Inter Lahir dari Persaudaraan, Tak Semestinya Diracuni Rasialisme

Suporter adalah pemain ke-12, katanya. Karena suporter juga, klub sepak bola dan industrinya bisa hidup --yang ini adalah fakta. Maka wajar dalam sepak bola, tindakan suporter selalu dikaitkan dengan klub. Sayangnya, tidak semua tindak-tanduk suporter itu positif.
Ejekan adalah satunya. Well, ejekan memang lazim di dunia sepak bola dan banyak juga yang sifatnya tidak menyakiti. Namun, layaknya genre nyanyian suporter, ada saja berbagai chant ofensif untuk mengejek rival kala bertanding.
Baru-baru ini, sorakan rasialisme suporter Inter Milan mencoreng nama klub. Lebih dari sekadar aksi, rasialisme yang dilakukan suporter Inter terhadap bek Napoli, Kalidou Koulibaly, adalah ironi.
Inter mencederai budayanya sendiri. Rasialisme adalah negasi dari nilai persaudaraan internasional yang menjadi akar lahirnya klub asal Milan ini. Pun rasialisme di nyanyian suporter yang masuk kategori verbal violence, menjadi satu hal yang dilarang dalam Kode Etik No.2 terkait rules of behavior in sports activity alias aturan beraktivitas bagi anggota klub.
Maka tak aneh, Napoli lewat sang pelatih, Carlo Ancelotti, begitu geram kala Koulibaly yang bertamu ke San Siro disambut hinaan pada laga Kamis (27/12/2018) dini hari WIB. Tenang Il Signore, Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) sudah bertindak dan menghukum Inter dengan dua laga kandang tanpa suporter.
Inter sendiri telah mengeluarkan pernyataan tegas bahwa rasialisme bukan budaya klub. Jadi, kami mencoba membantu Nerazzurri untuk mengingatkan kembali apa budaya mereka, sebuah nilai Internazionale alias internasional, yang juga menjadi dasar nama klub yang bermarkas di Milan, Italia, ini.
Dikutip dari laman resminya, FC Internazionale Milano awalnya adalah klub sepak bola berseragam hitam dan putih yang beranggotakan orang Italia dan imigran asal Swiss. Pada 9 Maret 1908, agenda berkumpul dan makan malam dekat Cathedral sekaligus menjadi perkenalan pertama para anggota dengan lencana berwarna hitam, biru, dan emas, karya seniman bernama Muggiani.

Lantas, para Founding Fathers itu semakin serius ingin bermain sepak bola layaknya orang-orang Inggris. Karena tidak semua merupakan warga lokal Italia, mereka berdiri di atas paham persaudaraan internasional. 'Brothers of the World', begitu yang ditulis dalam statuta mereka.
Puluhan dekade terlewati, Inter telah menjadi sebuah klub yang punya jutaan penggemar dari seluruh dunia dengan berbagai bahasa. Lencana hitam-biru-emas itu masih menjadi kebanggaan. Mereka, dalam laman resminya, menuliskan akan selalu memperjuangkan kebaikan di dunia. Untuk membuat Inter hebat, dulu maupun saat ini.
"Sudah banyak nama dalam perjalanan panjang kami. Mulai pemain, pelatih, direktur, presiden, hingga keluarga Moratti. Berkembang ke seluruh dunia dengan bahasa, ras, agama, dan tradisi yang berbeda, semua disatukan dengan keyakinan yang sama. Hitam dan birunya pengujung malam, dengan percikan emas. Dan ini semua bermula di malam 9 Maret 1908 itu," begitu tulisan di klub saat merayakan ulang tahun pada 2011 silam.
Kini, nilai persaudaraan internasional semakin berkembang banyaknya program klub, diantaranya Inter Campus yang membantu anak-anak terlantar. Ada juga Inter Forever, tim yang menyatukan para pemain legenda untuk berdonasi dan menyebarkan budaya tanpa batasan-batasan.
Dan, rasialisme suporter --kelompok yang seharusnya begitu mencintai Inter, juga kontradiksi dari kampanye #TweetOffRacism pada 21 Maret lalu bertepatan hari Anti-Diskriminasi Ras Sedunia. Tahun ini, kampanye #TweetOffRacism ditujukan kepada anak-anak sekolah dan klub olahraga untuk mengajarkan budaya toleransi, anti diskriminasi dan rasialisme.
‘Lo tifo positivo’ (saya mendukung hal positif), begitu kampanye yang telah digencarkan Inter bertahun-tahun itu. "Inter lahir dengan sejarah persaudaraan dalam darahnya. Kita adalah saudara sedunia. Pendiri kami meninggalkan pesan itu 110 tahun lalu dan akan kami bawa selamanya," ujar Javier Zanetti, 21 Maret 2018.
Dan, untuk tindakan rasialisme suporter pada pertandingan melawan Napoli, 26 Desember 2018, di kandang sendiri, yang utamanya mencederai budaya klub selama lebih dari seabad ini, klub telah memberikan pernyataan resmi. Secara tersirat, suporter yang melakukan rasialisme tidak diakui sebagai bagian dari Inter.
"Terkait pertandingan Inter lawan Napoli, klub ingin menegaskan lagi bahwa sejak 9 Maret 1908, Inter merepresentasikan integritas dan keramahan. Bersama-sama, kami telah berjuang untuk menghilangkan diskriminasi."
"Kami berusaha menyebarkan nilai yang kami anut sekaligus menjadi kebanggaan klub. Inter hadir di 29 negara, mulai Kamboja hingga Kolombia, bekerja dengan ribuan anak-anak di Inter Campus, yang juga diakui oleh Perserikatan Bangsa Bangsa."
"Sejak malam pada 110 tahun lalu ketika pendiri Inter memulai perjalanan ini, kami selalu menolak tegas diskriminasi. Maka kami sekali lagi merasa harus mengingatkan bahwa siapa pun yang tidak memahami atau menerima sejarah klub, bukan bagian dari klub," demikian pernyataan klub.
So, pendukung Inter... Sudah ingat lagi identitas asalmu?
