kumparan
13 Agu 2018 9:00 WIB

Analisis: Kekalahan Arsenal, Kebuntuan Membuka Rute Serangan

Pemain City dan Arsenal berduel. (Foto: Reuters/John Sibley)
Membuka rute serangan, bagi sebuah tim dalam suatu pertandingan, adalah hal yang mutlak. Tak bisa membuka rute serangan, jangan harap sebuah tim dapat meraih kemenangan. Hal inilah yang dialami Arsenal.
ADVERTISEMENT
Arsenal menderita kekalahan 0-2 saat menjamu Manchester City di Stadion Emirates, Minggu (12/8/2018) malam WIB. Gol Raheem Sterling dan Bernardo Silva membuat Arsenal mengawali Premier League musim 2018/2019 secara negatif.
Memang dalam laga ini, kuasa laga dipegang oleh Manchester City. Penguasaan bola dengan persentase mencapai 58% (berbanding 42% milik Arsenal). Plus jumlah tembakan yang mencapai 17 kali (berbanding 9 milik Arsenal) menunjukkan bahwa Manchester City tidak mengubah gayanya musim lalu, tetap berpegang pada penguasaan bola..
Karena menguasai bola lebih lama, City mampu menciptakan lebih banyak peluang. Terlepas dari dua gol yang bersarang ke gawang Petr Cech, total 17 tembakan yang dilepaskan City mencerminkan banyaknya ancaman yang diberikan CIty. Tapi, kekalahan Arsenal tidak hanya ditentukan oleh faktor itu saja. Ada satu faktor lain yang menentukan kekalahan Arsenal pada laga ini: sulitnya mereka membuka rute serangan.
ADVERTISEMENT
Hal inilah yang membuat Arsenal gagal mencetak gol yang pada akhirnya berujung kepada kekalahan di rumah sendiri.
***
Dalam pertandingan ini, Unai Emery selaku pelatih baru tidak melakukan perubahan signifikan dalam formasi dasar Arsenal. Mereka masih menerapkan formasi dasar 4-2-3-1, dengan sosok Pierre-Emerick Aubameyang di lini depan, didampingi oleh Aaron Ramsey, Mesut Oezil, serta Henrikh Mkhitaryan di lini kedua, plus Granit Xhaka dan Matteo Guendouzi sebagai poros.
Sekilas, dengan skuat seperti ini, tampak Arsenal akan mampu memberikan perlawanan sengit kepada sang juara bertahan. Namun, yang terjadi dalam pertandingan justru sebaliknya. Mereka ditekan habis-habisan oleh City. Ketika akan menyerang, mereka malah sulit membuka rute serangan yang apik untuk menembus pertahanan dan gawang City.
ADVERTISEMENT
Kenapa Arsenal gagal membuka rute serangan? Jawabannya adalah karena tiga gelandang serang Arsenal di lini kedua gagal berkolaborasi dan menciptakan ruang di pertahanan City. Oezil, Ramsey, dan Mkhitaryan gagal bekerja sama untuk membantu Aubameyang untuk menembus pertahanan City dan mencetak gol.
Pelatih Arsenal, Unai Emery (Foto: Reuters/John Sibley)
Dalam beberapa momen, aliran bola Arsenal sebenarnya berjalan baik dari area belakang ke area tengah. Namun, begitu memasuki area sepertiga akhir City, aliran bola Arsenal menjadi terhenti. Hal ini karena Ramsey, Oezil, dan Mkhitaryan, bekerja tanpa kolektivitas. Total 9 tembakan yang dilepaskan pun bukan hasil dari kerja sama apik, melainkan kemampuan individu masing-masing pemain.
Emery bukannya tidak menyadari hal ini. Sadar bahwa ada salah satu pemainnya di lini kedua yang tidak bermain baik, Emery melakukan perubahan dengan memasukkan Alexandre Lacazette menggantikan Ramsey. Masuknya pemain asal Prancis tersebut memang mengubah permainan Arsenal.
ADVERTISEMENT
Dengan adanya Lacazette, yang mau bergerak turun menjemput bola, progres serangan Arsenal lebih terasa. Arsenal dapat menyerang dengan lebih baik, meski sampai akhir laga, mereka tetap sulit membobol gawang City. Di saat mereka harusnya bekerja secara kolektif, mereka malah bekerja sendiri-sendiri.
***
Memang, ada efek samping ketika Lacazette masuk. Garis pertahanan Arsenal menjadi bertambah tinggi dan hal ini membuat mereka kebobolan untuk kali kedua lewat sepakan Bernardo Silva. Tertinggal 0-2, ditambah dengan keadaan pertahanan City yang tak mudah dijebol, membuat Arsenal harus rela menderita kekalahan di laga perdana Premier League.
Meski begitu, setidaknya Emery tahu masalah apa yang ada di dalam skuatnya berkat kekalahan ini. Salah satunya adalah masalah di lini kedua. Lini kedua yang seharusnya menjadi penyokong serangan Arsenal malah tidak berfungsi dalam pertandingan tersebut. Hal inilah yang membuat Arsenal dilanda kekalahan dalam pertandingan ini.
ADVERTISEMENT
Namun, walau kalah, perjalanan di musim 2018/2019 masih panjang bagi Arsenal. Masih ada laga-laga ke depan yang harus mereka jalani. Kekalahan ini dapat menjadi bahan evaluasi, sehingga kelak di depan, hal serupa tidak akan dialami kembali.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan