Pencarian populer

'Captain Tsubasa' dan Dampaknya di Dunia Nyata

Kapten Tsubasa 2018. (Foto: anmienewsnetwork)

Namanya Homare Sawa dan dia adalah seorang perempuan. Tubuhnya tidak terlalu tinggi; hanya 165 sentimeter. Dengan rambut panjang sepunggung yang dikuncir kuda, Sawa tidak tampak seperti perwujudan seorang Kapten Tsubasa. Namun, dialah Tsubasa Oozora yang sesungguhnya, setidaknya sampai saat ini.

Kisah 'Captain Tsubasa' adalah kisah soal bocah laki-laki yang punya mimpi besar menjadi pesepak bola nomor wahid di dunia. Dalam kisah rekaan Yoichi Takahashi tersebut, Tsubasa berhasil. Dari bocah perajut mimpi yang memulai segalanya bersama SD Nankatsu, Tsubasa akhirnya berhasil membawa negaranya menjadi juara dunia.

'Captain Tsubasa' pertama kali diterbitkan pada 1981 lewat majalah Weekly Shonen Jump. Dalam benak sang mangaka kala itu, sepak bola adalah olahraga milik kaum Adam karena inspirasi 'Captain Tsubasa' sendiri datang ketika Takahashi menyaksikan Piala Dunia 1978 di Argentina. Saat inspirasi itu datang, Piala Dunia Wanita belum diadakan dan Jepang pun belum memiliki tim nasional untuk kaum Hawa.

Dalam perkembangannya, 'Captain Tsubasa' memang banyak menginspirasi bocah lelaki karena, well, suka tidak suka, narasi yang disajikan di sana memang lebih mudah dirasakan oleh anak laki-laki. Namun, pada akhirnya, justru para perempuanlah yang lebih dulu sukses mengemulasi keberhasilan Tsubasa cs. di kehidupan nyata.

Tahunnya adalah 2011. Kebetulan, di tahun tersebut, Tim Nasional (Timnas) Wanita Jepang —atau yang lebih akrab disebut Nadeshiko Japan— berulang tahun yang ke-30. Di situ, Sawa dan rekan-rekannya turut berlaga dalam gelaran Piala Dunia yang dihelat di Jerman.

Pada titik itu, Nadeshiko Japan sudah berkembang pesat. Mereka sudah mengalami jatuh-bangun, persis yang dialami Tsubasa cs. di jagat rekaan Takahashi. Mereka melakoni debut dengan kekalahan 0-1 dari Taiwan. Kemudian, pada 1999, mereka juga sempat menelan kekalahan 0-9 dari Amerika Serikat yang merupakan hegemon di dunia sepak bola wanita.

Namun, pada 2011 itu situasinya sudah berbeda. Jepang bukan lagi anak bawang. Setelah pada gelaran sebeulumnya gagal lolos dari fase grup, kali itu Jepang berhasil memperbaiki penampilan. Mereka memang sempat menelan satu kekalahan di fase grup dari Inggris, tetapi kemudian mereka tak terhentikan.

Sawa kala bersama Nadeshiko Japan. (Foto: Jewel Samad/AFP)

Jerman dan Swedia, secara berturut-turut, mereka kalahkan di fase gugur. Sampai akhirnya, partai puncak dijejak dan yang jadi lawan Jepang kala itu adalah Amerika Serikat.

Sebagai juara dunia dua kali, Amerika jelas lebih diunggulkan. Akan tetapi, layaknya Tsubasa dkk., Sawa cs. berhasil mengatasi segala halangan, termasuk kartu merah yang diterima Azusa Iwashimizu dari wasit Bibiana Steinhaus.

Selama 120 menit berlaga, kedua tim bermain imbang 2-2. Alex Morgan membawa Amerika unggul lebih dulu di menit ke-69. Kemudian, Jepang membalas via Aya Miyama di menit ke-81. Abby Wambach kembali membawa Amerika unggul pada menit ke-104, sebelum Sawa memperpanjang napas Jepang lewat golnya di menit ke-117. Skor imbang 2-2, adu penalti pun digelar.

Dalam adu penalti tersebut, tiga penendang Amerika, Shannon Boxx, Carli Lloyd, dan Tobin Heath, gagal. Sebaliknya, dari kubu Jepang hanya Yuki Nagasato yang tidak berhasil menunaikan tugas. Jepang pun kemudian menutup laga dengan kemenangan 3-1 dan menyegel gelar juara dunia pertamanya.

Keberhasilan Jepang menjadi juara dunia itu jelas tak bisa dilepaskan dari peran Sawa. Di akhir turnamen, perempuan kelahiran 1978 itu diganjar penghargaan bola emas dan sepatu emas sekaligus. Benar-benar khas Tsubasa.

Seperti halnya Tsubasa, Sawa juga merupakan seorang gelandang serang. Dengan mengenakan kostum nomor sepuluh dan ban kapten yang melingkar di lengan, sulit untuk tidak mengasosiasikan Sawa dengan kapten idola sejuta umat itu. Takahashi sendiri, dalam wawancara bersama Nippon.com, sudah mengakui betapa miripnya Sawa dengan karakter Tsubasa.

"Selama bertahun-tahun menyaksikan sepak bola, aku tidak pernah menyangka bahwa sosok yang akan menjadi Tsubasa di kehidupan nyata adalah seorang perempuan. Kecintaannya terhadap sepak bola, kegembiraannya saat menendang bola, dan kemampuannya membawa teman-temannya bersinar membuat Sawa semakin mirip dengan Tsubasa," kata Takahashi.

Meski pada akhirnya sosok pertama yang menjadi Tsubasa adalah seorang perempuan, bukan berarti para laki-laki bisa dianggap gagal. Pasalnya, sejak Tsubasa dirilis, Jepang sebenarnya sudah berhasil mengekspor banyak pemain hebat ke Eropa yang kemudian jadi tulang punggung Timnas. Yang menarik, sebagian besar dari ekspor terbaik Jepang ini berposisi dan berperan seperti Tsubasa, yakni sebagai pemain nomor sepuluh.

Hidetoshi Nakata jelas menjadi contoh paling terkemuka. Dia memang bukan pemain Jepang pertama yang melanglang buana karena sebelumnya sudah ada Yasuhiko Okudera dan Kazuyoshi Miura. Akan tetapi, Nakata-lah yang paling punya pengaruh. Kesuksesannya di Italia bersama Perugia, Roma, dan Parma membuat pemain kelahiran 1977 itu jadi inspirasi baru bagi generasi berikut.

Nakata (tengah) di Piala Dunia 1998. (Foto: Frank Perry/AFP)

Nakata sendiri merupakan sosok yang nyeleneh. Dia pensiun sebagai pesepak bola di usia 30 tahun untuk mengejar karier di dunia bisnis dan fesyen. Satu kenyelenehan lain dari sosok kelahiran Kofu ini adalah dia tidak pernah menonton televisi. Akan tetapi, dia punya hobi membaca dan dari hobi itulah dia berkenalan dengan ‘Captain Tsubasa’.

Setelah melihat kehebatan Nakata, mata klub-klub Eropa seakan terbelalak. Mereka pun kemudian tak ragu lagi untuk merekrut para pemain dari negara kepulauan tersebut.

Dalam perkembangannya, muncullah nama-nama beken macam Shunsuke Nakamura, Keisuke Honda, Shinji Kagawa, Makoto Hasebe, Hiroshi Kiyotake, Takashi Inui, sampai Shinji Okazaki. Sebagian besar dari mereka bermain di tempat yang sama dengan Tsubasa dan tak ada satu pun dari mereka yang mengecewakan di Eropa.

Di satu sisi, kemunculan pemain-pemain hebat ini jelas menguntungkan bagi Jepang. Di sisi lain, ini juga merugikan. Pasalnya, dengan melihat Tsubasa sebagai panutan, secara otomatis banyak pemain yang pada akhirnya memilih untuk bermain seperti sang idola. Inilah yang menyebabkan adanya ketimpangan kualitas pemain di skuat 'Samurai Biru'. Untuk pemain tengah (dan depan), Jepang tak punya masalah. Namun, lain halnya dengan pemain belakang.

Dalam kisah 'Captain Tsubasa', pemain tengah dan depan memang diberi porsi lebih. Merekalah yang diperlihatkan sebagai nyawa utama tim. Selain Tsubasa, kebanyakan pemain hebat lain dalam manga dan anime ini memang berposisi sebagai pemain tengah-depan, seperti Taro Misaki, Jun Misugi, Kojiro Hyuga, sampai rival-rival mancanegara seperti Karl Heinz Schneider dan Carlos Santana.

Sementara, untuk pemain belakang, kesalahan Takahashi adalah menggambarkan mereka sebagai sosok petarung semata. Tidak lebih. Ryo Ishizaki, misalnya, digambarkan sebagai pemain yang tidak bagus-bagus amat, tetapi karena semangatnya —Ishizaki berarti 'semangat' dalam bahasa Jepang—, pemain satu ini tetap terpakai sebagai, well, pemain belakang.

Imbasnya, stok pemain belakang berkualitas internasional Jepang pun terbatas. Hampir tidak pernah ada pemain belakang dari negara itu yang sukses besar di Eropa. Kalaupun ada, paling-paling yang terbaik hanya Maya Yoshida. Padahal, Yoshida sendiri dulunya merupakan seorang gelandang sebelum dikonversi menjadi bek kala bermain untuk Nagoya Grampus Eight.

Lalu, bagaimana dengan kiper? Nah, ini menarik. Sebab, Jepang sebenarnya juga tidak pernah punya kiper yang sukses besar di Eropa. Namun, di tiap generasi Timnasnya, mereka selalu punya penjaga gawang ikonik. Yoshikatsu Kawaguchi, Seigo Narazaki, sampai Eiji Kawashima, semua merupakan kiper berkualitas. Kawashima sendiri, untuk ukuran karier klub, bisa dibilang sebagai yang paling berhasil dari ketiga nama tadi. Setelah lama berkarier di Belgia, pemain 33 tahun itu kini merumput di Prancis bersama Metz.

Kapten Tsubasa (Foto: animenewsnetwork)

Kemunculan kiper-kiper andal ini juga tak bisa dilepaskan dari penggambaran sosok kiper yang heroik di 'Captain Tsubasa'. Selain Genzo Wakabayashi dan Ken Wakashimazu, ada pula sosok Dieter Muller (Jerman), Gino Hernandez (Italia), dan Ricardo Espadas (Meksiko).

Dari sini, bisa dilihat bahwa impak kultural 'Captain Tsubasa' terhadap Timnas Jepang, baik putra maupun putri, sangatlah besar. Tak heran jika kemudian JFA (Asosiasi Sepak Bola Jepang) pun memberi tempat spesial bagi Tsubasa dan Takahashi.

Sebagai contoh, menyambut Piala Dunia 2018 ini, Jepang secara khusus merilis kostum edisi 'Captain Tsubasa'. Sepintas, kostum ini memang tampak seperti kostum Jepang yang lain. Akan tetapi, di bagian nomor punggung, baru bisa dilihat tribut untuk Tsubasa itu. Di sana terpampang berbagai potongan adegan 'Captain Tsubasa' yang dikolase hingga membentuk nomor punggung tertentu.

Selain nomor punggung, ada pula penghormatan yang lebih besar lagi berupa patung beberapa karakter 'Captain Tsubasa' di Tokyo. Selain Tsubasa sendiri, ada pula patung yang menggambarkan Wakabayashi, Misaki, Sanae Nakazawa (teman perempuan Tsubasa), Hyuga, Ishizaki, sampai Roberto Hongo (pelatih masa kecil Tsubasa asal Brasil). Di sini bisa terlihat bagaimana 'Captain Tsubasa' tak cuma berkesan untuk para pelaku sepak bola, tetapi juga masyarakat Jepang secara keseluruhan.

Bentuk penghormatan terakhir adalah ketika Jepang mengajukan diri sebagai tuan rumah Olimpiade 2016 silam. Dalam upayanya tersebut, Komite Olimpiade Jepang menggandeng Takahashi untuk mendukung proses pencalonan diri Jepang. Takahashi pun menggambar karakter 'Captain Tsubasa' di bendera Jepang yang dikibarkan di Kopenhagen —kota tempat pemilihan tuan rumah digelar.

Jersi dengan desain Captain Tsubasa. (Foto: Footy Headlines.)
Jersi khusus dengan desain Captain Tsubasa. (Foto: Footy Headlines)

***

Pada akhirnya, 'Captain Tsubasa' adalah representasi Jepang itu sendiri. Sebagai sebuah negara, dua karakter utama darinya adalah sikap pantang menyerah dan kesabaran untuk berprogres. Tsubasa melakukan dua hal itu dalam upayanya menjadi pesepak bola terbaik dunia dan Jepang pun melakukan hal itu di berbagai sendi kehidupan, termasuk soal perkembangan sepak bolanya.

Spirit Tsubasa itulah yang kini tergambar betul dari pencapaian Jepang di dunia sepak bola. Untuk menjadi yang terbaik di dunia, langkah (Timnas Putra) Jepang masih panjang. Akan tetapi, mereka sudah ada di jalan yang benar. Setiap harinya, mereka pun terus mendekat ke arah tujuan akhirnya dan ketika mereka tiba kelak, kita semua tak perlu terkejut.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.61