kumparan
29 Agu 2019 16:24 WIB

In Memoriam: Bury FC

Syal Bury FC tergantung di pagar Gigg Lane. Foto: Reuters/Carl Recine
Rekor itu begitu sulit dilewati. Sampai 116 tahun kemudian pun ia baru bisa disamai. Tahunnya adalah 1903 ketika Bury FC mencatatkan rekor kemenangan terbesar di final Piala FA. Kala itu mereka sukses mengalahkan Derby County dengan skor mencolok 6-0.
ADVERTISEMENT
Rekor itu akhirnya disamai oleh Manchester City pada Mei 2019 lalu ketika menggulung Watford dengan skor identik. Bahwa rekor mereka baru bisa disamai oleh City, yang digelontor dana tak terbatas dari Abu Dhabi, 116 tahun setelah pertama kali dicatatkan, adalah bukti betapa agungnya Bury FC pada masa lampau.
Bury FC adalah salah satu klub tertua di Inggris. Mereka secara resmi berdiri pada 1885 lewat merger klub sepak bola milik dua gereja. Sembilan tahun kemudian, mereka terpilih menjadi salah satu peserta Football League dan status itu berhasil mereka pertahankan terus sampai akhir Agustus 2019.
Mei 2019, di saat Manchester City menjuarai Piala FA, Bury FC juga mendulang prestasi di lingkup yang lebih kecil. Mereka sukses kembali ke League One setelah terdegradasi pada musim 2017/18. Namun, promosi yang mereka dapatkan itu jadi tidak ada artinya karena kini mereka dilarang untuk berkompetisi di sana.
ADVERTISEMENT
27 Agustus lalu, EFL—penyelenggara Championship, League One, dan League Two—memutuskan bahwa Bury FC tak bisa ikut berkompetisi karena tidak mampu menghadirkan bukti kesanggupan finansial. Dengan kata lain, riwayat Bury FC tamat.
Bury FC baru bisa ikut berkompetisi lagi pada musim depan, itu pun tidak dengan namanya yang ada sekarang. Mereka harus menjadi klub feniks dengan badan hukum baru dan harus memulai segalanya dari level terendah piramida kompetisi sepak bola Inggris. Sejarah berusia 134 tahun itu seperti lenyap begitu saja.
Suporter Bury FC termenung di tribune Gigg Lane. Foto: Reuters/Carl Recine
Lalu, apa sebenarnya yang terjadi dengan Bury FC? Bagaimana mereka bisa sampai pada titik ini dan siapa yang bertanggung jawab untuknya? Apa artinya kematian mereka bagi persepakbolaan Inggris?
Bagi Bury FC, ini adalah sejarah yang berulang. Pada 2002 lalu mereka pernah berada pada situasi serupa tetapi kala itu mereka lebih beruntung karena ada sosok Neville Neville yang hadir sebagai penyelamat. Atas jasanya, nama pria yang meninggal pada 2015 lalu itu diabadikan dalam sebuah lagu suporter dan tribune stadion Gigg Lane.
ADVERTISEMENT
Keluarga Neville adalah bangsawan olahraga di kota Bury. Neville Neville yang dulunya merupakan pemain kriket itu menjabat sebagai direktur di Bury FC ketika sudah pensiun. Sementara itu, istrinya yang bernama Jill adalah sekretaris klub yang sudah mengabdi selama puluhan tahun.
Neville dan Jill memiliki tiga anak yang semuanya sukses jadi atlet besar. Gary dan Phil menjadi pesepak bola, Tracey berkiprah di olahraga netball. Pada 2002, Neville Neville meluncurkan kampanye untuk menyelamatkan Bury FC dari kebangkrutan.
Saat itu Bury FC dimiliki oleh seorang pengusaha bernama Terry Robinson. Mismanajemen membuat klub terlilit utang sampai 1,35 juta poundsterling saat itu. Dengan bunga yang mencapai 984 poundsterling per harinya, mereka terancam kehilangan Gigg Lane yang dijadikan jaminan utang oleh Robinson.
ADVERTISEMENT
Papan penunjuk jalan menuju Gigg Lane, kandang Bury FC. Foto: Reuters/Stringer
Robinson sendiri saat itu berjanji akan menjual Bury FC ke sebuah perusahaan bernama Mansport Developments. Akan tetapi, janji itu dia ingkari. Robinson pergi begitu saja untuk bergabung dengan Sheffield United sebagai seorang direktur dan kesepakatan jual beli tidak pernah tercapai.
Situasi itu mendorong Neville Neville untuk bergerak. Dia pun membuka crowdfunding yang turut melibatkan putranya, Phil. Saat itu Phil melelang kostum Timnas Inggris yang pernah dia kenakan dan berhasil mengumpulkan dana 80 ribu poundsterling untuk membantu proses penyelamatan Bury FC.
Singkat kata, upaya Neville Neville tadi berhasil. Bury FC pun diperkenankan untuk tetap berlaga di Football League meskipun harus terdegradasi ke Division Three (sekarang League Two) pada akhir musim. Namun, yang terpenting adalah mereka bisa bertahan di Football League.
ADVERTISEMENT
Sepuluh tahun kemudian masalah finansial kembali melanda mereka. Pada 2012 EFL menjatuhkan embargo transfer kepada Bury FC. Masalah ini disebabkan oleh rendahnya pendapatan akibat menurunnya jumlah penonton. Ini menjadi awal dari bencana yang menimpa Bury FC pada 2019.
Pada Mei 2013 Bury diambil alih oleh seorang pengusaha properti bernama Stewart Day. Kala itu Day mengklaim bahwa dirinya sudah menginjeksi 1,5 juta pounds untuk melunasi utang-utang klub. Dua tahun kemudian mereka meraup 85 poin di League Two, yang merupakan poin terbanyak dalam sejarah klub, untuk meraih promosi ke League One.
Kiprah Bury FC di League One itu membuat Day semakin bersemangat dalam menyuntikkan dana. Dia merekrut sejumlah nama besar seperti James Vaughan dan Jermaine Beckford untuk mendorong Bury meraih prestasi lebih baik lagi. Namun, proses rekrutmen itu justru meninggalkan masalah besar bagi keuangan klub.
ADVERTISEMENT
Suporter Bury FC meratapi kematian klub kesayangannya. Foto: Reuters/Carl Recine
Apa yang dilakukan Day, dengan merekrut pemain-pemain tenar itu, tidaklah sebanding dengan prestasi yang dicapai Bury FC. Bahkan, pada musim 2017/18, mereka finis sebagai juru kunci League One dan terdegradasi lagi ke League Two. Di sini masalah baru benar-benar tampak.
Ketika Bury FC meraih promosi ke League One pada Mei 2019, mereka ditangani oleh legenda klub bernama Ryan Lowe. Semasa aktif bermain dia mencetak 72 gol dari 179 penampilan dalam tiga kurun waktu berbeda. Lowe yang menjadi pelatih interim pada akhir musim 2017/18 akhirnya direkrut secara permanen pada musim berikutnya.
Kepada The Athletic, Lowe berkisah bahwa pada awalnya masalah di Bury FC tidak tampak serius. Saat pertama kali datang dia cuma tahu bahwa klub beroperasi dengan dana terbatas. Namun, dia tak mempermasalahkan hal itu dan tetap memimpin para pemainnya dengan motivasi tinggi.
ADVERTISEMENT
Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, Lowe menyadari ada sesuatu yang salah dari Bury FC. Mulanya, permasalahan hanya terbatas pada gaji yang datang terlambat. Namun, belakangan, gaji yang terlambat itu tidak datang sama sekali. Para pemain harus makan dari bank makanan sekitar, sementara jumlah staf klub semakin lama semakin berkurang.
Lowe akhirnya sadar bahwa Bury FC berada di ambang bencana finansial dan dia tidak salah. Pada 1 Desember 2018, Day secara resmi melepas Bury FC dengan harga 1 poundsterling kepada Steven Dale. Ini dilakukan karena Day memang sudah tidak memiliki harta lagi. Jangankan untuk menghidupi Bury FC, untuk menafkahi keluarganya saja dia kesulitan.
Day memiliki perusahaan properti bernama Mederco. Bisnis Day ini sempat berjaya berkat tingginya permintaan atas apartemen budget rendah di berbagai kota di Inggris utara dan tengah. Namun, Brexit 2016 merusak segalanya. Akibat Brexit, jumlah permintaan ini pun menurun.
ADVERTISEMENT
Suporter Bury FC dengan tato nama klub di lengannya. Foto: Reuters/Stringer
Di saat yang bersamaan, Day tidak bisa lagi meminjam uang pada bank-bank besar di Inggris sehingga dia harus mencari pinjaman dari Lendy, perusahaan simpan-pinjam yang dananya berasal dari crowdfunding. Lendy sendiri kemudian mengalami kebangkrutan sehingga tidak bisa lagi menyuntikkan dana kepada Mederco.
Celaka bagi Bury FC karena Mederco adalah salah satu sumber dana mereka. Menurut regulasi EFL, pemilik klub memang tidak boleh menyuntikkan dana segar kepada klub untuk membeli pemain tetapi dia bisa melakukannya dengan mengubah uang tadi jadi saham klub.
Itulah yang dilakukan oleh Day. Dengan demikian, ketika Mederco kolaps, dia tidak memiliki dana segar untuk membiayai Bury FC. Selain itu, Bury FC juga memiliki utang pada sebuah perusahaan bernama Capital Bridging Finance Solutions di mana Gigg Lane, lagi-lagi, jadi jaminan.
ADVERTISEMENT
Utang terhadap Capital itulah yang pelan-pelan membunuh Bury FC. Menurut David Conn dalam kolomnya di The Guardian, Bury FC punya utang senilai 3,7 juta pounds dengan bunga mencapai 1.500 pounds per harinya. Padahal, tidak semua uang utangan itu sampai di tangan Bury.
Day pertama kali berutang pada Capital pada Oktober 2017 dengan nilai 1,6 juta pounds. Akan tetapi, ada 640 ribu pounds yang tidak pernah diterima oleh Bury FC. Alasannya, karena Capital membayarkan itu kepada pihak ketiga yang tidak diketahui namanya sebagai 'biaya pengenalan'.
Suporter Bury FC dengan bendera St. George's Cross di pelataran Gigg Lane. Foto: Reuters/Carl Recine
'Biaya pengenalan' itu sedianya digunakan untuk mencari investor baru bagi Bury FC. Namun, upaya ini pada akhirnya tak pernah ada hasilnya. Day sebenarnya tahu bahwa utang ini tidak menguntungkan tetapi dia tetap mau menerimanya karena bunga yang diajukan pihak Capital cukup rendah, yaitu 6%.
ADVERTISEMENT
Nyatanya, utang dari Capital itu sama sekali tidak membantu Bury FC hingga akhirnya Day harus menyerahkan klub kepada Dale dengan harga 1 pounds tadi. Di sini masalah baru muncul karena Dale rupanya tidak pernah mengikuti tes kelayakan sebagai pemilik klub EFL.
Dalam kasus ini regulasi EFL memang bermasalah karena tidak ada aturan spesifik mengenai pemilik klub yang datang di tengah musim. Dengan kata lain, siapa pun boleh masuk sebagai pemilik di pertengahan musim seperti Dale yang ternyata merupakan spesialis pengambil alih perusahaan yang hampir bangkrut.
Di bawah Dale, tidak ada kemajuan apa pun yang dialami Bury FC. Selain merumahkan karyawan, dia juga tidak membayar gaji pemain dan pelatih. Dale hanya mencari cara bagaimana Bury FC bisa mengajukan kebangkrutan sesuai dengan aturan yang ada.
ADVERTISEMENT
Sebenarnya, Dale bisa saja menjual Bury FC tetapi itu tidak pernah dia lakukan. Dale baru mau melego klub di saat-saat terakhir ketika sebuah perusahaan baru dari London, C & N Sporting Risk, datang mengetuk. Namun, C & N Sporting Risk akhirnya memutuskan untuk menarik diri.
Alasan terkuat di balik pembatalan dari C & N Sporting Risk itu adalah utang Bury FC terhadap Capital di mana Gigg Lane menjadi jaminannya tadi. Dengan demikian, sampai tenggat waktu yang diberikan oleh EFL, yaitu 27 Agustus 2019, Bury FC tetap tidak bisa memberi jaminan kesanggupan finansial. Akhirnya, Bury FC pun ditendang dari rumah yang sudah mereka tinggali sejak 125 tahun lalu.
Pamflet berisi kemarahan suporter Bury FC. Foto: Reuters/Carl Recine
Apa yang menimpa Bury FC ini adalah sebuah pengingat bahwa persepakbolaan Inggris sebenarnya tidak baik-baik saja. Ya, Premier League memang merupakan raksasa industri yang begitu memanjakan para penikmatnya. Akan tetapi, di balik gemerlap kompetisi itu, ada kisah-kisah pilu seperti yang dialami oleh Bury FC.
ADVERTISEMENT
Tak jauh dari Bury FC, ada pula Bolton Wanderers, klub Greater Manchester lain, yang hampir menemui nasib serupa. Untungya, klub yang pernah diperkuat Jay-Jay Okocha dan Fernando Hierro itu berhasil menemukan pembeli untuk menyelamatkan klub.
Dalam analisisnya yang lain, Conn menyinggung soal mudahnya akses transportasi di Greater Manchester untuk mencapai Etihad Stadium dan Old Trafford. Kemudahan akses ini membuat banyak pendukung Bury sendiri lebih memilih menyaksikan Manchester City dan United ketimbang Bury FC.
Artinya, klub-klub besar di Inggris memang serba diuntungkan. Sudah mendapat gelontoran dana melimpah dari pemilik dan penggemar yang berada di luar negeri, mereka juga masih diuntungkan dengan pembangunan infrastruktur yang tidak peka tadi.
Dengan demikian, klub-klub kecil pun semakin kerdil. Dalam kasus tertentu, seperti Bury FC, mereka tidak cuma menjadi kerdil tetapi jadi benar-benar tidak terlihat sampai akhirnya mati. Kematian Bury FC ini makin terasa menyakitkan karena kota Bury sendiri tengah mengalami resesi, di mana mereka kehilangan anggaran sampai 85 juta pounds.
ADVERTISEMENT
Bagi persepakbolaan Inggris sendiri, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan kecuali memetik pelajaran dari sini. Regulasi harus diperketat supaya tidak ada lagi celah-celah yang bisa dimanfaatkan. Hanya dengan cara ini Bury FC-Bury FC yang lain bisa diselamatkan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan