kumparan
27 Sep 2018 11:39 WIB

Bersama Napoli, Ancelotti Belum Berhenti Membangun Harmoni

Skuat Napoli rayakan kemenangan atas Parma. (Foto: REUTERS/Ciro De Luca)
Napoli menuntaskan laga melawan Parma dengan kemenangan 3-0. Pada laga yang dihelat di Stadion San Paolo, Kamis (27/9/2018), dua gol disumbangkan oleh Arkadiusz Milik dan satu gol ditorehkan oleh Lorenzo Insigne.
ADVERTISEMENT
Yang menjadi pembeda, Carlo Ancelotti tidak menurunkan sejumlah pemain utamanya. Selain dua nama tadi, hanya Allan, Piotr Zielinski, dan Kalidou Koulibaly yang biasa diturunkan Ancelotti di sejumlah laga secara reguler. Sisanya adalah nama-nama yang cukup jarang masuk starting XI, seperti Nikola Maksimovic, Fabian Ruiz, Orestis Karnezis, serta Amadou Diawara.
Namun, seasing apa pun nama-nama tadi, Napoli tetap tampil perkasa. Dominasi Napoli tergambar jelas dari berbagai aspek catatan statistik sepanjang laga. Dari sisi agresivitas, Napoli unggul telak atas Parma. Bila tim besutan Roberto D'Aversa itu hanya mencatatkan 3 upaya tembakan, maka Napoli membukukan 26 upaya.
Parma memang beberapa kali berupaya menyerang lewat skema serangan balik. Tapi, tekanan agresif Napoli membuat bangunan-bangunan serangan ini mampu dipatahkan. Agresivitas Napoli dalam merusak bangunan serangan lawan ini muncul dalam catatan 23 upaya tekelnya, dengan 20 di antaranya tercatat sebagai tekel sukses. Di sepanjang laga, Napoli juga tetap mampu menjaga aliran bola dan tetap mengendalikan jalannya laga. Total, Napoli mencatatkan persentase penguasaan bola sebanyak 66,6%.
ADVERTISEMENT
"Kami sedang ada dalam performa dan kondisi yang bagus. Apalagi, para pemain sangat termovitasi. Setelah pertandingan melawan Fiorentina, kami mencoba untuk menerapkan metode pertahanan dalam bentuk yang berbeda. Lorenzo Insigne lebih berbahaya di posisi barunya sebagai penyerang tengah ketimbang pemain sayap. Insigne benar-benar menunjukkan kualitasnya yang luar biasa," jelas Ancelotti, dilansir Football Italia.
"Saya pikir, keunggulan-keunggulan macam inilah yang harus kami manfaatkan sebaik-sebaiknya. Gaya menyerang kami memang bergantung pada perubahan posisi para full back. Melawan Torino, kami memiliki Simone Verdi dan Jose Callejon sebagai motor serangan. Nah, hari ini, full back kami bermain melebar."
Kemenangan memang menjadi perkara menyenangkan buat dinikmati. Apalagi, kemenangan yang diraih dengan cara yang agung, dengan permainan dan taktik yang elok. Namun, kemenangan atas Parma adalah satu hal dan kemenangan di laga berikutnya adalah persoalan yang harus segera dituntaskan. Terlebih, Juventus-lah yang akan menjadi lawan Napoli di pekan ketujuh, Sabtu (29/9/2018).
ADVERTISEMENT
Lucunya, Ancelotti justru dilanda kebingungan terkait rotasi pemain di laga sekrusial itu. Menurut Don Carlo, pemain-pemainnya kerap menunjukkan performa yang mengesankan. Tak cuma pemain reguler, tapi juga para pemain pengganti.
"Sejujurnya, rotasi-rotasi yang sudah dilakukan itu justru membuat saya pusing sendiri. Saya jadi bingung untuk menentukan line up laga hari Sabtu (melawan Juventus). Sebabnya, pemain-pemain itu menunjukkan bahwa mereka layak untuk diturunkan di pertandingan sepenting ini," ucap mantan pelatih AC Milan itu.
Carlo Ancelotti usai laga Crvena Zvezda vs Napoli. (Foto: REUTERS/Novak Djurovic)
Di ranah kepelatihan, Ancelotti memang tidak terkenal sebagai sosok yang meledak-ledak. Dibandingkan dengan nama besar lainnya, ia cenderung kalem. Satu-satunya emosi yang sering ia perlihatkan adalah alisnya yang terangkat sebelah itu. Menyoal rotasi pemain ini, Ancelotti bukan tanpa tujuan ataupun sekadar mengistirahatkan pemain-pemain regulernya.
ADVERTISEMENT
Berhitung mundur, saat Ancelotti pernah meraih kesuksesan bersama Real Madrid lewat keberhasilannya mempersembahkan La Decima. Namun, pencapaian harum semerbak itu bukannya tanpa kendala. Ancelotti datang ke Santiago Bernabeu dalam situasi yang tak sedap. Kala itu, pelatih terdahulunya, Jose Mourinho, 'mewariskan' permusuhan antara sang legenda hidup Iker Casillas dan kawan-kawannya.
Namun, Ancelotti adalah Ancelotti. Ia tak pernah tergoda untuk menjadi sosok yang memanas-manaskan keadaan. Entah bagaimana caranya, yang jelas, ia berhasil mendamaikan Cassilas dan teman-temannya. Tak sekadar berdamai. Ia pun menemukan cara agar Diego Lopez dan Casillas bisa bermain bergantian. Ia membuktikan bahwa Madrid kala itu bisa tetap harmonis walau diisi oleh pemain-pemain bintang berego tinggi macam Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, Luka Modric, Angel di Maria, ataupun Gareth Bale.
ADVERTISEMENT
"Saya bukan tipe pelatih yang sibuk menciptakan permainan indah dan mewah. Tujuan saya melatih adalah menciptakan harmoni dalam tim," seperti itu cara Ancelotti menjelaskan gaya kepelatihannya.
Suporter Napoli mengibarkan bendera bergambar wajah Maradona di laga melawan Parma. (Foto: REUTERS/Ciro De Luca)
Napoli yang kini dilatihnya juga tim yang diperkuat oleh sejumlah pemain bintang. Namun, Napoli juga memiliki pemain-pemain yang masih 'asing'. Bagaimana menciptakan harmoni tim dengan menggabungkan dua 'jenis' pemain ini, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Ancelotti. Terlebih, Napoli berbeda dengan tim-tim besutan Ancelotti terdahulu. Napoli belum bergelimang gelar. Lajunya selalu kencang di awal, tapi mulai tersendat menjelang akhir kompetisi.
Ancelotti memang tak naif, tapi ia juga tak kehilangan keyakinannya. Baginya, renjana untuk merebut gelar juara yang dirawat baik-baik oleh tim dan seantero kota sudah menjadi alasan yang logis baginya untuk menerima pinangan Napoli. Keyakinan itu pulalah yang terus dibawa oleh Ancelotti di setiap laga.
ADVERTISEMENT
"Saya memilih untuk datang ke Napoli karena renjana (passion -red) yang dimiliki kota ini dan proyek yang dikerjakan oleh klub. Kami mencoba untuk melakukan perubahan dan sejauh ini, hasilnya tak mengecewakan," pungkas Ancelotti.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan