Pencarian populer

Anak Jalanan Indonesia Raih Gelar Best Goalkeeper di Moskow

Ryan Febriansyah terpilih sebagai Best Goalkeeper. (Foto: Dok. Istimewa)

Sembilan remaja Indonesia, yang mayoritas berusia di bawah 15 tahun, berjuang di Rusia dalam kompetisi Street Child World Cup (SCWC) 2018 —Piala Dunia Anak Jalanan— yang berlangsung di Moskow, pada 10-16 Mei 2018.

Mereka adalah: Krisna Sugina, Aditiya Rahman, Andre Widianto, Sugeng Reza Pamungkas, Bayu Pamungkas, Somad, Ryan Febriyansah, Malikal Febry Pratama, dan Ardi Nata. Mereka bukan anak genius, mereka bukan anak dengan pensil ajaib.

Mereka bukan anak dengan kemampuan bak pahlawan super. Sembilan nama itu hanya anak biasa, bahkan terlampau tak bernama di dunia. Namun, sembilan remaja itu punya satu nukilan hidup yang spesial. Kerasnya jalanan pada akhirnya tak menghancurkan kehidupan mereka.

Di Rusia, di tengah-tengah gegap-gempita persiapan pesta sepak bola sejagat itu, mereka berjuang membawa nama negara, bertarung mengubah kehidupan masing-masing.

Buah manis perjuangan mereka muncul di pengujung turnamen. Ryan Febriansyah, penjaga gawang Tim Indonesia Garuda Baru terpilih sebagai Best Goalkeeper 2018. Kepiawaian Ryan di bawah mistar gawang berhasil membawa Tim Garuda Baru menempati juara keempat.

Ryan kelahiran Januari 2003 yang sehari-hari tinggal di kawasan Klender, Jakarta Timur, mulai berlatih bersama Tim Garuda Baru sejak Februari 2017.

Tim Garuda Baru di SCWC 2018 (Foto: Dok. Istimewa)

Di babak penyisihan, Garuda Baru berada satu grup dengan Brasil dan Burundi di Grup C. Indonesia berhasil membenamkan Brasil dengan skor 2-1, namun kalah 0-2 dari Burundi. Akan tetapi, Tim Garuda Baru dapat melaju ke babak berikutnya setelah Brasil menanggung kekalahan 1-4 dari Burundi.

Kemenangan 1-0 di perempat final melawan Mesir meloloskan Tim Garuda Baru menuju semifinal. Pada pertandingan semifinal, Ryan dan teman-temannya memang harus mengakui keunggulan Pakistan setelah kalah 4-5 melalui adu penalti.

Namun, perjuangan skuat Garuda Baru belum usai. Masih ada tempat ketiga yang layak buat diperjuangkan. Burundi yang sebelumnya kalah dari Uzbekistan menjadi lawan.

Dalam pertandingan ini, Indonesia kembali harus mengakui keunggulan Burundi dengan skor 1-3, sehingga Tim Garuda Baru memperoleh posisi keempat.

Tim Garuda Baru turut berpartisipasi dalam kejuaraan SCWC ini bersama lebih dari 200 anak-anak jalanan dari seluruh dunia yang tergabung dalam 24 tim nasional, yaitu 12 tim untuk kategori anak laki-laki dan 12 tim untuk kategori anak perempuan.

Kejuaraan ini pada dasarnya merupakan bagian dari rangkaian kegiatan internasional yang terdiri dari pertandingan olahraga, kongres dunia, dan festival seni.

Tujuannya, untuk memperjuangkan hak anak-anak seluruh dunia agar demi hidup lebih baik dan layak. Kegiatan yang didukung FIFA ini pertama kali digagas tahun 2010 dan penyelenggaraan di Moskow adalah yang ketiga kalinya.

Saat menjamu Tim Garuda Baru di Wisma Duta KBRI Moskow, Duta Besar RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus, M. Wahid Supriyadi, menyampaikan penghargaan atas prestasi yang diraih Ryan dan Tim Garuda Baru.

Tim Garuda Baru di SCWC 2018. (Foto: Dok. Istimewa)

“Predikat ini merupakan suatu hal yang membanggakan bagi anak Indonesia. Kesempatan untuk bergabung dalam Tim Garuda Baru dan prestasi yang diraih anak Indonesia yang sehari-harinya hidup dalam kesederhanaan ini memberikan rasa bangga kepada kita semua”, ungkap Dubes Wahid yang juga sempat menyaksikan dan menyemangati aksi laga Tim Garuda Baru bersama WNI yang bermukim di Moskow.

Setali tiga uang, perwakilan Garuda Baru, Mahir Bayasut, menegaskan, melalui SCWC ini, anak-anak jalanan tidak hanya bisa menyalurkan kegemaran mereka untuk bermain sepak bola, melainkan juga dapat menambah pengalaman baru dan kesempatan untuk mewujudkan cita-cita mereka.

“Sekembalinya dari Rusia, anak-anak Tim Garuda Baru tidak lagi kembali ke jalan,” tegas Mahir.

Dalam perhelatan ini, Garuda Baru tak hanya bersepak bola, tapi turut memperkenalkan seni dan budaya Indonesia. Dalam sesi festival seni, remaja-remaja ini menampilkan tarian Betawi dari DKI Jakarta, tari Piring dari Sumatera Barat, dan tari Mambri asal Papua.

Pihak panitia penyelenggara berharap bahwa kegiatan SCWC ini dapat menjadi sumber inspirasi dan cerita bagi anak-anak lainnya di seluruh dunia yang masih mengalami keterbatasan sosial ekonomi, untuk berani mengejar cita-cita mereka.

Program Garuda Baru digagas oleh tiga lembaga sosial Indonesia, yakni Yayasan Transmuda Energi Nusantara (TEN), Kampus Diakoneia Modern (KDM) dan Yayasan Sahabat Anak (YSA).

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.55