A-Z Piala Super Eropa yang Perlu Kamu Tahu

Kamis (15/8/2019) dini hari WIB, Besiktas Park bakal menjadi saksi bisu pertandingan Piala Super Eropa yang mempertemukan Liverpool dengan Chelsea. Liverpool boleh tampil di kompetisi ini setelah menjuarai Liga Champions 2018/19. Pada musim yang sama, Chelsea pun menjadi kampiun Liga Europa.
Dan seperti yang sudah-sudah, kumparanBOLA bakal menyuguhkan ragam informasi menarik menyoal kompetisi berusia 47 tahun ini dari A-Z dalam format tanya-jawab. Jadi, tanpa menunggu lama lagi, boleh kami mulai?
Tell me something new...
Hmm, oke. Tahu, tidak, ide kompetisi Piala Super Eropa bukan muncul dari pegawai UEFA, melainkan dari jurnalis?
Hah? Kok, bisa?
Jadi, begini.
Di awal era 70-an, Ajax Amsterdam sempat mendominasi Eropa dengan filosofi total voetball-nya. Sampai-sampai Anton Witkamp berpikir kira-kira begini di tahun 1971, "Ini gak ada lagi, gitu, yang bisa kasih Ajax tantangan?" Kala itu, Witkamp masih bekerja untuk media Belanda, De Telegraaf.
Rupanya, ide yang mulanya terdengar iseng ini betul-betul diseriusi Witkamp. Dia membangun konsep Piala Super Eropa, yang mempertemukan kampiun European Cup (sekarang Liga Champions) dengan Cup Winners' Cup (CWC). Berbagai pihak pun telah dikontak Witkamp, termasuk UEFA.
Kemudian digelarlah Piala Super Eropa edisi perdana pada tahun 1972. Lucunya, Piala Super Eropa tahun itu bukan diselenggarakan atas nama UEFA. Melainkan oleh kantornya Witkamp tadi, De Telegraaf.
Biang masalahnya ada di laga Piala Super Eropa 1972, yang mempertemukan Ajax dengan Rangers.
Rangers memang menjadi kampiun CWC 1971/72. Akan tetapi, akibat kelakuan fans mereka di laga final turnamen itu, mereka mendapatkan hukuman larangan tampil di kompetisi Eropa oleh UEFA. Dan UEFA sendiri emoh untuk memberikan kelonggaran kepada Rangers.
Di edisi berikutnya, baru Piala Super Eropa disokong UEFA. Dan karena CWC sudah dihentikan pada 1999, maka posisinya kemudian digantikan oleh kampiun UEFA Cup/Liga Europa.
Konsep Piala Super Eropa selalu satu putaran di venue netral, ya?
Sampai 1997, konsep turnamen ini adalah kandang-tandang. Pengecualian untuk Piala Super Eropa edisi 1984, 1986, and 1991. Masalah jadwal hingga situasi politik menjadi sebab di tahun-tahun itu Piala Super Eropa hanya digelar satu leg.
Turnamen ini juga beberapa kali gagal digelar. Pada tahun 1974, Bayern Muenchen (kampiun Liga Champions) dan Magdeburg (jawara CWC) tak mencapai titik temu perihal tanggal tanding. Sementara, di tahun 1981, Liverpool yang menjuarai European Cup enggan berjumpa dengan Dinamo Tbilisi.
Di tahun 1985, Everton menjuarai CWC tetapi tak bisa bertemu dengan Juventus di Piala Super Eropa. Sebab, saat itu tim-tim Inggris mendapatkan hukuman larangan tampil di kompetisi Eropa. Tetapi, setelah 1997, Piala Super Eropa selalu berjalan satu leg dan tidak diterpa masalah berarti.
Oh, ya, soal venue juga ada cerita menarik lagi, nih, mau tahu?
Kalau mau ngasih tahu, boleh, deh..
Dari Piala Super Eropa edisi 1998 sampai 2012, semuanya digelar di Stade Louis II, Monaco. Kalau ditanya kenapa UEFA mengambil langkah begini, kami juga belum menemukan alasan jelasnya. Nyaman, mungkin?
Yang jelas, sejak 2013 venue Piala Super Eropa selalu berpindah-pindah dari satu stadion ke stadion lainnya di 'Benua Biru'.
Sekarang bahas laga Liverpool versus Chelsea, dong
Tanya aja, kalem.
Dengar-dengar, Piala Super Eropa tahun ini bakal dipimpin oleh wasit perempuan?
Benar. Namanya Stephanie Frappart dan wasit asal Prancis ini tak hanya menciptakan sejarah di Piala Super Eropa saja. Karena dialah wasit perempuan pertama yang memimpin jalannya kompetisi sepak bola pria yang dihelat UEFA.
Frappart jelas bakal dibantu tiga rekannya di laga Liverpool versus Chelsea nanti. Termasuk Cuneyt Cakir, wasit Turki yang dikenal galak itu, yang di laga ini bakal berperan sebagai fourth official.
Oh, ya, sebelumnya pernah ada duel sesama tim Inggris di Piala Super Eropa, gak, sih?
Laga Liverpool versus Chelsea adalah duel All-English pertama di Piala Super Eropa. Meski begitu, ya, karena sama-sama dari Inggris, dua tim ini sudah sering bertemu. Bahkan, di kompetisi Eropa pun, sudah digelar 10 pertandingan Liverpool versus Chelsea sejak 2005.
Status Liverpool 'kan juara bertahan Liga Champions. Berarti sudah pasti 'Si Merah' merengkuh trofi Piala Super Eropa tahun ini, dong?
Not really, jika menengok hasil dari yang sudah-sudah. Sudah ada 43 edisi Piala Super Eropa, dan para jawara Liga Champions hanya memenangi turnamen ini sebanyak 23 kali. Dari lima penampilan di Piala Super Eropa pun, Liverpool sudah menderita kekalahan sebanyak dua kali.
Dan musim lalu Atletico Madrid, yang berstatus jawara Liga Europa 2017/18, menjadi pemenang UEFA Super Cup.
Tapi, secara kualitas skuat, 'kan, Liverpool jauh lebih baik?
Iya, tahu. Tapi, masalahnya, Alisson Becker kini masih menderita cedera lutut. Sehingga Adrian San Miguel yang bakal menjaga gawang 'Si Merah'. Di sektor full-back kanan, kontribusi bertahan Trent Alexander-Arnold masih cukup merisaukan.
Jika celah-celah ini dapat dimanfaatkan, bukannya tak mungkin pada akhirnya Chelsea bisa merasakan gelar Piala Super Eropa kedua mereka selepas laga itu. Ya, meski susah juga, sih, karena 'Si Biru' jelas membutuhkan tenaga ekstra untuk bangkit setelah keok 0-4 dari Manchester United pada Minggu (11/8) silam.
Intinya, mah, bola itu bundar.
