De Ligt adalah Solusi Jangka Pendek dan Jangka Panjang bagi Juventus

Perburuan tanda tangan Matthijs de Ligt kemungkinan besar bakal segera rampung dan Juventus diprediksi akan keluar sebagai pemenang. Jurnalis Goal Italia, Romeo Agresti, pada Minggu (23/6/2019) telah mengabarkan perkembangan terbaru transfer bek muda asal Belanda tersebut.
Lewat akun Instagram-nya, Agresti berkata bahwa Juventus sudah menerima sinyal positif dari De Ligt. Kontak antara pihak-pihak terkait pun, menurut Agresti, sudah terlaksana pada hari yang sama. Berdasarkan info jurnalis The Guardian, Fabrizio Romano, Juventus siap menggaji De Ligt sampai 12 juta euro per musim. Kemudian, biaya transfer diperkirakan ada di kisaran 70 s/d 75 juta euro.
Sampai detik ini, nasib De Ligt memang belum final. Akan tetapi, sudah menjadi rahasia umum di kalangan pendukung Juventus bahwa Agresti dan Romano, bersama jurnalis Sky Italia, Gianluca Di Marzio, adalah sumber info yang paling bisa dipercaya. Ketika mereka sudah mewartakan hal yang sama, itu artinya potensi terjadinya transfer sudah mencapai 90%.
Pada titik ini, bolehlah kita semua berandai-andai bahwa, tanpa adanya kejutan di menit-menit akhir, De Ligt bakal bermain untuk Juventus musim depan. Kini, yang jadi pertanyaan, apakah kepindahan ini bakal menguntungkan semua pihak? Apa yang akan didapat Juventus dari De Ligt dan sejauh mana De Ligt bisa berkembang bersama Juventus?
***
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita perlu mengambil langkah mundur ke awal tahun 2019. Ketika itu babak gugur Liga Champions 2018/19 belum digelar dan, tentu saja, Juventus belum disingkirkan oleh Ajax pada ajang tersebut. Saat itu, potensi besar De Ligt belum sepenuhnya terlihat di sepak bola level teratas.
Pada saat itu pun Juventus sudah menunjukkan ketertarikan kepada De Ligt. Selain Juventus, ada pula Barcelona, Paris Saint-Germain, dan Manchester City yang muncul sebagai peminat. De Ligt memang belum betul-betul menunjukkan kepiawaiannya mengawal lini belakang pada sepak bola level tertinggi tetapi dengan begitu semua orang sudah tahu seberapa besar potensi pemain satu ini.
Kala itu Barcelona dijagokan untuk memenangi perburuan tanda tangan De Ligt. Salah satu hal yang menjadi dasar di balik keyakinan itu adalah keberhasilan Barcelona merekrut rekan setim sekaligus kawan karib De Ligt, Frenkie de Jong. Pada bursa transer musim dingin lalu Barcelona mengamankan jasa De Jong meskipun si pemain baru akan bergabung pada musim 2019/20.
De Ligt dan De Jong memang dilihat sebagai satu paket karena mereka berdua mencuat di saat nyaris bersamaan baik untuk Ajax maupun Timnas Belanda. De Jong pun dianggap bakal bisa mampu merayu De Ligt untuk berlabuh ke Camp Nou.
Akan tetapi, sampai sebelum semifinal UEFA Nations League lalu, De Ligt belum juga menentukan pilihan. Bek berusia 19 tahun itu berkata bahwa dirinya akan memilih destinasi berikut setelah turnamen berakhir. Pada waktu itu muncul pula nama Manchester United sebagai peminat.
Kini, Nations League sudah berakhir hampir sebulan yang lalu tetapi klub tujuan De Ligt belum juga ketahuan. PSG sendiri sempat memimpin perburuan ini karena mereka dikabarkan siap menggaji De Ligt 340 ribu euro per pekan. Bahkan, keluarga si pemain juga sudah dijamu oleh para petinggi klub di Paris. Namun, dalam beberapa hari terakhir, arah angin telah berubah.
Sekarang, Juventus yang berada di posisi terdepan. Sudah muncul detail-detail lebih rinci soal rencana transfer De Ligt ke juara Italia tersebut dan kepindahan sang pemain belakang sepertinya tinggal tunggu waktu.
Bagi Juventus, De Ligt adalah sosok sempurna. Dalam kurun waktu setahun terakhir, pada dasarnya mereka hanya memiliki sosok Giorgio Chiellini seorang sebagai bek tengah yang bisa diandalkan. Leonardo Bonucci tak lagi sama setelah kembali dari Milan, Medhi Benatia sudah angkat kaki karena tak mendapat menit bermain yang cukup, dan Andrea Barzagli sudah pensiun.
Juventus sebenarnya memiliki dua bek lain dalam diri Daniele Rugani dan Martin Caceres. Namun, Rugani dianggap terlalu lembek dan sudah tak mampu lagi memenuhi potensi besar yang dia miliki beberapa tahun silam. Sementara itu, Caceres sedari awal memang cuma ban serep. Bek asal Uruguay itu juga bukan spesialis bek tengah karena ada kalanya dia dimainkan di sisi kanan.
Artinya, kehadiran pemain seperti De Ligt sangatlah dibutuhkan Juventus. Manajemen Bianconeri sebenarnya sudah mengidentifikasi kelemahan ini dan sudah menunjukkan ketertarikan sejak setengah tahun lalu. Namun, memang baru kali ini mereka mendapat momentum untuk memenangi perburuan De Ligt.
Usia De Ligt masih 19 tahun tetapi dia sudah lebih baik daripada Bonucci, Rugani, dan Caceres. Bersama Chiellini, pemain yang sempat hampir jadi petenis itu bakal mendapat tandem sekaligus mentor yang kualitasnya tak perlu diragukan lagi. Masih ada beberapa kekurangan dalam permainan De Ligt seperti kemampuan tekel serta penempatan posisi, dan itu semua diperkirakan bakal membaik dengan bermain bersama Chiellini.
Selain faktor Chiellini, faktor Maurizio Sarri sebagai pelatih baru Juventus juga akan menguntungkan De Ligt. Sarri adalah pelatih yang tim asuhannya selalu membangun serangan dari belakang. Pemain seperti De Ligt inilah yang dibutuhkan oleh Sarri. Dia kuat, cepat, dan piawai mengolah bola. Di bawah asuhan Sarri, De Ligt punya potensi untuk jadi sehebat Kalidou Koulibaly.
Dari sini dapat terlihat bagaimana De Ligt dan Juventus akan saling menguntungkan satu sama lain. Akan tetapi, kedatangan De Ligt ini bakal menimbulkan masalah dalam sosok Bonucci. Bek 32 tahun itu secara khusus didatangkan kembali dari Milan untuk jadi pendamping Chiellini. Masalahnya, dengan kedatangan De Ligt, Bonucci bisa saja menjadi penghangat bangku cadangan.
Untuk Juventus sendiri, akan lebih menguntungkan apabila Bonucci dipertahankan. Meski begitu, apabila mantan bek Internazionale ini memang tidak mau jadi yang kedua, Juventus akan selalu bisa melegonya. Apalagi, La Vecchia Signora sendiri dikabarkan bakal segera mendapat dua bek muda, Merih Demiral dari Sassuolo dan Cristian Romero dari Genoa.
Jika De Ligt, Demiral, dan Romero datang semuanya ke Juventus, maka manajemen 'Si Nyonya Tua' harus melepas pemain-pemain lain. Dalam hal ini, langkah terbaik Juventus adalah melepas Bonucci serta Caceres. Bonucci harus dilepas karena gajinya cukup tinggi (7,5 juta euro per tahun), sementara Caceres perlu dilepas karena sejujurnya dia tak bisa menawarkan apa-apa lagi.
Jadi, demikianlah situasi Juventus dan De Ligt. Kesimpulannya, Juventus bakal memberi De Ligt kesempatan untuk berkembang dengan baik di lingkungan yang tepat. Selain Chiellini, Juventus juga memiliki mentor-mentor lain untuk De Ligt dalam diri Cristiano Ronaldo, Mario Mandzukic, dan Aaron Ramsey.
Lalu, kompetisi di Italia juga bakal memberi De Ligt ilmu lebih besar dibanding jika dirinya bermain di Ligue 1. Serie A musim depan diprediksi bakal semakin sengit seiring kedatangan Antonio Conte ke Inter. Bersama Napoli, Inter diperkirakan bakal jadi pesaing berat bagi Juventus. Selain itu, masih ada pula tim-tim macam Milan, Atalanta, Roma, dan Lazio. Tim-tim inilah yang tidak dimiliki Ligue 1.
Di sisi lain, De Ligt akan menjadi solusi masa kini dan masa depan bagi pertahanan Juventus. De Ligt saat ini sudah masuk kategori pemain top dan masih akan terus berkembang. Sosok seperti De Ligt, tentunya, akan makin mendekatkan Juventus pada mimpinya selama ini: Menjadi juara Liga Champions.
