdagangan Luar Negeri, Oke Nurwan. Foto: Resya Firmansyah/kumparan

3. Pemerintah Indonesia Bakal Bantu Mayora Rayu Duterte

Atas penolakan ini, pemerintah Indonesia menyatakan bakal tetap membantu PT Mayora Indah Tbk (MYOR) agar bisa membangun pabrik kopi di Filipina.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Indonesia, Oke Nurwan mengatakan, diplomasi ini terus dilakukan pemerintah agar Presiden Rodrigo Duterte mau melunak dari ancaman perang dagang yang dilakukan Filipina ke Indonesia.

"Upaya diplomasi pemerintah RI tetap akan di lanjutkan. Tidak hanya untuk kepentingan Mayora semata, tetapi untuk kepentingan ekspor komoditi lainnya ke Filipina," kata Oke saat dihubungi kumparan.

Meski begitu, kata Oke, keputusan Duterte yang tetap menerapkan SSG pada dua komoditas ekspor Indonesia merupakan hak negara mereka untuk melindungi industri di dalam negeri.

Tapi, Oke enggan menjelaskan lebih detail diplomasi lainnya yang bakal dilakukan Indonesia untuk merayu Duterte. Yang pasti, Oke menilai, Filipina merupakan rekanan penting dalam mitra dagang Indonesia selama ini.

"Filipina adalah salah satu mitra dagang ekspor Indonesia yang penting," ucap Oke.