kumparan
25 Mei 2018 16:41 WIB

Dari Mane untuk Kampungnya di Senegal: 300 Jersi Liverpool

Mane pada sebuah laga di Premier League. (Foto: Carl Recine/Reuters)
Kacang tak akan lupa dengan kulitnya, dan Sadio Mane pun tak akan pernah melupakan kampung halamannya.
ADVERTISEMENT
Jelang final Liga Champions yang akan berlangsung di NSC Olimpiyskiy Stadium, Kiev, Minggu (27/5/2018) pukul 01:45 WIB mendatang, Sadio Mane melakukan aksi yang cukup menyentuh.
Dia mengirimkan 300 jersi Liverpool ke kampung halamannya, sebuah desa kecil di Senegal bernama Bambali. Mane ingin ketika orang-orang di sana--terutama sahabat-sahabatnya--menonton dirinya bermain bersama Liverpool melawan Real Madrid di partai final nanti, mereka memakai jersi Liverpool.
Mane memiliki sahabat yang merupakan suporter Liverpool, bahkan sebelum dia menjadi bagian dari 'Si Merah'. Mane ingat pernah menyaksikan final Liga Champions 2005 dengan sahabatnya itu.
Eks pemain Southampton itu juga menjelaskan bahwa sang sahabat begitu kecewa karena ketika itu Liverpool tertinggal 0-3 di babak pertama. Dan kini, sang sahabat tak ingin Mane dan rekan-rekannya di lapangan, tertinggal dengan skor yang sama. Dia ingin Liverpool menang.
ADVERTISEMENT
Mane, Salah, dan Firmino di Liga Champions. (Foto: Francisco Leong/AFP)
"3-0, kemudian 3-3, dan penalti. Itu adalah kenangan besar untuk saya. Saya sedang menonton di desa saya. Saya ingat menontonnya bersama teman saya, teman yang hebat, dan saat skor 3-0, dia benar-benar keluar dari situ. Dia berhenti menonton dan berlari seperti orang gila," cerita Mane seperti dilansir The Guardian.
"Kemudian dia kembali di bagian akhir dan dia tak dapat memercayainya, bahkan sampai saat ini. Saya berbicara dengannya kemarin. Dia adalah penggemar berat Liverpool. Namanya adalah Youssouph Diatta. Dia meminta kepada saya bahwa jangan sampai kalah 0-3 kali ini."
"Tak seorang pun di desa akan bekerja di hari final. Keluarga saya masih tinggal di sana. Ibu dan paman saya juga. Mereka semua akan menonton. Ada 2.000 orang di desa. Saya membeli 300 jersi Liverpool untuk dikirim ke orang-orang di desa agar para penggemar dapat memakainya untuk menonton pertandingan final," tambahnya.
ADVERTISEMENT
Mane tak hanya ingin memberi hadiah jersi saja kepada masyarakat di desanya. Dia ingin, ketika kembali ke Bambali pada musim panas nanti, dia bisa membawa kado lain berupa medali juara Liga Champions. Pemain berusia 26 tahun itu percaya, meski tak diunggulkan, Liverpool punya kesempatan menang sama besarnya dengan Madrid.
Terlebih, dengan gaya permainan Liverpool yang atraktif dan agresif, plus apa yang sudah dilakukan tim besutan Juergen Klopp sepanjang musim ini, Mane percaya timnya punya beragam syarat untuk menjadi pemenang. Poin plusnya, Mane menjelaskan jika Liverpool juga tengah dalam kondisi terbaik.
Mane dan Salah merayakan gol. (Foto: REUTERS/Phil Noble)
"Akan baik untuk sepak bola [jika Liverpool menang] karena cara kami bermain. Saya tak bisa mengatakan sebagian besar dunia menginginkan itu, karena penggemar Real Madrid akan berkata sebaliknya. Mungkin semua orang yang bukan penggemar Madrid, Everton, Manchester United, dan Manchester City ingin kami menang," jelasnya.
ADVERTISEMENT
"Madrid memenanginya dua kali dan ingin ketiga beruntun. Kami menghormati mereka sebagai tim hebat yang punya sejarah hebat, tetapi Liverpool juga memiliki sejarah. Itu tak akan mudah, tetapi kami akan melakukan yang terbaik. Saya hanya berpikir luar biasa berada di final, bukan tentang tekanan. Saya hanya senang dan gembira. Ini adalah waktu terbaik bagi seluruh pasukan untuk bermain."
"Kami dalam kondisi terbaik; tidak ada kelelahan. Permainan semacam ini tidak terjadi sepanjang waktu dan itu adalah salah satu yang paling penting dari karier kami. Ini tidak akan mudah. Mereka memiliki pengalaman dan merupakan salah satu tim terbaik di dunia, tetapi kami memiliki kualitas dan dapat mengalahkan tim mana pun di dunia," pungkasnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan