Pencarian populer

Analisis: Varian Serangan, Kunci Chelsea Taklukkan Arsenal

Tiga pahlawan Chelsea di Derbi London. (Foto: Reuters/John Sibley)

Lima gol tercipta pada Derbi London yang mempertemukan Chelsea dengan Arsenal di Stamford Bridge, Sabtu (18/8/2018). Menariknya, duel kedua tim tak sama dengan sebelumnya lantaran Chelsea dan Arsenal sama-sama mengalami pergantian nakhoda tim.

Unai Emery cukup memberikan warna bagi The Gunners, tanpa melucuti permainan atraktif yang jadi identitas mereka di rezim Arsene Wenger. Sementara itu, Maurizio Sarri perlahan menghapus format tiga bek warisan Antonio Conte yang masih melekat di Chelsea lewat kemenangan 3-2 dalam duel kali ini.

Dalam bentrok kali ini, Sarri sekali lagi menegaskan tajamnya kepak-kepak sayap Chelsea. Hal yang juga dilakukannya saat membesut Napoli. Satu temuan lain adalah peran N'Golo Kante yang menjadi kian meluber. Lebih dari sekadar pemutus serangan, tetapi juga untuk mengkreasi peluang. Konsep yang tertuang lewat torehan 4 umpan kuncinya sepanjang laga, terbanyak di antara rekan-rekan setimnya.

Meningkatnya agresivitas Kante dipengaruhi oleh pergerakan dinamis trisula Chelsea: Willian, Alvaro Morata, dan Pedro Rodriguez. Kedua winger tak hanya ngepos di sisi tepi, begitu pula dengan Morata yang tak melulu nangkring di tengah pertahanan lawan.

Celah tersebut yang kemudian dimanfaatkan oleh Kante untuk bergerak ofensif. Kembali lagi ke fluiditas trisula Chelsea, gol pertama yang lahir dari kaki kiri Pedro adalah buah dari pergerakan vertikalnya ke jantung pertahanan Arsenal.

Sementara itu, Arsenal bukannya tanpa tindakan untuk mencegah Chelsea. Emery tahu betul umpan pendek jadi senjata Sarri untuk membangun serangan. Itulah sebabnya mantan pelatih Sevilla tersebut mencanangkan pressing kepada para pemain Chelsea. Trik yang pernah sukses dicanangkan Manchester City untuk mengebiri build-up serangan Chelsea di Community Shield awal bulan ini.

Kante merayakan gol ke gawang Huddersfield. (Foto: Reuters/Carl Recine)

Di satu sisi, ketatnya pressing itu pula yang membuat garis pertahanan Arsenal menjadi tinggi. Konsekuensi tersebut harus dibayar mahal lewat gol kedua Chelsea yang dicetak Alvaro Morata. Pemain yang digaet dari Real Madrid itu berhasil lolos dari kawalan Shkodran Mustafi usai menerima umpan lambung Cesar Azpilicueta.

Gol tersebut merepresentasikan kejelian Sarri dalam memanfaatkan sumber daya skuatnya. Kecairan lini depan dan kemampuan para gelandang sebagai jembatan, dipadu apik dengan kemampuan distribusi lini belakang. Tak hanya mengeskploitasi sisi sayap saja, area tengah, dan barisan belakang juga difungsikan untuk menambah varian serangan.

Situasi yang berbanding terbalik dengan Arsenal yang terlalu bertumpu pada serangan sayap. Siasat yang masuk akal mengigat sepasang full-back Chelsea intens dalam melakukan overlap. Toh, Henrikh Mkhitaryan berhasil berkontribusi lewat masing-masing satu gol dan assist lewat manuver di sisi sayap.

Namun, hanya pemain asal Armenia itu saja yang benar-benar tampil ciamik. Celah di tepi pertahanan Chelsea mampu dilindungi dengan baik oleh trio gelandang Chelsea: Kante, Jorginho, dan Ross Barkley. Selain itu, sokongan dari sektor gelandang Arsenal terbilang minim. Granit Xhaka bermain terlalu dalam dengan Matteo Guendouzi --lantaran agresivitas para gelandang Chelsea.

Mkhitaryan pada laga melawan Tottenham. (Foto: Reuters/Andrew Couldridge)

Kondisi yang kemudian menyulitkan Mesut Oezil untuk berpendar. Pemain yang belum lama ini memutuskan pensiun dari Tim Nasional (Timnas) Jerman itu nihil catatan umpan kunci dan tembakan tepat sasaran.

Minimnya sentuhan yang didapat Pierre-Emerick Aubameyang juga cukup membuktikan tersendatnya aliran bola ke barisan terdepan. Hanya 18 sentuhan yang didapat Aubameyang, nyaris setengah dari torehan Morata yang mencapai 33.

Bukti bahwa Arsenal minim soal variasi serangan dan tak gagal memunculkan sosok pembeda. Hal ini yang membuat Chelsea berbeda, karena mereka punya Marcos Alonso yang tokcer dalam membantu serangan dari sisi sayap.

Assist-nya kepada Pedro bisa dijadikan acuan. Puncaknya adalah gol kemenangan yang dicetaknya di menit 81. Dengan cermat Alonso merangsek ke kotak penalti dan menyambut umpan matang Eden Hazard. Insting menyerang yang terbayar dengan tiga angka yang sukses dipetik Chelsea.

Chelsea dan Arsenal sama-sama mengandalkan sisi sayap sebagai tumpuan. Bedanya, The Blues lebih kaya varian serangan dibanding rival sekotanya itu. Bila Kante, Azpilicueta, dan Alonso turut mewarnai alternatif serangan Chelsea, bisa dibilang Arsenal cuma bersandar kepada Mkhitaryan seorang.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23