Ada Italia di Balik Kokohnya Pertahanan Uruguay

Dari 16 tim yang bertarung di babak 16 besar Piala Dunia 2018, Uruguay adalah tim yang punya pertahanan terbaik. Dari tiga laga fase grup, mereka sama sekali tak kebobolan. Rusia, Mesir, hingga Arab Saudi tak mampu menjaringkan bola ke gawang Fernando Muslera.
Setelah melewati laga 16 besar mereka menghadapi Portugal, Minggu (1/7/2018) dini hari WIB tadi pun, gawang Muslera akhirnya bobol. Namun, hanya satu kali. Dari 20 percobaan yang dilepaskan Cristiano Ronaldo dan kolega, hanya satu yang bersarang di gawang Uruguay.
Sebaliknya, Uruguay berhasil mencetak dua gol hanya dari lima percobaan ke gawang Portugal. Mereka pun menang. Diego Godin dan kolega berhasil menjejak perempat final Piala Dunia 2018 dan masih berstatus sebagai salah satu tim dengan pertahanan terbaik.
La Celeste pun mendapat pujian. Lini pertahanan yang rapat dan kokoh itu mendapat banyak aplaus. Terlebih lagi, formasi 4-4-2 yang digunakan Oscar Tabarez sang pelatih terbukti efektif dalam defensif. Lawan jadi tak punya ruang untuk banyak bergerak menciptakan peluang.

Dengan blok rendah dan pemosisian pemain yang rapat ketika bertahan, Uruguay benar-benar pintar membuat lini depan lawan frustrasi. Meski demikian, mereka juga tak buruk dalam melancarkan serangan. Uruguay adalah tim yang amat efektif soal itu.
Tujuh gol yang sudah tercipta dari empat pertandingan mereka di Rusia jadi buktinya. Tabarez pun mengungkapkan jika strateginya kali ini, tentang memadukan pertahanan kuat dan serangan balik yang efektif--juga kekuatan dalam bola mati--didapatnya ketika menjadi pelatih di Italia.
Pelatih berusia 71 tahun itu tahu bahwa penguasaan bola tak melulu menghasilkan kemenangan. Karena itu, dia lebih memilih pragmatis dan itu terbukti moncer. Sebab, meski tanpa kontrol atas permainan pun, Uruguay berhasil mencetak gol dan memenangi pertandingan.

"Yang istimewa dari laga ini adalah dedikasi para pemain di lapangan, dan itulah cara kami melihat sepak bola. Itu sulit. Portugal punya lebih banyak penguasaan bola dan sering berada di setengah lapangan kami," buka Tabarez dilansir Reuters.
"Akan lebih baik bagi kami untuk punya lebih banyak bola dan memainkan pertandingan lebih dekat ke gawang mereka. Hari ini kami melakukan kesalahan yang menyebabkan kebobolan, tetapi kami punya tim yang sangat kuat dalam hal pola pikir."
"Saya pikir sering ada anggapan keliru bahwa penguasaan bola mengarah pada peluang mencetak gol. Saya belajar di Italia ketika bekerja di sana. Di Italia, penguasaan bola tidak disucikan seperti di tempat lain. Bahkan, jika Anda tak punya penguasaan bola, Anda dapat menghadirkan ancaman untuk lawan," pungkasnya.
Tabarez sendiri pernah melatih dua klub asal Italia, Cagliari dan AC Milan pada medio 1994-1996 dan 1998-1999. Dari situlah dia belajar banyak tentang bagaimana bermain bertahan dan minim kontrol bisa tetap menghasilkan permainan. Bagaimana pertahanan kuat kerap lebih efektif ketimbang lini serang seram.
Kebetulan, terakhir kali Italia, negara yang dicontoh Tabarez itu, jadi juara Piala Dunia pada 2006 ketika punya situasi yang sama: punya pertahanan kuat, tak dominan dalam penguasaan bola, tapi amat efektif. Akankah Uruguay bisa meniru prestasi itu juga?
