Pencarian populer

Bagi Sarri, VAR Bisa Mengubah Atmosfer Penonton

Ekspresi kekecewaan Sarri saat Chelsea keok dari Wolverhampton Wanderers. (Foto: Reuters/Andrew Boyers)

Kesuksesan video assistant referee (VAR) tidak membuat sistem tersebut didukung oleh semua pihak. Salah satu orang yang menyatakan tidak sepakat terhadap penerapan VAR adalah pelatih Chelsea, Maurizio Sarri.

Sarri memang baru mendapatkan pengalaman buruk menyoal VAR. Gara-gara teknologi ini, The Blues takluk 0-1 dari Chelsea pada partai pertama semifinal Piala Liga Inggris, Rabu (9/1/2019).

Sebelum mencetak gol tunggal via titik putih, Harry Kane berlari untuk mengejar bola hasil umpan lambung Toby Alderweireld. Kane yang lolos dari penjagaan dan masuk ke dalam kotak penalti Chelsea kemudian dijatuhkan oleh Kepa Arrizabalaga, Oliver lantas menunjuk titik putih sebagai tanda pelanggaran bagi Kepa Arrizabalaga.

Di sinilah penggunaan VAR dilakukan karena sebelumnya asisten wasit sudah mengangkat bendera terlebih dahulu sebagai tanda Kane berada di posisi offside, saat menerima umpan Alderweireld. Namun, setelah melihat VAR, Oliver nyatanya memutuskan penyerang Timnas Inggris itu berada di posisi onside, sehingga kontaknya dengan Kepa dianggap sebagai pelanggaran.

Menariknya, Chris Kavanagh selaku wasit yang mengawal teknologi VAR dalam laga tersebut kembali mengekor Chelsea. Dia ditugaskan memimpin pertandingan Premier League antara pasukan Sarri dengan Newcastle United di Stadion Stamford Bridge, Sabtu (12/1/2019) malam WIB.

Sarri lantas menyuarakan ketidaksukaan terhadap VAR. Namun, dia tetaop melayangkan pembelaan alih-alih mengkritik Kavanagh sebagai 'dalang' di balik kekalahan timnya.

"Masalahnya bukanlah wasit, melainkan mereka yang belum siap untuk menggunakan VAR. Hakim garis berhenti berlari dan bagi pemain, itu merupakan tanda offside. Jadi, harus dimaklumi karena mereka baru menggunakan sistem ini pertama kali," tutur Sarri seperti dilansir oleh BBC.

Pelatih Chelsea, Maurizio Sarri, melakukan protes kepada wasit. (Foto: Reuters/Andrew Couldridge)

"Saya sendiri tidak menyukai VAR. Ada risiko mengubah atmosfer di stadion. Anda mencetak gol, tetapi harus menunggu 30 detik untuk merayakannya. Ini berdampak negatif terhadap atmosfer di stadion," ucap Sarri.

Opini Sarri tentu bertentangan dengan pecinta sepak bola kebanyakan. Pasalnya, VAR telah terbukti sukses ketika kali pertama diterapkan pada Piala Dunia 2018 lalu. Dari 48 pertandingan yang sudah digelar, terdapat 335 insiden yang pengambilan keputusannya melalui VAR. Itu artinya, rata-rata tujuh insiden melibatkan VAR setiap pertandingannya.

Sarri sendiri tak bisa mengamini kesuksesan VAR karena sama sekali tak menyaksikan turnamen di Rusia tersebut. "Karena saya memang tak menyukai laga timnas dan tak ada yang bisa dipelajari dari sana."

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57