Pencarian populer

Venezuela Terus Terpuruk, Akankah Buku Bacaan Prabowo Terbukti?

Antrean warga di luar toko bangunan di Punto Fijo, Venezuela, untuk menjual barang-barang mereka. Foto: Reuters/Carlos Garcia Rawlins

Venezuela pernah menjadi produsen utama minyak dunia di antara negara-negara pengekspor minyak atau OPEC (Organization of The Petroleum Exporting Countries). Tapi negara itu terus terpuruk, dibelit krisis ekonomi dan politik.

Data Badan PBB untuk Urusan Pengungsi atau UNHCR mengungkapkan, sudah 3,4 juta penduduk Venezuela mengungsi ke negara-negara sekitarnya. Angka itu sudah lebih dari 10 persen populasi Venezuela yang sekitar 32 juta jiwa (2017).

Jumlah pengungsi terus melonjak sejak 2017. UNHCR memproyeksikan, jumlah penduduk Venezuela yang eksodus dari negaranya pada akhir tahun ini, bisa menembus 5,3 juta orang. “Angka ini harus jadi perhatian dunia internasional, di tengah sorotan ke politik dalam negeri Venezuela,” kata Perwakilan UNHCR untuk pengungsi Venezuela, Eduardo Stein.

Arus pengungsian yang terus berlangsung di tengah krisis, mengingatkan pada buku karya ekonom Daron Acemoglu dan James A. Robinson, berjudul Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty (2012).

Buku yang diterbitkan dalam Bahasa Indonesia dengan judul Mengapa Negara Gagal: Awal Mula Kekuasaan, Kemakmuran, dan Kemiskinan (2017) itu, menggambarkan bahwa di dunia ini ada negara begitu kaya, tapi ada pula yang jatuh miskin, bahkan kemudian punah.

Buku inilah yang menjadi bacaan Prabowo Subianto, saat menghadapi debat kedua Pilpres 2019 pada Minggu (17/2) lalu.

Prabowo tandatangani buku Paradoks Indonesia. Foto: Dok. Istimewa

Setelah membaca buku tersebut, Prabowo sebagai purnawirawan yang sebenarnya dapat menikmati masa pensiun, mengaku tak ingin beristirahat. Dia beralasan, “Saat ini kekayaan Indonesia hanya dinikmati segelintir orang saja. Saya melihat bangsa Indonesia di ujung punah."

Kondisi ekonomi Indonesia tentu jauh lebih baik dari Venezuela yang porak poranda. Jika tak kunjung membaik, akankah Venezuela menjadi bukti adanya negara punah, seperti buku bacaan Prabowo?

Kaya Minyak, Gagal Makmur Hingga sepuluh tahun lalu, produksi minyak Venezuela ada di kisaran 3 juta barel per hari. Minyak merupakan sumber pendapatan utama Venezuela. Hampir 100 persen penerimaan ekspornya, berasal dari minyak.

Perusahaan Migas Venezuela PDVSA Foto: Reuters/Marco Bello

Tapi kini produksinya tinggal sepertiga, atau sekitar 1 juta barel per hari. Anjloknya produksi minyak terjadi akibat perusahaan migas negara itu, PDVSA, sejak 2002 hampir tak melakukan investasi baru.

Mesin dan teknologi yang digunakan sudah ketinggalan zaman. Demikian juga tak ada pelatihan yang memadai, bagi para tenaga kerja di bisnis ini.

Anjloknya produksi di tengah harga minyak yang terus bertahan rendah, menyempurnakan kesulitan Venezuela untuk keluar dari belitan krisis ekonomi.

Laporan terbaru Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF), menyebut inflasi negara itu mencapai 1,4 juta persen. Dalam bahasa sederhana, Venezuela mengalami hiperinflasi.

Hal ini bisa dilihat oleh naiknya harga barang. Sekilo tomat harganya bisa lebih dari 6 juta bolivar. Seekor ayam dihargai 14,6 juta bolivar. Bahkan secangkir kopi bisa dihargai sampai 2 juta bolivar.

Nilai tukar mata uang Venezuela, bolivar, juga terus terpuruk hingga 40.000 per dolar AS. Padahal dalam kondisi ekonomi normal hanya 175 per dolar AS. Melihat kondisi ini, Presiden Nicolas Maduro kemudian memotong 5 angka nol di mata uang bolivar.

Pembayaran Barter di Venezuela Foto: Reuters

Biaya hidup yang semakin mahal, membuat 1,3 juta orang Venezuela kekurangan gizi. Tragisnya, mereka yang sakit tak bisa mendapatkan perawatan, akibat kelangkaan obat-obatan dan perlengkapan medis. Kualitas layanan rumah sakit memburuk.

Berbagai jenis penyakit yang pernah hilang di negara itu, kini muncul lagi. Seperti campak, malaria, tuberkulosis, dan difteri. Lebih dari 100 ribu penduduk Venezuela juga terjangkit HIV/AIDS, sehingga berisiko menghadapi kematian, karena tak ada perawatan.

AS Pengganggu dan Pembeli Setia Ekonomi Venezuela yang centang perenang, diperparah oleh krisis politik. Rakyat kehilangan kepercayaan terhadap Presiden Nicolas Maduro, hingga memunculkan tokoh oposisi Juan Guaido sebagai presiden tandingan.

Presiden tandingan Venezuela Juan Guaido dan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Foto: REUTERS/Carlos Garcia Rawlins

Amerika Serikat (AS) telah secara terbuka menyatakan dukungan bagi Guaido. Tapi Maduro yang didukung militer, masih terlalu kuat untuk ditumbangkan. Hingga AS harus meminta sekutu-sekutunya di Uni Eropa mendukung Guaido juga.

Di tengah intervensi politik Negara Paman Sam itu, dia tetap menjadi pembeli setia minyak produksi Venezuela.

Ke mana krisis Venezuela akan berakhir? Waktu yang akan menjawabnya. Tapi lembaga kajian AS, Center for Strategic and International Studies (CSIS) pernah memunculkan empat skenario terkait masa depan Venezuela.

Salah satu dari empat skenario yang disodorkan adalah, Venezuela menjadi bangsa gagal, punah akibat konflik masyarakat sipil. “Ini adalah skenario terburuk, akibat perkubuan kelompok masyarakat yang menajam, hingga menjadi konflik bersenjata,” tulis peneliti CSIS, Moises Rendon dan Mark L. Schneider.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Kamis,23/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.22