Apresiasi untuk Lini Tengah Juventus

Matchday ketiga Liga Champions 2018/19 menjadi bukti bahwa tak selamanya Old Trafford menjadi rumah yang menyenangkan untuk Manchester United. Bertanding melawan Juventus pada Rabu (24/10/2018) pukul 02:00 WIB, United justru menelan kekalahan tipis 0-1. Gol tunggal Paulo Dybala di menit 17 memastikan raihan tiga poin menjadi ganjaran bagi Juventus di akhir laga.
Dengan raihan ini pula, posisi Juventus kokoh di puncak klasemen sementara Grup H. Total, mereka mengumpulkan sembilan poin, berbanding raihan empat poin yang dimiliki United, sang runner up.
Entah apa yang dilakukan oleh Massimiliano Allegri satu dua malam sebelum turun arena ke Old Trafford, bertanding melawan Manchester United. Juventus bukan tim kacangan, sebagai pelatih, ia paham benar akan hal itu. Hasil imbang 1-1 melawan Genoa pada akhir pekan lalu tidak meruntuhkan catatan impresif Juventus di pentas Serie A 2018/19.
Tapi, di 15 menit akhir laga pekan kesembilan Serie A 2018/19 tersebut ada pemandangan menyebalkan. Dybala masuk sebagai pemain pengganti. Juventus tak kekurangan peluang begitu Dybala masuk. Namun, yang menjadi persoalan, gol Juventus tak bertambah. Tetap di angka satu.
Persoalannya ternyata bukan ada di jumlah peluang, tapi Dybala yang gagal dalam penyelesaian akhir. Di 15 menit waktu permainannya itu, ada dua upaya tembakan yang berhasil dilesakkan oleh Dybala. Tapi, jangankan berbuah gol, tepat sasaran pun tidak. Bahkan dalam delapan penampilannya di Serie A, hanya 1 gol yang berhasil ia ciptakan. Namun, di Liga Champions lain cerita. Sebelum laga melawan United ini, Dybala sudah menyegel 3 gol dalam 1 pertandingan, tepatnya kala melawan Young Boys di matchday kedua.
Perbedaan performa yang demikianlah yang menjadikan keputusan Allegri sebagai perjudian. Namun, keputusan ini bukan tanpa dasar. Mario Mandzukic yang biasanya menempati pos penyerang tengah tak bisa turun karena cedera engkel. Lantas, berjudilah Allegri sebesar-besarnya. Di pertandingan ini, ia turun arena dengan formasi 4-4-2, menandemkan Dybala dan Cristiano Ronaldo sebagai dua ujung tombak serangan.
Kabar baiknya, kali ini pertaruhan Allegri tak buntung. Juventus menjadi tim yang begitu trengginas. Total, ada 14 upaya tembakan yang berhasil mereka lesakkan dengan 5 di antaranya mengarah ke gawang. Ronaldo dan Dybala menjadi pemain Juventus yang paling banyak melakukan upaya tembakan di laga ini.
Sejak beberapa tahun belakang, Ronaldo sudah bermetamorfosis dari winger menjadi penyerang yang cenderung beredar di dalam atau sekitar kotak penalti lawan. Ketajamannya memang tak menumpul, tapi perubahan peran memang menjadi bagian dalam perjalanan kariernya. Itulah sebabnya pergerakannya tidak se-mobile dulu ketika masih berseragam United. Namun, bukan berarti Ronaldo bisa disebut sebagai penyerang yang minta dilayani melulu.
Hampir di seluruh pertandingan Juventus, Ronaldo juga tampil sebagai pelayan yang menyajikan umpan dan assist bagi kawan-kawannya--termasuk di partai melawan bekas klubnya ini. Gol penentu kemenangan yang dicetak Dybala itu juga diawali dengan suplai bolanya kepada Juan Cuadrado yang diteruskan menjadi assist yang akhirnya berbuah tembakan yang tak dapat dibendung David De Gea.

Bicara soal moncernya permainan Juventus, tak bisa dilepaskan dari solidnya komposisi lini tengah mereka: Cuadrado, Rodrigo Bentancur, Miralem Pjanic, dan Blaise Matuidi. Di area sentral ini, Pjanic menunjukkan kelasnya sebagai hulu serangan di lini tengah.
Pemain asal Bosnia-Herzegovina ini tampil sebagai gelandang yang paling piawai memotong serangan lawan dan merancangnya menjadi serangan. Total, ada 2 tekel sukses, 1 sapuan, dan 1 intersep yang ia catatkan.
Primanya lini tengah Juventus juga banyak berutang pada Bentancur. Bila Pjanic menjadi sosok yang andal memotong serangan United dari lini tengah, maka Bentancur menjadi penggawa yang begitu andal mendistribusikan bola yang dimenangi oleh Pjanic itu kepada rekan-rekannya.
Bentancur mungkin tidak menjadi otak serangan, tapi ia ibarat jantung yang memompa darah (bola) ke seluruh tubuh (tim). Bentancur menjadi pemain yang begitu dinamis dengan mobilitas tinggi, yang giat membantu serangan dan pertahanan dengan seimbang. Sayangnya, build up serangan yang padu tidak melulu dibarengi dengan penyelesaian akhir Juventus yang apik. Alhasil, dari sekian banyak upaya, hanya satu yang berbuah gol.
Soal potong-memotong serangan, Allegri juga mengandalkan ketangguhan Giorgio Chiellini yang tampil ibarat Odin yang memerintah di atas takhtanya, lini pertahanan. Sepanjang laga, Chiellini berhasil membukukan 3 tekel sukses, 7 sapuan, dan 1 intersep. Itulah sebabnya, aliran serangan United tak lancar dan hanya sanggup menghasilkan 6 upaya tembakan.
Dengan organisasi permainan yang begitu padu dan rapi, wajar bila akhirnya United cenderung mengandalkan aksi-aksi individu untuk mencuri peluang. Sialnya, serangan individu itu dipatahkan dengan brilian oleh pertahanan padu yang dibangun oleh Si Nyonya Tua.

Yang menjadi alasan kekalahan United di kandang sendiri bukan hanya tumpulnya serangan. Minimnya sokongan dari area tengah menjadi sumbat yang sempurna bagi permainan United. Dalam keadaan terdesak dan tertinggal sejak menit 17, Mourinho tak melakukan pergantian pemain sama sekali.
Hal ini sebenarnya bisa dimaklumi. Melihat siapa-siapa yang duduk di bangku cadangan, rasanya tak ada yang bisa disebut sebagai kandidat game changer--mulai dari Eric Bailly, Tahith Chong, Matteo Darmian, Ander Herrera, Andreas Pereira, hingga Fred.
Mourinho bukannya tanpa usaha untuk membalikkan serangan sama sekali, terutama di babak kedua. Sebagai catatan, United menutup paruh pertama dengan catatan semenjana. Agresivitas serangan mereka benar-benar mati. Buktinya, United hanya mampu mencatatkan 1 upaya tembakan, berbanding dengan 10 upaya milik Juventus.
Nah, di babak kedua, perubahan mulai terjadi. Mourinho sepertinya tidak menginstruksikan anak-anak asuhnya untuk melakukan serangan balik. Yang dilakukannya adalah balik menekan dengan menyasar area tengah sang tamu, cara yang mengingatkan kita pada keberhasilan United membalikkan keunggulan sementara di laga melawan Chelsea akhir pekan kemarin.
Mulai menggigitnya permainan United ditandai dengan tambahan 5 upaya tembakan yang mereka kreasikan di paruh kedua, dengan 2 di antaranya mengarah ke gawang. Namun, tetap saja, lini tengah dan barisan pertahanan Juventus begitu solid untuk ditembus--ditambah dengan keberhasilan Wojciech Szczesny mengawal gawang. Hasilnya, penyelesaian akhirnya juga tergolong sporadis dan mengandalkan tembakan jarak jauh, salah satunya sepakan dari luar kotak penalti yang dilesakkan oleh Paul Pogba di menit 76 itu.
Pada akhirnya, Juventus membuktikan bahwa mereka tak sekadar tim jago kandang, setidaknya untuk saat ini. Namun, laga leg kedua masih menanti Juventus dan United. Dan di putaran kedua nanti, bukannya tak mungkin United menjadi tim yang sanggup memutarbalikkan keadaan.
